Logo Header Antaranews Jateng

UGM gali pengetahuan lokal mitigasi bencana dalam toponimi di perbatasan Jateng - Jabar

Kamis, 3 September 2026 12:49 WIB
Image Print
Tim saat melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) (HO-FIB UGM)

Semarang (ANTARA) - Tim peneliti Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan eksplorasi pengetahuan lokal tentang mitigasi bencana yang tersimpan dalam toponimi di kawasan perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat. Penelitian tersebut didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui skema Penelitian Fundamental-Reguler (PFR) BIMA dengan nilai pendanaan sebesar Rp123.590.000.

Penelitian yang berjudul “Eksplorasi Pengetahuan Lokal tentang Mitigasi Bencana dalam Toponimi di Kawasan Perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat: Studi Linguistik Antropologis” tersebut dilaksanakan untuk mengeksplorasi dan mendokumentasikan pengetahuan lokal masyarakat yang tersimpan dalam nama-nama tempat, khususnya pengetahuan yang berkaitan dengan kondisi lingkungan dan mitigasi bencana. Pendanaan penelitian ini berdasarkan Surat Keputusan Nomor 196/KPA/C3/KPT/2026 serta Nomor Perjanjian (Kontrak Induk dan Kontrak Turunan) 225/C3/DT.05.00/PL-BARU/2026 dan 1259/UN1/DITLIT/Dit-Lit/PT.01.03/2026.

Tim penelitian terdiri atas Prof. Dr. Suhandano, M.A. selaku ketua peneliti sekaligus Ketua Departemen Bahasa dan Sastra FIB UGM; Dr. Aprillia Firmonasari, S.S., M.Hum., DEA. dan Dr. Tatang Hariri, M.A., dosen Program Studi Magister Linguistik FIB UGM; Triyanto, M.Hum., mahasiswa Program Studi Ilmu-ilmu Humaniora FIB UGM; serta Dini Gilang Sari, M.A. dan Adinda Puspa Nur Faiz, M.A., alumni Prodi Magister Linguistik FIB UGM.

Sebagai bagian dari rangkaian penelitian, tim juga melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) sekaligus kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 22 Agustus 2026 di Cilacap dan 23 Agustus 2026 di Brebes dengan melibatkan masyarakat lokal dan tokoh masyarakat di kawasan penelitian.

FGD tersebut diarahkan tidak hanya untuk menggali informasi mengenai asal-usul, makna, dan sejarah berbagai toponimi, tetapi juga untuk melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya toponimi sebagai arsip pengetahuan lokal tentang mitigasi bencana. Melalui nama-nama tempat, masyarakat dapat menyimpan dan mewariskan informasi mengenai sumber air, bentang alam, vegetasi, kondisi tanah, pola permukiman, serta pengalaman masyarakat dalam menghadapi lingkungan dan berbagai potensi bencana.

Prof. Dr. Suhandano, M.A., mengatakan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa masyarakat lokal memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai lingkungan tempat mereka hidup.

“Kami meyakini bahwa Bapak/Ibu sebagai masyarakat lokal memiliki pengetahuan yang mendalam tentang mitigasi bencana, ekologi lokal, dan lingkungan di wilayah ini. Kami hadir di sini untuk belajar tentang semua itu dari Bapak/Ibu. Semoga pengetahuan yang kita diskusikan bersama tidak berhenti hanya sebagai pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan, tetapi dapat didokumentasikan, diwariskan, dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat pada masa mendatang,” ujar Suhandano.

Menurut Suhandano, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sarana untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengetahuan yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Dengan demikian, pengetahuan lokal yang selama ini diwariskan secara turun-temurun dapat terdokumentasikan tanpa kehilangan konteks budaya dan lingkungan yang melatarbelakanginya.

Sementara itu, Dr. Mahmud Fasya, S.Pd., M.A. dari Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI), yang hadir sebagai narasumber FGD, merupakan peneliti yang menekuni kajian hubungan antara bahasa, budaya, dan masyarakat, dengan perhatian khusus pada eksplorasi pengetahuan lokal Sunda yang terwujud dalam penggunaan bahasa.

