Logo Header Antaranews Jateng

Layanan posyandu terintegrasi, butuh kader kesehatan berkompeten

Jumat, 3 Juli 2026 09:08 WIB
Image Print
Kegiatan pelatihan kompetensi kader kesehatan di Kantor Desa Danurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jateng, beberapa waktu lalu. ANTARA/Dokumentasi Pribadi

Magelang (ANTARA) - "Sebenarnya ingin juga bisa memberi penyuluhan kesehatan, tetapi belum mengetahui bagaimana caranya," kata seorang kader kesehatan Desa Danurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupatern Magelang, Rini.

Seorang kader dari desa tetangga mengaku membutuhkan kepercayaan diri untuk memberikan penyuluhan kesehatan kepada warganya.

"Tidak banyak yang saya tahu, jadinya kurang PD (Percaya Diri) kalau memberi edukasi," kata kader dari Desa Mertoyudan, Suharmi, saat pertemuan peguyuban mereka.

Sedangkan seorang lainnya menyatakan merasa membutuhkan media pendukung untuk melakukan penyuluhan tersebut.

"Pengin memberikan penyuluhan, tapi tidak punya medianya,” kata Siti Nurkhasanah, kader Desa Donorojo.

Itulah sebagian ungkapan para kader kesehatan di bawah pembinaan Puskesmas Mertoyudan I, Kabupaten Magelang yang ditangkap sejumlah bidan desa di wilayah tersebut.

Berbagai ungkapan tersebut menampakkan semangat para kader untuk memperoleh pengetahuan memadai dan terbaru tentang kesehatan serta pelayanan kepada masyarakat.

Mereka seakan ingin menguasai kompetensi memberikan edukasi kesehatan masyarakat. Pelayanan yang dijalankan para kader selama ini di posyandu sebatas melakukan penimbangan dan pencatatan sasaran yang datang ke tempat layanan itu, seperti balita, ibu hamil, wanita usia subur, dan lansia. Penyuluhan kesehatan di posyandu selalu dilakukan oleh petugas kesehatan dari puskesmas.

Untuk menjawab pemenuhan kebutuhan akan kompetensi para kader, jalan pelatihan agaknya menjadi salah satu upaya penting yang bisa ditempuh. Kader kesehatan yang berkompeten berperanan penting memberikan edukasi kepada masyarakat. Pelayanan mereka mendukung tugas tenaga kesehatan. Kader kesehatan berbasis di posyandu, di bawah koordinasi dan pembinaan pihak puskesmas.

Layanan di posyandu yang biasanya secara rutin dibuka dalam waktu satu bulan sekali itu, salah satu bentuk upaya mewujudkan kesehatan bersumber daya masyarakat. Program posyandu yang sudah berlangsung sejak 1984 dilaksanakan di setiap desa menunjang pelayanan kesehatan, baik promotif maupun prefentif.

Program itu menyangkut siklus hidup meliputi ibu hamil, ibu bersalin dan nifas, bayi, balita, anak prasekolah, usia sekolah dan remaja, usia dewasa, dan lansia. Posyandu yang menjadi basis para kader mendukung puskesmas dalam pendekatan akses layanan kesehatan dasar kepada masyarakat.

Oleh karena sedemikian penting program posyandu, para kader dituntut memiliki kompetensi yang memadai agar pelayanan berjalan optimal, terintegrasi, dan berkelanjutan. Kapasitas para kader berupa penguasaan 25 kompetensi dasar bidang kesehatan, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/2015/2023 tentang Petunjuk Teknis Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP).

Pelatihan 25 kompetensi kader untuk mendukung pelayanan posyandu sesuai dengan era transformsi kesehatan layanan primer, layanan rujukan, sumber daya manusia, ketahanan kesehatan pembiayaan dan sistem digital, di mana fokusnya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui peningkatan dan penguatan promosi serta pencegahan bagi sasaran siklus hidup.

Saat ini, Kementerian Kesehatan sedang melaksanakan tranformasi layanan kesehatan primer, yaitu melakukan penguatan pelayanan kesehatan dasar dengan mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif, mengembangkan inovasi dan pemanfaatan teknologi, serta melakukan pendekatan strategi ILP, pemberdayaan masyarakat, dan kerja sama multisektor.

