Logo Header Antaranews Jateng

Pekerja industri rokok di Kudus diedukasi belanja sehat cegah stunting

Kamis, 6 Agustus 2026 15:57 WIB
Image Print
Seorang pekerja rokok sigaret kretek tangan (SKT) Garung di Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menunjukkan hasil belanjanya kepada para juri saat mengikuti kegiatan "Belanja Pinter Gizine Bener", Kamis (6/8/2026). ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif.

Kudus (ANTARA) - Sebanyak 2.500 pekerja industri rokok di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mendapatkan edukasi unik bertajuk "Belanja Pinter Gizine Bener" sebagai upaya meningkatkan pemahaman tentang pemenuhan gizi seimbang untuk mencegah stunting atau tengkes.

"Edukasi belanja ini menyasar 2.500 karyawan yang tersebar di lima lokasi produksi SKT, yakni Blolo, Besito, Tanjungkarang 1, Tanjungkarang 2, dan Garung. Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak para karyawan memahami bahwa langkah hidup sehat dimulai dari piring dan belanja yang tepat," kata Senior Manager Bakti Sosial Djarum Foundation David Setiadi di sela kegiatan di tempat produksi rokok sigaret kretek tangan (SKT) Garung di Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Kamis.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta terlebih dahulu mendapatkan pembekalan mengenai konsep gizi seimbang serta pentingnya memilih bahan pangan yang sehat bagi keluarga. Setelah itu, masing-masing peserta memperoleh uang belanja sebesar Rp25.000 untuk dibelanjakan di pasar terdekat guna membeli bahan makanan yang memenuhi kebutuhan gizi seimbang.

Hasil belanja kemudian dinilai oleh tim juri berdasarkan kelengkapan lima komponen gizi, yakni sumber karbohidrat, protein nabati, protein hewani, sayuran, buah-buahan, serta pelengkap seperti susu. Selain itu, peserta juga mengikuti berbagai permainan edukatif mengenai pola makan sehat dan pentingnya pemenuhan gizi keluarga.

"Belanja Pinter Gizine Bener ini merupakan salah satu cara mengajak para karyawan membiasakan pola hidup sehat. Kami berharap para pekerja menerapkan pembelajaran dan pilihan sikap dalam berbelanja secara pintar dan gizinya juga benar dalam kehidupan sehari-hari," ujar David.

Peserta yang berhasil memenuhi seluruh kriteria, kata dia, mendapatkan hadiah tambahan berupa paket sembako, sementara tiga peserta terbaik memperoleh paket sembako lengkap. Penilaian dilakukan oleh tim ahli gizi berdasarkan hasil belanja, jawaban peserta saat sesi edukasi, serta kemampuan mengelola anggaran secara efisien.

Selain lomba belanja, peserta juga diminta membuat konten mengenai cara mengolah hasil belanja menjadi menu bergizi yang dapat dinikmati bersama keluarga. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat penerapan pola makan sehat di lingkungan rumah tangga.

Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation Achmad Budiharto menambahkan program tersebut tidak hanya berfokus pada pencegahan stunting, tetapi juga membangun kebiasaan keluarga dalam memilih dan mengolah makanan bergizi dengan anggaran yang terbatas.

"Mereka dilatih bagaimana dengan anggaran terbatas tetap bisa menyusun menu sehat untuk keluarga. Ini perlu terus diulang agar menjadi kebiasaan. Nilai uangnya mungkin tidak besar, tetapi kebersamaan dalam membangun keluarga sehat itulah yang paling berharga," ujarnya.

Salah satu peserta, Siti Fatimah, pekerja SKT asal Desa Setrokalangan mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai kebutuhan gizi keluarga. Setelah mengikuti pembekalan, ibu dua anak tersebut mempraktikkan langsung materi yang diterima dengan berbelanja menggunakan anggaran Rp25.000.

Ia membeli beras sebagai sumber karbohidrat, ikan lele untuk protein hewani, tahu dan tempe sebagai protein nabati, bayam sebagai sayuran, jeruk dan klengkeng sebagai buah, serta susu sebagai pelengkap gizi.

Menurut dia edukasi tersebut memberikan gambaran memenuhi kebutuhan gizi keluarga tidak selalu membutuhkan biaya besar, asalkan mampu memilih bahan pangan secara tepat dan seimbang.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026