Perspektif tersebut digunakan Mahmud untuk melihat toponimi sebagai salah satu bentuk ekspresi pengetahuan masyarakat yang merekam karakteristik lingkungan, kehidupan sosial budaya, serta cara masyarakat memahami dan mengelola ruang hidupnya.

Mahmud menjelaskan bahwa toponimi memiliki hubungan erat dengan karakteristik lingkungan dan sosial budaya masyarakat.

“Toponimi lokal biasanya merekam karakteristik lingkungan dan sosial budaya setempat yang bermuara pada prinsip zonasi lokal tentang tata ruang dan tata kelola lingkungan. Toponimi lokal jangan hanya menjadi ‘fosil linguistik’ yang hanya tinggal nama tanpa isi karena terjadinya alih fungsi lahan dan perubahan vegetasi,” ungkap Mahmud.

Mahmud menegaskan bahwa perubahan lanskap, termasuk alih fungsi lahan dan perubahan vegetasi, dapat menyebabkan konteks ekologis yang melatarbelakangi penamaan suatu tempat semakin sulit dikenali. Karena itu, dokumentasi terhadap toponimi perlu dilakukan bersama dengan pengetahuan masyarakat yang menjelaskan alasan, sejarah, dan kondisi lingkungan di balik nama tersebut.

Gagasan mengenai pentingnya menjaga lingkungan juga mendapat perhatian dari masyarakat. Kepala Desa Panulisan Timur, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap Hariyanto menekankan bahwa sumber daya lingkungan, khususnya sumber air, perlu dijaga agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

“Yang harus kita wariskan kepada anak cucu bukan air mata, melainkan mata air. Karena itu, lingkungan dan sumber-sumber air yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.”

Pernyataan tersebut menjadi refleksi mengenai pentingnya menjaga keberadaan sumber daya alam sekaligus pengetahuan masyarakat yang berkaitan dengannya. Hariyanto juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim peneliti yang telah hadir dan memberikan ruang kepada masyarakat untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai lingkungan di wilayah mereka.

Menurut Hariyanto, kegiatan seperti ini penting karena dapat mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa lingkungan tempat mereka hidup memiliki sejarah dan pengetahuan yang perlu dipahami serta diwariskan. Ia berharap hasil penelitian dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga pengetahuan lokal agar tidak hilang.

Apresiasi serupa juga disampaikan Karta Atmanegara, tokoh masyarakat Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes. Ia menilai bahwa nama-nama tempat yang hidup di tengah masyarakat menyimpan cerita, pengalaman, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

“Nama-nama tempat yang ada di masyarakat bukan sekadar nama, melainkan juga ada cerita, pengalaman, dan pengetahuan orang-orang terdahulu tentang wilayah ini. Kalau tidak kita kenalkan kepada generasi muda, lama-kelamaan mereka mungkin hanya mengetahui namanya, tetapi tidak lagi memahami alasan mengapa tempat itu dinamai demikian.”

Karta juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim peneliti karena telah memberikan perhatian terhadap pengetahuan lokal masyarakat Salem. Menurutnya, kehadiran tim peneliti memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk kembali mengingat dan membicarakan berbagai pengetahuan mengenai wilayah mereka yang selama ini hidup dalam ingatan masyarakat.

Ia berharap dokumentasi yang dilakukan melalui penelitian tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan membantu generasi muda mengenal kembali sejarah, lingkungan, serta pengetahuan yang terkandung dalam nama-nama tempat di wilayahnya.

Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tersebut menunjukkan bahwa toponimi dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami hubungan masyarakat dengan lingkungan. Nama tempat tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga menjadi rekaman pengalaman dan memori kolektif masyarakat mengenai ruang hidupnya.

Melalui penelitian ini, tim berharap pengetahuan lokal tentang mitigasi bencana yang tersimpan dalam toponimi dapat didokumentasikan, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dokumentasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi luaran akademik, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dalam mengenali kembali potensi, kondisi, dan sejarah lingkungannya.

Pada akhirnya, menjaga toponimi berarti pula menjaga sebagian dari ingatan masyarakat tentang ruang hidupnya. Jangan sampai perubahan lingkungan membuat toponimi hanya tersisa sebagai nama. Di balik setiap nama tempat terdapat pengetahuan yang perlu dipahami, didokumentasikan, dan diwariskan agar tetap memiliki makna bagi generasi yang akan datang.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026