BBPOM Sosialisasi Pencegahan Bahan Berbahaya pada Produk Pangan

id kerupuk

BBPOM Sosialisasi Pencegahan Bahan Berbahaya pada Produk Pangan

Ilustrasi - Pekerja melakukan proses penjemuran kerupuk di sentra industri makanan tersebut di Kadipiro, Solo, Rabu (7/11). (FOTO ANTARA/Akbar Nugroho Gumay/tom/12)

Kebumen, ANTARA JATENG - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan berkantor di Semarang menyosialisasikan pencegahaan penggunaan bahan berbahaya pada produk pangan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, guna menjamin kelayakan konsumsi masyarakat.

"Saat ini penyalahgunaan bahan makanan berbahaya masih ditemukan pada pangan, terutama industri rumah tangga dan jajanan anak sekolah," kata Kepala BBPOM Endang Pudjiwati dalam kegiatan itu di Desa Gunungsari, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, sebagaimana keterangan tertulis Humas Pemkab Kebumen yang diterima, Sabtu.

Ia mengemukakan penyalahgunaan bahan tersebut, selain karena rendahnya kepedulian masyarakat terhadap keamanan pangan, juga karena kemudahan mereka memperoleh bahan tersebut di pasaran.

Harga bahan-bahan tersebut, katanya dalam kegiatan yang antara lain dihadiri Wakil Bupati Kebumen K.H. Yazid Mahfudz dengan peserta sekitar 60 produsen kerupuk di tiga desa di Kecamatan Karanggayam, yakni Gunungsari, Selogiri, dan Kalibening itu, relatif murah dan fungsinya yang efektif untuk menghasilkan efek produk pangan yang diinginkan.

Ia meminta para produsen lanting (makan tradisional setempat) dan kerupuk di daerah selatan Jawa Tengah itu, menghindari penggunaan bahan berbahaya untuk usaha produksinya.

"Gunakan pewarna buatan yang aman, yaitu zat pewarna untuk pangan sehingga tidak mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh," ujarnya.

Pada kesempatan itu, juga diserahkan bantuan berupa bahan pewarna yang dianjurkan BBPOM kepada produsen kerupuk di daerah tersebut.

Ia menjelaskan dampak kesehatan yang tidak langsung terlihat atau dirasakan masyarakat menjadi faktor penguat bagi pelaku usaha pangan untuk mengubah cara produksinya menjadi lebih sehat.

"Dari sosialisasi ini diharapkan dapat terjadi perubahan kesadaran masyarakat produsen kerupuk agar tidak terjadi penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan. Mereka menjadi tahu dan mau menggunakan pewarna pangan yang layak dan tidak berlebihan dalam pemakaiannya," katanya.

Berdasarkan pantauan petugas di lapangan, ujarnya, masih dijumpai kerupuk dengan bahan pengawet yang tidak aman dan membahayakan kesehatan tubuh, seperti pemakaian Rhodamen B.

"Seperti pemakaian Rhodamen B pada kerupuk, sangat berbahaya karena bahan pangan itu adalah jenis bahan pewarna tekstil," katanya dalam kegiatan pada Jumat (11/8) itu.

Wabup Mahfudz meminta para produsen kerupuk menghindari pemakaian bahan-bahan pangan berbahaya bagi kesehatan manusia pada produknya, apalagi dengan tujuan yang hanya untuk mengejar keuntungan yang lebih besar.

"Misalnya mengunakan zat pewarna berbahaya agar kerupuk kelihatan `ngejreng`(menarik, red.). Dalam jangka pendek mungkin cara ini efektif. Tapi dalam jangka panjang justru akan merugikan, karena bisnis sekarang ini sangat tergantung dengan kepercayaan. Sekali produk kita diketahui mengandung bahan berbahaya maka kepercayaan masyarakat akan hilang. Dan sulit sekali untuk memulihkannya. Kita juga yang rugi," katanya.

Kegiatan serupa juga dilaksanakan di Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen pada Kamis (01/8) dengan peserta sekitar 160 pembuat lanting, baik yang secara kontinyu berproduksi maupun musiman. Para produsen makanan itu tersebar di sejumlah desa, seperti Lemahduwur, Harjodowo, Madureso, dan Kuwarasan.

Pewarta :
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar