
Bupati Banyumas mengajak generasi muda lestarikan tradisi petungan Jawa

Purwokerto (ANTARA) - Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengajak generasi muda mengenal dan melestarikan tradisi petungan (hitungan) Jawa sebagai bagian dari warisan budaya yang sarat nilai filosofi serta kearifan lokal agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Saat membuka “Workshop Tradisi Petungan Jawa: dari Kelahiran sampai Kematian” yang diselenggarakan Paguyuban Kawruh Rasa Sejati di Pendopo Si Panji Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis, bupati mengatakan petungan Jawa tidak sekadar dipahami sebagai sistem perhitungan hari baik.
“Juga merupakan pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat Jawa dalam memaknai perjalanan hidup manusia,” katanya.
Ia mengatakan petungan Jawa merupakan sistem hitungan berbasis kalender tradisional yang hingga kini masih menjadi rujukan bagi sebagian masyarakat Jawa.
Menurut dia, tradisi tersebut digunakan untuk menentukan hari baik, membaca karakter seseorang, hingga melihat kecocokan jodoh sebelum melangsungkan pernikahan.
“Sistem tersebut bekerja dengan menjumlahkan nilai hari dalam kalender Masehi dengan lima hari pasaran Jawa, yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon, yang dikenal dengan istilah neptu (nilai tertentu dari hari dan pasaran seseorang),” katanya.
Ia mengatakan kombinasi angka tersebut kemudian dianalisis oleh sesepuh atau juru hitung weton (hari pasaran) sebagai dasar menyelaraskan berbagai aktivitas manusia dengan pandangan masyarakat Jawa terhadap keseimbangan alam semesta.
Menurut dia, pengetahuan seperti itu tidak boleh hilang karena menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.
Oleh karena itu, dia menilai forum diskusi maupun workshop tersebut penting sebagai ruang berbagi pengetahuan, bertukar pengalaman, sekaligus mendokumentasikan berbagai pemikiran yang telah diwariskan secara turun-temurun.
"Saya berharap forum seperti ini bisa menjadi tempat untuk saling belajar. Bukan hanya bagi peserta yang hadir hari ini, juga bagi generasi muda agar mereka mengenal dan memahami berbagai pengetahuan yang telah diwariskan oleh para leluhur," katanya.
Terkait dengan hal itu, dia menegaskan Pemerintah Kabupaten Banyumas berkomitmen membangun daerah dengan semangat kebersamaan melalui pelibatan seluruh elemen masyarakat.
“Setiap kelompok masyarakat memiliki peran dalam pembangunan, termasuk para penghayat kepercayaan yang selama ini turut menjaga dan merawat kekayaan budaya daerah,” kata Bupati.
Ketua Paguyuban Kawruh Rasa Sejati, Feby Lestari mengatakan workshop tersebut digelar sebagai upaya melestarikan warisan budaya sekaligus mengenalkan kembali pengetahuan tradisional kepada generasi muda.
Menurut dia, petungan yang berkaitan dengan weton atau hari kelahiran telah lama menjadi bagian dari budaya Jawa dalam menentukan hari baik maupun hari yang perlu dihindari untuk berbagai aktivitas kehidupan.
Dia mengakui saat ini banyak generasi muda yang mulai kurang memahami makna weton, seperti Senin Pahing, Jumat Wage, maupun kombinasi hari pasaran lainnya.
Padahal, kata dia, tradisi tersebut merupakan bagian dari sistem pengetahuan masyarakat Jawa yang berkaitan dengan hari kelahiran serta cara pandang terhadap kehidupan.
"Kalau sekarang orang lebih mengenal horoskop, sebenarnya masyarakat Jawa juga memiliki sistem pengetahuan sendiri yang berkaitan dengan hari kelahiran. Ini penting untuk terus dilestarikan agar generasi muda mengenal identitas budayanya," katanya.
Melalui workshop tersebut, kata dia, panitia menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ki Samino dari Paguyuban Wayah Kaki, akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Agung Prabowo, serta Ki Prayit dari Paguyuban Kawruh Rasa Sejati.
Dia mengatakan ketiga narasumber berbagi pengetahuan mengenai tradisi petungan Jawa sekaligus berdiskusi dengan peserta mengenai upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut di tengah perubahan sosial yang terus berkembang.
Baca juga: Kemendes-Bank Dunia menjajaki Program Sehati di Banyumas
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
