
Sekolah Muhammadiyah memerlukan ekosistem, bukan sekadar program

Solo (ANTARA) - Transformasi pendidikan sedang berlangsung lebih cepat daripada kemampuan banyak sekolah untuk beradaptasi. Kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), pembelajaran mendalam (deep learning), digitalisasi administrasi, hingga perubahan karakter peserta didik telah mengubah wajah pendidikan dalam waktu yang relatif singkat.
Di tengah perubahan itu, sekolah tidak lagi cukup dikelola dengan pola rutin dan program-program jangka pendek. Yang dibutuhkan adalah sebuah ekosistem yang memungkinkan sekolah terus belajar, berinovasi, dan berkembang.
Kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sebagai salah satu penyelenggara pendidikan terbesar di Indonesia, Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah dari tingkat dasar hingga menengah yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Jaringan yang luas ini bukan hanya merupakan kekuatan luar biasa, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan untuk menjaga pemerataan mutu.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kualitas sekolah Muhammadiyah berkembang secara beragam. Ada sekolah yang menjadi pilihan utama masyarakat dengan prestasi akademik dan nonakademik yang membanggakan. Namun, tidak sedikit pula sekolah yang masih menghadapi persoalan jumlah peserta didik, penguatan kompetensi guru, kepemimpinan sekolah, maupun kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.
Perbedaan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah pelatihan atau memperbanyak kegiatan seremonial. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa banyak program berjalan baik ketika dilaksanakan, tetapi dampaknya perlahan memudar setelah kegiatan selesai. Program datang dan pergi, sedangkan tantangan sekolah terus berkembang.
Di sinilah pentingnya mengubah cara pandang. Muhammadiyah memerlukan ekosistem pendidikan yang terintegrasi, bukan sekadar kumpulan program yang berjalan sendiri-sendiri.
Ekosistem berarti seluruh unsur dalam Persyarikatan bekerja sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) menyusun arah kebijakan strategis.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) memetakan kebutuhan nyata sekolah di wilayahnya. Majelis Dikdasmen dan PNF mengoordinasikan pembinaan secara berkelanjutan. Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) menghadirkan kekuatan akademik melalui pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Sementara sekolah menjadi ruang implementasi berbagai inovasi tersebut.
Model seperti ini jauh lebih berkelanjutan dibandingkan pendekatan yang hanya berorientasi pada kegiatan sesaat.
Perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun ekosistem tersebut. Selama ini, keberhasilan perguruan tinggi sering diukur dari jumlah publikasi ilmiah, akreditasi, atau peringkat institusi. Semua itu penting, tetapi kehadiran perguruan tinggi akan jauh lebih bermakna apabila pengetahuan yang dihasilkan benar-benar menjadi solusi bagi sekolah.
Hasil penelitian dosen dapat diterjemahkan menjadi kebijakan sekolah berbasis bukti (evidence-based policy). Mahasiswa magister dan doktor dapat menjadikan sekolah Muhammadiyah sebagai laboratorium inovasi pendidikan. Program pengabdian kepada masyarakat dapat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi guru dan kepala sekolah. Dengan demikian, tridarma perguruan tinggi tidak berhenti sebagai kewajiban akademik, tetapi menjadi penggerak perubahan pendidikan.
Tantangan berikutnya adalah kepemimpinan sekolah. Kepala sekolah abad ke-21 tidak cukup menjadi pengelola administrasi. Ia harus mampu menjadi pemimpin pembelajaran, penggerak inovasi, pembangun budaya mutu, sekaligus penghubung sekolah dengan masyarakat. Di era AI, kepala sekolah juga dituntut memahami pemanfaatan teknologi secara produktif dan etis.
Karena itu, pengembangan kapasitas kepala sekolah tidak dapat dilakukan sekali selesai. Diperlukan sistem pembelajaran sepanjang hayat melalui studi lanjut, pelatihan berjenjang, pendampingan profesional, serta jejaring antar kepala sekolah yang memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman dan praktik baik.
Hal yang sama berlaku bagi guru. Perubahan kurikulum, perkembangan teknologi, serta karakter generasi peserta didikmenuntut guru untuk terus belajar.
Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang membantu peserta didik berpikir kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, dan berkarakter. Peran tersebut membutuhkan dukungan ekosistemyang menyediakan ruang belajar, pendampingan, dan pengembangan profesional secara berkelanjutan.
Muhammadiyah sesungguhnya memiliki modal besar untuk membangun ekosistem tersebut. Jaringan organisasi yang kuat, sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia, serta PTMA yang berkembang pesat merupakan kekuatan yang tidak dimiliki banyak organisasi pendidikan lainnya. Tantangannya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada kemampuan menghubungkan seluruh potensi itu dalam satu sistem yang saling memperkuat.
Kolaborasi juga harus bergerak dari hubungan administratif menuju kemitraan strategis. Penandatanganan nota kesepahaman tentu penting sebagai dasar kerja sama.
Namun, keberhasilan sesungguhnya diukur dari perubahan yang terjadi di sekolah: guru yang semakin profesional, kepala sekolah yang semakin visioner, pembelajaran yang semakin inovatif, dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah Muhammadiyah.
Di tengah persaingan pendidikan yang semakin ketat, masyarakat tidak hanya menilai sekolah dari kemegahan bangunan atau kelengkapan fasilitas. Orang tua semakin memperhatikan kualitas guru, kepemimpinan sekolah, budaya belajar, karakter lulusan, serta kemampuan sekolah mempersiapkan anak menghadapi masa depan. Karena itu, investasi terbesar bukan hanya pembangunan fisik, tetapi pembangunan manusia dan sistem yang menopangnya.
Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan pembaruan yang menjadikan pendidikan sebagai instrumen utama mencerdaskan kehidupan bangsa. Semangat tajdid tersebut perlu diterjemahkan kembali dalam konteks kekinian melalui penguatan ekosistem pendidikan. Dengan ekosistem yang sehat, inovasi tidak berhenti pada individu tertentu, tetapi menjadi budaya organisasi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sudah waktunya keberhasilan sekolah Muhammadiyah tidak dipandang sebagai keberhasilan satu sekolah semata, melainkan keberhasilan seluruh Persyarikatan. Sebaliknya, ketika ada sekolah yang mengalami kesulitan, seluruh jejaring Muhammadiyah NU perlu hadir memberikan solusi. Di situlah makna kolaborasi memperoleh bentuk nyatanya.
Masa depan pendidikan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program yang dilaksanakan setiap tahun, tetapi oleh kemampuan membangun ekosistem yang membuat setiap sekolah mampu belajar, bertumbuh, dan terus berinovasi.
Program dapat berakhir ketika anggaran selesai, tetapi ekosistem akan terus hidup karena ditopang oleh kolaborasi, kepercayaan, kepemimpinan, dan budaya mutu.
Jika Muhammadiyah ingin terus menjadi pelopor pendidikan berkemajuan di Indonesia, maka agenda terpenting hari inibukan sekadar menyusun program baru. Agenda yang jauh lebih strategis adalah membangun ekosistem pendidikan yang menyatukan kekuatan PWM, PDM, Majelis Dikdasmen dan PNF, PTMA, sekolah, guru, kepala sekolah, alumni, serta masyarakat. Dari ekosistem itulah akan lahir sekolah-sekolah Muhammadiyah yang unggul, adaptif, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman.
*Ketua Program Studi Magister Administrasi Pendidikan FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta
Oleh Prof Dr Harsono*
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