Penguasaan atas 25 kompetensi itu, sebagai kemampuan minimal para kader untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar secara efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan di masyarakat.

Penataan posyandu

Seiring dengan strategi ILP, posyandu menjalani penataan menjadi posyandu programatik, seperti Posyandu Kesehatan Ibu Anak (KIA), Posyandu Lansia, Posyandu Remaja, Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) Penyakit Tidak Menular (PTM) sehingga terintegrasi dalam lembaga kemasyarakatan desa atau kelurahan.

Guna menjalankan posyandu programatik dibutuhkan peningkatan keterampilan kader sebagai penggerak, penyuluh, dan pencatat. Melalui pelatihan tersebut, mereka menjadi berkompeten dalam kegiatan posyandu programatik. Tataran kompetensi mereka, meliputi kader tingkat purwa mampu menguasai tiga kelompok keterampilan, kategori madya empat kelompok keterampilan, dan kategori utama menguasai semua kelompok keterampilan.

Pelatihan kader posyandu menjadi strategi penting dalam pemberdayaan masyarakat karena bersifat promotif dan preventif yang membutuhkan kemampuan komunikasi, manajerial, dan keterampilan pelayanan kesehatan dasar secarag baik. Pelatihan peningkatan kapasitas kader terbukti efektif meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, terutama terkait dengan pengetahuan dan keterampilan.

Setidaknya pelatihan 25 kompetensi dasar kader kesehatan itu, telah dilaksanakan Puskesmas Mertoyudan I, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, secara bertahap sejak 2024 hingga 2026. Puskesmas tersebut memiliki total 455 kader tersebar di empat desa (Danurejo, Donorojo, Mertoyudan, Banyurojo) dan satu kelurahan (Sumberrejo).

Pelatihan kader pada 2024 meliputi dua desa, pada 2025 satu desa dan satu kelurahan, sedangkan pada 2026 satu desa. Hingga saat, pelatihan telah menjangkau 165 kader dengan rincian kategori purwa 26 orang, madya 126 orang, dan utama 13 orang.

Para bidan desa di wilayah puskesmas setempat mengoordinasikan pelatihan itu di desa masing-masing, sedangkan narasumber antara lain bidan, perawat, petugas promosi kesehatan, dan petugas gizi yang telah menjalani pelatihan 25 kompetensi kader.

Berbagai tahapan pelatihan meliputi persiapan, pelaksanaan berupa penjelasan langkah pelayanan seluruh siklus hidup, pengisian kartu bantu, demonstrasi cara pemberian penyuluhan atau edukasi, dan evaluasi, sedangkan materi pelatihan meliputi keterampilan pengelolaan posyandu, keterampilan pelayanan bayi dan balita, keterampilan pelayanan ibu hamil dan menyusui, keterampilan pengelolaan anak usia sekolah dan remaja, serta keterampilan pengelolaan warga usia produktif dan lansia.

Pelaksanaan pelatihan mengacu kepada sejumlah buku panduan dikeluarkan Kemenkes untuk pemberi materi atau pelatih, sedangkan setiap posyandu yang menjadi basis kader memperoleh buku panduan praktis untuk bekal mendampingi masyarakat setiap saat di masing-masing posyandu.

Hasil tes sebelum dan sesudah para kader menjalani pelatihan, setidaknya menunjukkan hasil positif terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam memberi pelayanan posyandu secara terintegrasi.

Untuk selanjutnya, mereka diharapkan memiliki kepercayaan diri lebih mantap dalam memberikan pelayanan, baik di posyandu, kunjungan rumah, maupun dalam relasi kemasyarakatan sehari-hari di lingkungan masing-masing.

Meskipun demikian, kiranya masih diperlukan penguatan kompetensi melalui pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan kepada para kader kesehatan.

*) Wiwit Purwaningsih S.ST,Bdn., Bidan Koordinator Puskesmas Mertoyudan I, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah; mahasiswa Program Studi Magister Kebidanan Stikes Guna Bangsa Yogyakarta



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026