Logo Header Antaranews Jateng

Menghidupkan teologi hijau: rekonstruksi kurikulum agama untuk penyelamatan bumi

Jumat, 2 Oktober 2026 16:05 WIB
Image Print
Balgis Nada, Mahasiswa Magister PAI UMS. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Krisis iklim global yang kita hadapi hari ini bukan sekadarpersoalan sains, teknologi, atau kegagalan kebijakan pembangunan. Secara mendasar, degradasi lingkungan yang kian masif merupakan refleksi konkret dari krisis kesadaranmoral dan spiritual manusia.

Cara pandang antroposentris sekuler yang memposisikan alam semesta semata-mata sebagai objek eksploitasi tanpa batas etika ketuhanan telah merusak tatanan bumi.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi luar biasa untuk memimpin gerakan pelestarian lingkungan berbasis nilai keagamaan.

Sayangnya, kita menyaksikan adanya jurang pemisah yang lebar antara pengetahuan agama dan tindakan nyata di lapangan (value-action gap). Banyak siswa yang mampu menghafal dalil-dalilsuci tentang kebersihan atau larangan membuat kerusakan di bumi, namun perilakunya sehari-hari masih jauh dari adab ekologis.

Mereka membuang sampah sembarangan, mencampur sampah organik dan anorganik, serta boros dalam memanfaatkan air dan energi.

Mengapa kesenjangan initerjadi?
Jawabannya terletak pada desain kurikulum pendidikan yang kita rancang. Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berjalan saat ini umumnya masih didesain secara kognitif-normatif dan administratif. Pembelajaran agama seringkali terjebak dalam metode ceramah klasik yang teoretis dan terpisah dari realitas ekologis siswa.

Isu lingkungan hidup kalaupun ada, hanya ditempatkan sebagai materi suplemen yang bersifat insidental dan sangat bergantung pada inisiatif atau karisma personal guru tertentu (person-centered approach). Ketika guru pelopor tersebut berpindah tugas, program lingkungan di sekolah sering kali mengalami stagnasi (sustainability gap).

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, dibutuhkan reformasi mendasar pada dimensi etika dan spiritualitas pendidikan melalui rekonstruksi kurikulum yang integratif dan sistematis. Salah satu pendekatan dan solusi konkret adalah pengintegrasian konsep Eco-Spiritual Literacy (ESL) ke dalam kurikulum pendidikan Islam.

ESL secara epistemologis adalah sintesis pemikiran ekologis kontemporer seperti konsep literasi ekologis Fritjof Capra tentang jaring kehidupan (web of life) dengan konsep literasi spiritual Parker Palmer tentang dimensi batin (inner landscape), yang kemudian disempurnakan di bawah naungan worldview tauhid Islam.

Melalui kerangka ini, kesadaran ekologis didefinisikan ulang sebagai tanggung jawab sakral manusia sebagai khalfah fil-ar (pengelolabumi) yang wajib menjaga keseimbangan kosmik (mzn) dan melestarikan lingkungan (if al-b’ah) sebagai bentuk ibadah nyata kepada Allah SWT.

Bagaimana membumikan teologi hijau ini dalam praktik kurikulum sekolah secara nyata? Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi kurikulum berbasis ESL harus menyentuh empat komponen inti kurikulum secarasistemik dan terinstitusionalisasi (system-centeredframework):

Pertama, Pentahapan Tujuan Lintas Jenjang. Kompetensi ekologis-spiritual tidak boleh disamaratakan untuk semua usiaanak, melainkan harus dirumuskan secara terukur sesuai fase perkembangan psikologisnya. Untuk klaster bawah (Kelas 1-2SD), fokusnya adalah pembentukan rasa takjub (wonder) dan syukur (shukr) terhadap keindahan alam ciptaan Allah melalui pengenalan lingkungan sekitar.

Pada klaster tengah (Kelas 3-4SD), fokus bergeser pada penalaran spiritual dan konsep keseimbangan (mzn), di mana siswa mulai dilatih mengidentifikasi dampak perilaku konsumsi mereka terhadap kebersihan lingkungan. Sementara pada klaster atas (Kelas 5-6), siswa ditargetkan mencapai tingkat kepemimpinan ekologis (eco-leadership) dengan merancang dan memimpin proyek konservasi sederhana di sekolah atau rumah atas dasar motivasi tauhid yang murni.

