
Hadiri Awalussanah MIM Digdaya Bolon, Wakil Dekan I FKIP UMS tekankan pentingnya sinergi penanaman adab di era digital

Solo (ANTARA) - Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Miftakhul Huda, M.Pd., hadir sebagai Keynote Speaker dalam agenda Awalussanah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Digdaya Bolon di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (11/7).
Dalam kesempatan tersebut, ia membawakan materi bertajuk Sinergi Orang Tua dan Madrasah dalam Penanaman Adab dengan mengusung semangat bahwa adab dan prestasi harus berjalan berdampingan.
Miftakhul Huda mengajak para wali murid untuk berefleksi mengenai kebiasaan sehari-hari bersama anak, seperti rutinitas sarapan bersama dan keteladanan yang ditiru anak dari orang tuanya. Ia juga memaparkan bahwa generasi anak saat ini dibesarkan oleh lingkungan yang sangat berbeda, di mana mereka terpapar smartphone, media sosial, kecerdasan buatan (AI), game online, hingga YouTube.
“Anak-anak kita sedang hidup pada zaman yang belum pernah dialami oleh generasi mana pun. Namun, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan pendidikan adab dari orang tua dan guru,” katanya.
Akademisi UMS ini menyoroti fenomena di mana banyak anak memiliki IQ dan wawasan tinggi, namun kurang memiliki empati dan rasa hormat. Menurutnya, hal ini terjadi karena lingkungan seringkali lebih sibuk menanyakan “Berapa nilainya?” dibandingkan menanyakan “Hari ini kamu sudah berbuat baik kepada siapa?”.
Terkait hal itu, ia mengingatkan prestasi memang bisa membuat anak diterima di sekolah terbaik, namun adablah yang membuat anak diterima di mana saja.
Dalam pemaparannya, ia juga menggarisbawahi mengapa sinergi antara rumah dan madrasah sangat vital. Ia menjelaskan beberapa poin penting terkait hal ini:
1. Anak bisa menjadi bingung apabila nilai yang diajarkan di rumah dan di madrasah tidak sejalan atau berbeda arah.
2. Pendidikan adab tidak boleh hanya diserahkan kepada pihak sekolah, mengingat anak hanya menghabiskan waktu sekitar 6-7 jam di sekolah, sementara lebih dari 17 jam dihabiskan di rumah.
3. Orang tua memegang peran sebagai madrasah pertama bagi anak, sedangkan guru di sekolah berfungsi sebagai penguat.
Untuk menanamkan karakter secara efektif, Miftakhul Huda membagikan Formula Penanaman Adab yang porsinya terdiri dari 10 persen nasihat, 30 persen pembiasaan, dan 60 persen keteladanan. Ia menekankan anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada sekadar mendengarkan instruksi.
Selain itu, pendidikan adab di madrasah tidak hanya dibebankan kepada guru yang mengajar di kelas.
“Budaya madrasah dibangun oleh semua warga sekolah. Satpam, petugas kebersihan, tenaga administrasi, hingga penjaga kantin semuanya adalah pendidik, karena anak belajar dari siapa pun yang mereka temui,” urainya.
Menyesuaikan dengan konteks kekinian, Wakil Dekan I FKIP UMS ini juga menyinggung pentingnya menanamkan Adab di Era Digital. Orang tua dan pendidik didorong untuk mengajarkan anak agar berkomentar dengan santun, tidak menyebarkan hoaks, menghargai privasi, menghindari bullying, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab.
Menutup presentasinya yang menggugah, Miftakhul Huda memberikan pesan menyentuh kepada seluruh wali murid tentang hakikat mendidik anak sebagai investasi masa depan.
“Mungkin kita tidak mampu mewariskan miliaran rupiah. Namun kita semua mampu mewariskan kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, dan cinta kepada Allah. Warisan itulah yang nilainya tidak pernah habis,” katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
