
Ketum GEKRAFS Salatiga dorong ekosistem inklusif dan akses global

Salatiga (ANTARA) - Ketua DPC GEKRAFS Kota Salatiga Dyah Ayu Pitaloka mendorong ekosistem inklusif dan akses global untuk ekonomi kreatif.
Dyah di Salatiga, Jawa Tengah, Sabtu menilai ekonomi kreatif tidak melulu tumbuh dari modal finansial yang besar. Menurutnya, potensi besar justru sering kali lahir dari ide-ide sederhana di lingkungan sekitar yang dioptimalkan menggunakan teknologi.
“Teknologi itu akhirnya menjadi kekuatan dari masyarakat. Kalau dijadikan sesuatu, itu bukan sesuatu yang jauh dari kita. Ia ada di sekitar kita dan muncul dari anak-anak yang hari ini mungkin sedang membuat sesuatu dari kamar mereka, dari sebuah laptop, dari sebuah kamera, dari sebuah dapur kecil, atau dari sebuah ide yang belum banyak orang lihat,” katanya.
Ia menegaskan tugas utama GEKRAFS Kota Salatiga adalah mengawal gagasan-gagasan tersebut agar tidak berhenti sebatas ide, melainkan dapat bertransformasi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Untuk mencapai hal tersebut, Diah menekankan pentingnya ruang komunikasi yang terbuka serta kolaborasi erat antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha agar ekosistem ekonomi kreatif dapat tumbuh berkelanjutan.
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam membangun iklim ekonomi yang merata, kepengurusan Diah Ayu Pitaloka menghadirkan program YOUTHEM (Youth Empowerment and Thematic Inclusion Movement / Youth and Inclusive Talent Mobilization). Program ini berfokus pada pembentukan ekosistem inklusif dengan merangkul kelompok rentan secara sosial dan ekonomi.
Melalui YOUTHEM, GEKRAFS Kota Salatiga menggulirkan Bisabilitas Creative Workshop sebagai wadah pelatihan keahlian bagi penyandang disabilitas. Pada saat yang sama, penguatan kapasitas perempuan difasilitasi melalui Female Entrepreneurship Hub yang membina subsektor unggulan seperti busana dan kuliner.
Untuk memastikan standar kualitas dan daya saing SDM lokal, dikatakannya, program ini juga mengintegrasikan Sertifikasi Profesi Regional yang diselenggarakan berkolaborasi dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Sementara itu, potensi besar Salatiga dan kepemimpinan Dyah Ayu Pitaloka turut mendapat apresiasi langsung dari pimpinan GEKRAFS tingkat wilayah dan pusat. Bahkan sebelum pelantikan resmi dilangsungkan, Diah telah aktif membawa produk-produk kreatif asal Salatiga ke jejaring internasional, salah satunya dalam agenda pendampingan di Malaysia.
Ketua DPW GEKRAFS Jawa Tengah Berty Diah Rahmana mengungkapkan keyakinannya DPC GEKRAFS Kota Salatiga mampu menjadi pengurus yang paling aktif di Jawa Tengah.
Berty melihat Salatiga memiliki daya tarik dan potensi besar sebagai kota anak kreatif, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas melalui jaringan internasional GEKRAFS di berbagai negara seperti China dan Hong Kong, hingga potensi kolaborasi sister city.
Sementara itu, Ketua Umum DPP GEKRAFS H. Kawendra Lukistian menekankan keanekaragaman masyarakat Salatiga yang sering dijuluki sebagai "Indonesia Mini" merupakan modal sosial yang sangat berharga. Kawendra mengapresiasi gagasan untuk menjadikan Salatiga sebagai giant rest area yang nyaman, sebuah konsep yang dinilai mampu membuka ruang usaha baru bagi para pelaku kreatif.
Kawendra menjelaskan GEKRAFS saat ini memiliki jaringan yang tersebar di 38 provinsi, sekitar 300 kabupaten/kota, serta perwakilan di 18 negara. Jejaring luas ini membuka kesempatan besar bagi pengurus GEKRAFS Kota Salatiga untuk membangun kolaborasi bisnis, memanfaatkan akses permodalan, serta mengoptimalkan berbagai dukungan kebijakan pemerintah di sektor ekonomi kreatif.
Melalui sinergi seluruh pihak, kepengurusan baru di bawah Diah Ayu Pitaloka diharapkan mampu menjadikan kreativitas sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi di Kota Salatiga.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
