
Workshop Auditory-Verbal Therapy berdayakan orang tua Deaf Family Solo Raya

Solo (ANTARA) - Workshop Auditory-Verbal Therapy (AVT) yang diselenggarakan Universitas Sebelas Maret (UNS) bersama PERHATI-KL Solo, Jawa Tengah, Selasa memberdayakan orang tua Deaf Family Solo Raya.
Program pemberdayaan masyarakat tersebut mengangkat tema Pemberdayaan Orang Tua Deaf Family Solo Raya dalam Optimalisasi Habilitasi Pendengaran dan Auditory-Verbal Therapy Berbasis Komunitas. Kegiatan tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Pendidikan Tinggi.
Workshop yang digelar di Mini Ballroom Rumah Sakit Dr. Oen Kandang Sapi Solo, Jawa Tengah ini diketuai oleh Dr. dr. Novi Primadewi, Sp.THTBKL, Subsp.NO(K), M.Kes. Novi mengatakan kegiatan berfokus pada peningkatan kapasitas orang tua dalam melakukan habilitasi pendengaran dan mendampingi perkembangan komunikasi anak secara mandiri dan berkelanjutan.
Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat melalui pemberdayaan orang tua dan komunitas Deaf Family Solo Raya.
“Ini merupakan program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret, dengan mengambil judul pemberdayaan orang tua Deaf Family Solo Raya dalam optimalisasi habilitasi pendengaran dan auditory-verbal therapy berbasis komunitas,” ujarnya.
Menurutnya, workshop AVT memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada para orang tua agar mampu menerapkan terapi berbasis auditori-verbal dalam mendampingi perkembangan komunikasi anak.
“Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas orang tua dalam melakukan rehabilitasi pendengaran pada putra-putrinya dengan terapi wicara berbasis auditory-verbal therapy secara mandiri dan berkelanjutan,” jelasnya.
Keterlibatan aktif orang tua, dikatakannya, sangat penting dalam proses habilitasi pendengaran karena pendampingan terhadap anak tidak hanya dilakukan ketika mengikuti terapi, tetapi juga perlu diterapkan secara konsisten di lingkungan keluarga.
Dengan keterampilan yang dimiliki, orang tua diharapkan mampu memberikan stimulasi dan pendampingan secara berkelanjutan sehingga kemampuan mendengar dan berkomunikasi anak dapat berkembang lebih optimal.
“Harapannya anak-anak bisa lebih maju, bisa berkomunikasi dengan baik, dan ke depan bisa lebih mandiri,” katanya.
Dalam acara tersebut juga dilakukan proses switch on terhadap anak Hamzah.
Sementara itu, salah satu peserta Suprihatiningsih mengatakan proses switch on menjadi momen yang sangat berarti bagi keluarganya. Sebelumnya, Hamzah telah menjalani operasi pemasangan implan koklea sekitar dua minggu sebelum alat tersebut dinyalakan.
“Bagi kami ini seperti sebuah mimpi yang menjadi nyata. Bagi orang tua dengan anak berkebutuhan khusus yang memiliki hambatan pendengaran seperti ini, rasanya luar biasa,” ujarnya.
Ia menjelaskan Hamzah mengalami tuli bawaan setelah dirinya mengalami gangguan kesehatan saat mengandung. Setelah menjalani operasi pemasangan implan koklea, proses habilitasi tidak berhenti begitu saja.
Menurutnya, anak tetap membutuhkan latihan untuk belajar mendengar. Suara yang diterima melalui implan koklea tidak serta-merta langsung dapat dipahami seperti pendengaran normal.
“Setelah switch on itu tidak serta-merta langsung bisa mendengar seperti yang kita bayangkan. Memang harus latihan lagi untuk mendengar. Suara yang didengar juga harus dilakukan mapping, diatur terlebih dahulu, kemudian seiring berjalannya waktu disesuaikan dengan kebutuhan anak,” jelasnya.
Momen switch on tersebut terasa semakin istimewa karena dihadiri teman-teman dari komunitas serta pihak rumah sakit. Suprihatiningsih menyebut keluarganya merasa mendapat dukungan besar dalam proses yang dijalani Hamzah.
“Terasa lebih seperti dirayakan. Memang teman-teman dari komunitas datang, dari rumah sakit juga luar biasa. Jadi kami merasa sangat didukung,” katanya.
Suprihatiningsih berharap setelah menggunakan implan koklea dan menjalani terapi secara rutin, kemampuan mendengar Hamzah semakin baik sehingga kemampuan bicaranya juga berkembang.
“Harapan saya pribadi untuk Hamzah, semoga Hamzah bisa mendengar dengan lebih baik sehingga nanti bisa berbicara dengan lebih baik pula. Sehingga dia bisa terjun ke masyarakat sebagaimana kita pada umumnya,” ujarnya.
Dengan demikian, dukungan terhadap anak dengan gangguan pendengaran tidak hanya bergantung pada tenaga profesional, tetapi juga diperkuat melalui peran aktif keluarga dan komunitas.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
