Logo Header Antaranews Jateng

Menata transportasi umum di Semarang Raya

Selasa, 21 Juli 2026 08:32 WIB
Image Print
Teknisi melakukan perawatan komuter di Depo Lokomotif Sidotopo, Surabaya, Jawa Timur, Senin (18/3/2024). . ANTARA FOTO/Didik Suhartono/Spt

Semarang (ANTARA) - Suasana pagi di Kota Semarang, seperti di kota-kota besar lainnya, jalanannya dipadati oleh kendaraan dari para pengguna. Ada yang bekerja, mengantar anak sekolah, atau keperluan lainnya. Ada yang melintas dari kawasan timur ke arah barat, atau sebaliknya.

Salah satu tujuan pekerja adalah Kawasan industri. Di Kota Semarang, ada satu kawasan industri yang usianya sudah cukup tua, yakni dibangun pada tahun 1998. Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) yang terletak di daerah Mangkang. KIW merupakan pindahan dari Kawasan Industri Cilacap (KIC). KIC dibangun 10 tahun sebelumnya. Karena kondisi yang sudah penuh, kemudian direlokasi ke Kota Semarang.

Plt Direktur Utama KIW, Sugeng Haryanto mengungkapkan saat pertemuan dengan Panita Kerja dari Komisi VII tentang RUU Kawasan Industri di Semarang, Senin (20/7), ada ratusan industri yang ada di dalam Kawasan itu. Jumlah pekerjanya mencapai 33 ribuan orang. Bahkan jumlah ini diprediksi akan meningkat menjadi 50 ribuan pekerja seiring penambahan lahan di kawasan itu.

Salah satu yang menjadi perhatian PT KIW adalah mobilisasi pekerja. Dengan penambahan pekerja, maka jalanan akan semakin padat. Pekerja yang sebagian besar menggunakan sepeda motor, tentu akan sejalan dengan angkutan besar lainnya sehingga rawan kecelakaan.

Solusi yang ditawarkan adalah pembangunan jalur kereta komuter. Mulai dari Demak hingga Kota Pekalongan yang ada di pantai utara Jawa Tengah. Beragam Kawasan industri ada di jalur tersebut. Mulai dari Demak, KIW, Kendal, Batang, hingga Pekalongan.

Jalur kereta saat ini sudah tersedia. Tinggal menambah stasiun pemberhentian di lokasi-lokasi yang dekat dengan kawasan industri. Atau mungkin lokasi yang ada di dalam kawasan industri. Sehingga beban di jalur pantura berkurang, sekaligus mengurangi risiko di perjalanan. Kereta jauh lebih efektif mengangkut pekerja, dibanding bus yang kapasitasnya terbatas.

Ini merupakan momentum yang tepat untuk memulai sekaligus menata transportasi di Kota Semarang dan sekitarnya seiring semakin padatnya penduduk dan industri.



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026