Logo Header Antaranews Jateng

Webinar membangun lingkungan belajar yang inklusif dan ramah anak di era digital

Selasa, 11 Agustus 2026 15:56 WIB
Image Print
Tim 1 KKN-T 108 Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan kegiatan webinar parenting tema “Membangun Lingkungan Belajar yang Inklusif dan Ramah Anak di Era Digital” pada Sabtu (1/8) (HO-KKN Undip)

Semarang (ANTARA) - Tim 1 KKN-T 108 Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan kegiatan webinar parenting tema “Membangun Lingkungan Belajar yang Inklusif dan Ramah Anak di Era Digital” pada Sabtu (1/8), sebagai bentuk upaya dalam menjawab tantangan yang dihadapi oleh orang tua dan guru terutama di era digital saat ini.

Narasumber utama Dosen Fakultas Psikologi Undip dengan minat keahlian pada disabilitas, ableism, inklusi sosial, dan suara anak, yaitu Costrie Ganes Widayanti, S Psi, M Si Med, Ph D.

Ketua HIMPAUDI Kecamatan Tembalang, Naning Sulistyowati, M Pd membuka kegiatan dan merespon positif dengan apa yang dilakukan para mahasiswa tersebut.

Costrie Ganes Widayanti menyajikan materi tidak hanya dari perspektif psikologis, tetapi juga dilengkapi informasi mengenai panduan Kemendikdasmen dan instrumen masa pengenalan sekolah jenjang TK yang diperlukan sebagai deteksi dini dan skrining perkembangan anak.

Ia melanjutkan kelebihan dan kekurangan yang timbul dari pemberian label pada anak. Ia menekankan sikap hati-hati, termasuk pada pemilihan kata, untuk memastikan bahwa label yang diberikan tidak terfokus pada kekurangan yang dimiliki.

Alih-alih hanya berfokus pada kekurangan, pemateri mendorong orang tua untuk tetap melihat potensi dan kelebihan yang dimiliki oleh anak, juga memberikan gambaran yang lebih konkrit mengenai karakteristik masing-masing jenis anak berkebutuhan khusus (ABK). Jenis-jenis tersebut meliputi disabilitas netra, disabilitas rungu, disabilitas intelektual, disabilitas fisik, gangguan spektrum autisme, kesulitan belajar spesifik, dan ADHD.

Selain menekankan bahwa setiap anak merupakan unik, Costrie menyampaikan semua anak memiliki kebutuhan yang perlu dikenali dan diupayakan untuk dipenuhi.

Pemateri juga memberikan pemahaman akan keterkaitan penggunaan gawai dan belajar pada anak. Materi kemudian ditutup dengan tips strategi yang dapat dilakukan orang tua agar tetap relevan dengan kebutuhan di era digital saat ini, seperti orang tua diharapkan memilih konten yang dikonsumsi oleh anak dan membuat aturan tegas mengenai waktu dan durasi penggunaan gawai.

Sejumlah pertanyaan yang muncul diantaranya untuk mengatasi anak yang masih kesulitan membedakan huruf dengan menyarankan metode multisensori sebagai upaya untuk belajar mengenal huruf.

Kolaborasi orang tua dan guru pun diperlukan untuk menyelaraskan metode yang digunakan sebagai pembelajaran dan permainan anak.Narasumber menyatakan bahwa kesulitan belajar pada anak dapat dideteksi sebelum anak memasuki usia belajar, misalnya terkait kemampuan spasial untuk membedakan kanan dan kiri. Kesulitan belajar lainnya dapat dideteksi lebih lanjut saat memasuki aktivitas pengantar belajar.

Di akhir webinar, para orang tua memberikan kesan pesan positif yang ditunjukkan dari adanya permintaan untuk keberlanjutan kegiatan parenting serupa setiap tiga bulan sekali. Selebihnya, peserta juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas webinar parenting “Membangun Lingkungan Belajar yang Inklusif dan Ramah Anak di Era Digital” yang telah diadakan.




Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026