Logo Header Antaranews Jateng

Nudging: strategi efektif komunikasi pemasaran produk halal

Senin, 10 Agustus 2026 14:45 WIB
Image Print
Nieldya Nofandrilla, MA (in Int.Com.). ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Industri halal di Indonesia mengalami perkembangan pesat, khususnya di bidang kosmetik, food and beverage, dan fashion.

Akan tetapi, fenomena yang saat ini terjadi adalah banyak konsumen Muslim yang datang ke restoran, cafe, atau membeli produk makanan tanpa memperhatikan label halal atau bahan-bahan yang digunakan. Mereka hanya berfokus pada rasa yang enak, keviralan, fomo, rating yang tinggi, review yang bagus, dan harga.

Kemudian, mulai diketahui bahwa beberapa resto banyak yang menggunakan bahan-bahan non-halal dalam penyajian masakannya, seperti contoh: kasus resto legendaris Ayam di kota Solo, yang menggunakan minyak babi dalam produksinya.

Beberapa hal yang mempengaruhi rendahnya tingkat kesadaran konsumen dalam memilih produk yang halal dan sesuai dengan prinsip syariah adalah tingkat pengetahuan, sikap keagamaan, dan akses terhadap informasi halal.

Secara umum, merek produk halal memerlukan strategi komunikasi pemasaran yang tepat untuk menegakkan nilai-nilai Islami, membangun kepercayaan konsumen, meningkatkan citra dan value, meningkatkan loyalitas konsumen, dan mendapatkan keberkahan. Sehingga, diperlukan konsep dan perencanaan yang matang dalam menjalankan komunikasi pemasaran produk halal.

Langkah-langkah yang perlu dijalankan dalam komunikasi pemasaran efektif produk halal, yaitu pertama, tentukan konsep terlebih dahulu. Konsep haruslah bernilai Islami, terstruktur, dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Kemudian tentukan STP (Segmentation, Targeting, Positioning) secara tepat. Banyak orang berpendapat bahwa produk halal tidak perlu dilakukan STP kembali, karena sudah jelas untuk siapa produk tersebut. Hal tersebut tidak benar, karena perusahaan atau UMKM masih membutuhkan identitas dan karakter yang sangat spesifik untuk calon pembeli produk tersebut, sehingga memudahkan memilih metode yang tepat dalam komunikasi pemasaran.

Tahapan selanjutnya adalah menyusun pesan persuasif sesuai syariah. Gunakanlah kata-kata yang lembut, sopan, berkesan halus, dan bijak. Hindari kata-kata kasar dan bermakna negatif, walaupun menggunakan bahasa lain. Kemudian, di era digital ini, wajib mengoptimalkan media sosial dan e-commerce. Komunikasikan nilai-nilai Islami dan bukti-bukti kehalalan produk dengan maksimal dan konsisten. Yang menjadi tantangan tersendiri adalah tetap mengendalikan diri dan menjaga emosi dalam bermedia sosial. Bergabunglah dengan komunitas-komunitas Muslim untuk memperluas jangkauan komunikasi pemasaran. Salah satu metode yang tepat untuk mengena hati konsumen adalah dengan memberikan cerita bertema khusus dalam sebuah komunikasi pemasaran (storytelling).

Pastikan storytelling bernilai Islami dan sesuai dengan identitas merek produk halal tersebut. Dalam rangkaian cerita tersebut, sisipkan inti nilai, manfaat, dan keunggulan produk halal.

Selanjutnya, gunakan mekanisme nudging yaitu dengan komunikasi secara halus atau tanpa paksaan. Beberapa sektor menggunakan strategi komunikasi pemasaran dengan mengadopsi pendekatan secara lebih halus dan berbasis perilaku konsumen, yang sering dikenal dengan pendekatan nudging. Contoh yang sudah diaplikasikan di Indonesia yaitu industri perbankan, investasi dan keuangan, kesehatan, dan pengelolaan sampah.

