
Festival Tuku Saka Tani dorong akses pangan sehat dan rantai pasok berkelanjutan di Solo Raya

Solo (ANTARA) - Kegiatan Festival Tuku Saka Tani digelar oleh Gita Pertiwi dengan menggandeng sejumlah pihak sebagai langkah strategis memotong rantai distribusi pangan serta mempertemukan langsung produsen pertanian dengan konsumen.
Direktur Program Gita Pertiwi Titik Eka Sasanti di sela kegiatan di Pasar Jongke Solo, Jawa Tengah, Sabtu mengatakan upaya ini dihadirkan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan sehat yang terjangkau sekaligus mendukung program ketahanan pangan.
Ia mengatakan festival ini menjadi wadah kolaborasi bisnis sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pangan sehat. Menurutnya, pemahaman publik mengenai pangan sehat tidak hanya terbatas pada gizi, tetapi juga mencakup seluruh proses produksi yang ramah lingkungan.
“Kami mencoba memotong rantai distribusi pangan sehat ini agar akses masyarakat meningkat dan harganya jauh lebih terjangkau. Edukasi ini penting karena selama ini rantai pasok yang panjang kerap membuat konsumen kesulitan mendapatkan produk pangan sehat,” katanya.
Festival yang diikuti sekitar 150 peserta dari kawasan Solo Raya ini berada di bawah naungan Program Kota Cerdas Pangan dan bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Rangkaian acara diisi dengan talkshow interaktif, pameran produk lokal, program tebus murah untuk mengurangi food waste (sisa pangan), hingga ajang pitching produk antara produsen dan lembaga pembeli (agregator).
Ia mengatakan pangan sehat yang dipromosikan diproduksi melalui metode regenerative agriculture atau pertanian regeneratif sebagai masa transisi menuju pertanian organik. Langkah ini juga menjadi alternatif bagi petani skala kecil yang memiliki keterbatasan modal dan lahan untuk memperoleh sertifikasi.
Selain memotong rantai pasok, kegiatan ini ditujukan untuk mendukung terwujudnya visi Solo Kota Aman Pangan melalui jaminan keterlacakan produk (traceability).
Ia menegaskan pentingnya edukasi dari tingkat dasar, mengingat hasil asesmen terbaru di kantin sekolah menunjukkan peningkatan tren obesitas pada anak usia SD dan SMP akibat asupan gizi yang tidak seimbang. Pihaknya berharap produk hasil pendampingan petani ini dapat memenuhi standar legalitas, seperti sertifikasi halal, PIRT, dan PSAT-PDUK, sehingga mampu menyuplai kebutuhan program pemenuhan gizi daerah secara berkelanjutan.
Sementara itu, Pemerintah Kota Surakarta
memberikan apresiasi penuh atas terselenggaranya festival tersebut. Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Surakarta drh Evy Nurwulandari mengungkapkan sebagai wilayah konsumen, Surakarta sangat bergantung pada pasokan pangan dari daerah sekitarnya.
“Kota Surakarta bukan merupakan daerah produsen utama pangan. Melalui forum ini, petani dapat bertransaksi langsung dengan pembeli berskala besar, seperti sektor perhotelan, restoran, hingga penyedia jasa katering,” katanya.
Menurut dia, skema transaksi langsung ini memberikan keuntungan ganda. Konsumen mendapatkan pasokan produk yang masih segar dan berkualitas dengan harga bersaing, sementara petani terhindar dari tekanan harga oleh tengkulak.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