Kedua, Restrukturisasi Materi Ajar Tanpa Dikotomi. Kita harus menghapus sekat pemisah antara ilmu agama dan sains ekologi. Dalil-dalil tekstual Al-Qur'an dan Hadis seperti konsep mzn Q.S. Ar-Ramn/55: 7-9, larangan fasd (kerusakan) Q.S. Ar-Rm/30: 41, dan peran khalfah Q.S. Al-Baqarah/2: 30 harus diikat secaraeksplisit dengan aktivitas gaya hidup hijau (green lifestyle) di lapangan dalam satu dokumen modul ajar yang integratif.

Sebagai contoh, pembelajaran sifat Allah Al-Khliq (Maha Pencipta) dan Al-Bad' (Maha Merancang Keindahan) dikonkritkan melalui kegiatan berkebun atau eksplorasi estetika alam di kebun sekolah. Penghematan air wudu dikaitkan langsung sebagai prasyarat kesempurnaan ibadah ritual. Dengan demikian, materi teologi bertransformasi menjadi panduan etika ekologis yang hidup.

Ketiga, Pelembagaan Strategi Pembelajaran BerbasisSiklus 4T. Metode pembelajaran harus bergerak dari ruang kelas yang kaku menuju pengalaman langsung di alam terbuka (experiential learning).

Strategi ini dirumuskan dalam siklus ekologis-spiritual 4T yang sistematis:
1. Tatap (Sensory Discovery): Siswa diajak mengamati dan merasakan detail objek alam (tanah, daun, semut) menggunakan panca indra sebagai ayat-ayat kauniyah(tanda kebesaran Allah).
2. Terap (Physical Action): Siswa melakukan aksi fisiknyata, seperti memilah sampah organik dan anorganik atau menanam bibit pohon.
3. Terapkan (Behavioral Habituation): Menjadikan aksiramah lingkungan sebagai kebiasaan harian yang terinstitusionalisasi (seperti makan siang tanpa sisa, membawa tumbler, dan piket konservasi air).
4. Tafakur (Theological Reflection): Siswa dipandu melakukan refleksi batiniah yang mendalam untuk mengaitkan pengalaman fisik mereka dengan kesadaran teologis, membangun pemahaman bahwa menjaga alamadalah bentuk ketundukan kepada Sang Pencipta.

Keempat, Penyusunan Rubrik Evaluasi Autentik Holistik. Evaluasi pembelajaran tidak boleh lagi hanya mengandalkan tes tertulis berupa lembar angka yang kering. Sistem penilaian harus diubah menggunakan rubrik deskriptif yang menyatukan tiga dimensi utama: knowing (kognitif-teologis/pemahaman dalil dan sains lingkungan), being (afektif-spiritual/kepekaan moral dan kepedulian terhadap makhluk hidup lain), serta doing (psikomotorik-praksis/konsistensi perilaku ramahlingkungan sehari-hari).

Instrumen mandiri seperti Journal of Daily Adab digunakan untuk mendeteksi apakah perilaku ramah lingkungan muncul karena kesadaran spiritual batiniah (hablum minal 'alam), bukan sekadar karena takut dihukum piket oleh guru.

Selain rekonstruksi keempat komponen di atas, hal yang paling krusial untuk menjamin keberlanjutan inovasi kurikulum ini adalah pelembagaan sistemik. Melalui model konversi pengetahuan SECI (Sosialisasi, Eksternalisasi, Kombinasi, Internalisasi), seluruh praktik lisan dan kearifan lokal guru pelopor harus didokumentasikan menjadi aset tertulis lembaga. Dengan demikian, ketika terjadi pergantian guru, sistem kurikulum ramah lingkungan ini tetap berjalan secara kokoh dan mandiri.

Pada akhirnya, rekonstruksi kurikulum PAI berbasis Eco-Spiritual Literacy bukan sekadar perubahan teknis-administratif, melainkan sebuah kebutuhan epistemologis dan struktural. Melalui integrasi teologi dan ekologi ini, lembaga pendidikan Islam dapat mencetak generasi eco-citizen: hamba Allah yang taat sekaligus khalifah bumi yang bertanggung jawab aktif menjaga kelestarian planet ini.

Sudah saatnya sekolah-sekolah kita tidak hanya melahirkan generasi yang fasih melafalkan ayat suci, tetapi juga generasi yang tangannya dengan lembut merawat dan menyembuhkan bumi ciptaan-Nya.

*Mahasiswa Magister PAI UMS



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026