Teori Nudge pertama kali diperkenalkan dalam buku Richard Thaler dan Cass Sustein. Nudging berkembang menjadi Nudge marketing karena telah teruji oleh beberapa perusahaan dapat mempermudah menarik hati konsumen, tentunya dengan bahasa-bahasa komunikasi yang sesuai.

Peneliti di India meneliti produk e-commerce, menyimpulkan bahwa strategi komunikasi pemasaran nudging yang tepat dapat meningkatkan keputusan pembelian yang signifikan.

Penerapan nudging dalam komunikasi pemasaran produk halal dapat dilakukan pada penempatan etalase produk yang tepat di supermarket dengan jajaran produk-produk halal lainnya, pesan singkat yang bernada lembut, testimoni dan review pelanggan yang memperlihatkan identitas kehalalan, dan mendesain kemasan secara informatif khususnya informasi kehalalan produk secara jelas. Nudging dapat dilakukan dengan membangun emosi positif konsumen, contohnya relasikan produk halal dengan nilai keberkahan, kebaikan, dan kesehatan. Nilai-nilai tersebut perlu dikomunikasikan secara persuasif supaya masyarakat dapat mendapatkan manfaatnya.

Kemudian, gunakan visual yang tepat dengan tone warna Islami, lembut, dan menarik. Sehingga, komunikasi pemasaran produk halal perlu memegang teguh prinsip-prinsip kejujuran, trustworthiness, transparan, dapat dipertanggungjawabkan, dan sesuai nilai syariah. Yang terakhir adalah, lakukan evaluasi secara berkala, diskusi dan menanggapi feedback dengan bijak, halus dan penuh kesabaran.

Nudging yang paling sering digunakan adalah penyajian logo Sertifikat Halal. Sertifikat halal merupakan sebuah surat resmi yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk barang atau jasa sebagai dasar konsistensi keagamaan berdasarkan kebutuhan dan prinsip-prinsip agama Islam. Hasil studi menyatakan bahwa penyajian logo sertifikat halal pada kemasan, iklan, display, tempat penjualan, menu resto, dan perlengkapan produksi, dalam media digital maupun non-digital, dapat mempengaruhi perilaku konsumen dalam keputusan pembelian.

Pada sebuah penelitian mengenai perilaku konsumen terhadap merek produk berlogo halal, terlihat bahwa produk tersebut memiliki status yang lebih tinggi dibandingkan produk lain dan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen, diikuti dengan faktor religiusitas masing-masing individu. Akan tetapi, apabila sebuah produk atau UMKM belum mampu mendapatkan sertifikat halal MUI, mereka tetap dapat memaksimalkan komunikasi pemasaran dengan memberi info seperti “sertifikat halal MUI sedang dalam proses”, diberi logo halal self-claim, atau memberikan kandungan komposisi makanan yang membuktikan kehalalan di dalam segala informasi.

Dalam konteks komunikasi pemasaran Islam, tidak hanya berfokus pada nilai-nilai Islami seperti kejujuran, amanah dan keadilan, tetapi sangat penting untuk mengedepankan tujuan halal awareness kepada masyarakat atas produk yang dipasarkan. Dalam sebuah penelitian menyimpulkan bahwa konsep pemasaran halal berpengaruh signifikan terhadap kesadaran halal, perilaku halal dan minat beli terhadap produk halal. Dapat ditarik benang merahnya, semakin baik kualitas komunikasi pemasaran produk halal, masyarakat yang menjadi target market akan semakin menyadari keberadaan produk halal tersebut, mendorong perilaku halal, kemudian mulai berpikir mencoba dan membeli produk halal tersebut.

Komunikasi produk halal sangatlah penting, dengan menggunakan strategi nudging harapannya akan lebih memudahkan dan menarik konsumen. Nudging menawarkan pendekatan yang sederhana namun bermakna, tidak memaksa, tidak menggurui, dan tidak terlihat rumit.



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026