Logo Header Antaranews Jateng

Pemkab Temanggung mulai bangun SPAM untuk tiga desa

Jumat, 10 Juli 2026 17:00 WIB
Image Print
Bupati Temanggung Agus Setyawan ngobrol dengan warga yang menjadi sasaran proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan anggaran Rp3 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2026. ANTARA/Heru Suyitno

Temanggung (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mulai merealisasikan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan anggaran Rp3 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2026 untuk ini peningkatan akses air minum layak di tiga desa.

SPAM itu akan melayani 769 sambungan rumah di tiga desa yaitu Bandunggede, Kedu, Gedongsari Jumo, dan Tuksari Kledung.

"Alhamdulillah, Pemkab Temanggung diberikan kepercayaan oleh pemerintah pusat melalui alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN 2026," kata Bupati Temanggung Agus Setyawan di Temanggung, Jumat.

Ia menuturkan, program SPAM ini merupakan salah satu upaya bersama untuk penyediaan air bersih dan layak bagi kebutuhan rumah tangga warga tiga desa tersebut.

"Karena anggarannya cukup besar, mari kita awasi bersama-sama dengan baik agar tidak ada masalah di kemudian hari. Dikerjakan sebaik-baiknya, tepat mutu dan tepat waktu. Harapannya, sekali dibangun, fasilitas ini bisa terus bermanfaat sampai puluhan tahun ke depan," katanya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Temanggung Hendi Nur Hidayat, menjelaskan proyek di tiga desa itu dijadwalkan selesai pada 16 Oktober 2026 dan pengelolaan selanjutnya akan diserahkan kelompok pengelola di setiap desa.

Ia menuturkan, proyek ini mencakup pembangunan dari hulu ke hilir, mulai dari pembuatan bangunan khusus untuk menangkap mata air, pemasangan pompa sedot, pembuatan bak penampungan air yang besar, hingga penyambungan pipa-pipa distribusi sampai meteran air di depan rumah warga.

"Pasca-konstruksi, Kelompok Pengelola (KP) SPAM di masing-masing desa akan kami undang untuk diberikan pelatihan," katanya.

Menurut Hendi, mereka akan diajari cara menghitung iuran warga secara gotong royong agar bisa menutup biaya listrik pompa serta perawatan jika ada pipa yang bocor.

"Prinsip utamanya adalah menjaga agar aliran air bersih ini terus berkelanjutan untuk warga, bukan untuk mencari keuntungan atau bisnis," katanya.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026