Logo Header Antaranews Jateng

Budayawan: 25 tahun Festival Lima Gunung menyumbang ilmu pengetahuan batin desa

Minggu, 5 Juli 2026 20:21 WIB
Image Print
Sejumlah warga mengusung salah satu instalasi seni berbahan alam untuk menghias panggung Festival Lima Gunung XXV/2026 di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah di kawasan Gunung Merbabu, Minggu (5/7/2026). ANTARA/Hari Atmoko

Magelang (ANTARA) - Festival Lima Gunung (FLG) Kabupaten Magelang yang tahun ini sebagai penyelenggaraan ke-25 kali secara konsisten menjadi sumbangan ilmu pengetahuan tentang peradaban batin desa oleh para seniman petani Komunitas Lima Gunung, kata Budayawan Magelang Sutanto Mendut.

"Festival 25 tahun, apa (Komunitas) Lima Gunung bangga menari (pentas kesenian)? Nilainya apa? Ini (Festival Lima Gunung) telah menjadi pameran ilmu pengetahuan desa," kata perintis berdirinya komunitas itu dalam jumpa pers Festival Lima Gunung XXV/2026 di Magelang, Jawa Tengah, Minggu.

Festival dengan kekuatan swadaya masyarakat dusun dan pegiat komunitas tersebut, tahun ini digelar di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang pada 10-12 Juli 2026. Sekitar 85 grup kesenian dengan sedikitnya 1.274 orang akan mementaskan berbagai kesenian, baik tradisional, modern, kontemporer, maupun kolaborasi pementasan.

Warga setempat sejak pertengahan Juni lalu bergotong royong membangun panggung dua level, 80 meter persegi dan 32 meter persegi, di tanah bengkok setempat. Panggung dihiasi dengan instalasi seni berbahan alam pertanian di dusun dengan 186 kepala keluarga atau 504 jiwa itu.

Berbagai pementasan FLG XXV, antara lain tarian, musik, teater, pameran seni rupa, pembacaan puisi, kirab budaya, pemberian penghargaan Lima Gunung Award, dan pidato kebudayaan. Mereka selain berasal dari berbagai grup di internal komunitas, juga kelompok-kelompok kesenian di desa-desa setempat dan luar kota yang menjadi relasi KLG. Komunitas seniman petani itu berbasis di dusun-dusun di kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.

Festival tersebut, katanya, telah dikenal sebagai acara kesenian dan kebudayaan tahunan dengan penyelenggaraan tidak menggunakan dana sponsor, baik pemerintah maupun pihak swasta. Dusun Warangan di kawasan Gunung Merbabu tersebut hingga tahun ini menjadi tuan rumah Festival Lima Gunung selama empat kali, yakni festival pertama pada 2002, kedua pada 2003, ke-13 pada 2014, dan ke-25 pada 2026.

"Justru kalau FLG disponsori, tidak jalan. Siapa bisa membiayai FLG? Tidak bisa. Tidak bisa dibeli, karena ini soal perasaan, soal hati. Ini festival tentang nilai-nilai. Hati, cinta itu tidak bisa dihitung dengan uang. Ini festival soal ilmu pengetahuan yang tidak begitu saja dipahami," ujar dia.

Tanto menghadirkan tema "Makin Goblok Bareng" pada FLG XXV, antara lain merespons perkembangan situasi kehidupan manusia era teknologi informasi, tentang arti pentingnya sikap tawaduk, terus mendidik diri dan belajar bersama.

"Untuk kehidupan riil sehari-hari dan dunia maya yang lebih baik, sehingga melahirkan peradaban luhur baru yang layak diwariskan kepada generasi manusia masa depan," ujar dia.

Ketua KLG Sujono menjelaskan hingga saat ini terus membangun dan memperkuat jejaring dengan berbagai kelompok kesenian, kelompok sosial-kemasyarakatan, dan para tokoh dengan berbagai latar belakang dari berbagai tempat.

Ia mengatakan jejaring itu memperkuat keberadaan komunitas untuk terus belajar dan memberi inspirasi tentang makna kebudayaan dan memperkuat nilai-nilai hidup pedesaan dengan kearifan lokalnya.

Penyelenggaraan FLG selama 25 tahun berturut-turut, termasuk saat pandemi COVID-19, sebagai pelajaran berharga, baik bagi komunitas, pegiat, maupun warga dusun.

Ia mengatakan setiap penyelenggaraan festival membuktikan tentang praktik baik semangat bekerja tanpa pamrih, kekeluargaan, persaudaraan, dan saling menjaga serta menghargai yang terus dihidupi warga dusun dengan berbagai dinamika tantangan dan harapan.

Selain itu, katanya, memperkuat ketangguhan komunitas dalam menghadapi tantangan menghidupi kesenian, tradisi dusun, dan kearifan desa.



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026