Logo Header Antaranews Jateng

Menenun asa dari asrama, kisah anak SRMA 43 Magelang empaskan kemiskinan

Rabu, 24 Juni 2026 15:27 WIB
Image Print
Siswa Sekolah Rakyat berinteraksi dengan pengunjung pameran saat program Open House di Kompleks Sekolah Rakyat Menengah Atas 43 Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). Sebanyak 100 siswa SRMA 43 mengikuti program Open House dengan kegiatan gelar pentas seni, pameran prestasi karya siswa dan atraksi baris-berbaris yang merupakan pencapaian selama setahun mengikuti pendidikan. ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Magelang (ANTARA) - Kompleks Sentra "Antasena" Kabupaten Magelang, Jawa Tengah pada Sabtu (20/6), tampak lebih semarak ketimbang hari-hari biasa.

Alunan musik pengiring tari, deretan kain batik bermotif unik dipajang rapi, sedangkan deretan piala kejuaraan menjadi saksi bisu dari suatu transformasi besar.

Siapa sangka anak-anak remaja yang kini bertubuh tegap memperagakan keelokan baris-berbaris dengan disiplin semimiliter itu, setahun lalu sebagian besar mengubur dalam-dalam impian mereka tentang masa depan.

Hari itu, acara Open House perdana Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 43 Magelang, bagian dari sekolah berasrama diinisiasi Presiden Prabowo Subianto yang dirancang khusus untuk anak-anak berasal dari keluarga desil 1 dan desil 2 --kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling bawah.

Kepala SRMA 43 Magelang Sri Redjeki terlihat tersenyum tanda bangga saat menceritakan tentang 100 siswa angkatan pertama sekolah itu yang telah berkembang kehidupannya. Mereka, terdiri atas 47 siswa laki-laki dan 53 perempuan, terbagi dalam empat kelas.

Anak-anak ini tidak hanya belajar kurikulum nasional, mulai pukul 07.00 WIB hingga menjelang petang, akan tetapi pada sore hari, kehidupan mereka berlanjut dalam pengasuhan keasramaan secara ketat namun penuh kasih. Satu wali asuh mendampingi delapan hingga 10 anak. Slogan sekolah itu jelas dan kuat, "Cerdas Bersama, Tumbuh Setara".

"Rakyat kita yang miskin itu, bukan karena mereka malas. Tidak. Tapi karena keterbatasan pendidikan," ujar Sri dengan nada bergetar, penuh empati.

"Maka di situlah sekolah ini diadakan. Memberikan kesempatan dan fasilitas yang layak," ucapnya.

Sejumlah siswa Sekolah Rakyat melakukan yel-yel saat program Open House di kompleks Sekolah Rakyat Menegah Atas 43 Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Untuk menjaga kesetaraan dan menghindari kecemburuan sosial, aturan asrama dibuat rigid. Orang tua hanya boleh berkunjung dua minggu sekali. Makanan dari rumah diizinkan mereka bawa ke sekolah dalam batas wajar, sedangkan pakaian dan barang pribadi dilarang dibawa masuk. Semua yang melekat di tubuh siswa dicukupi secara seragam oleh negara.

"Kami ajarkan mereka 'life skill' (keterampilan hidup) yang bernilai ekonomi. Saat libur semester, kami bawakan mereka alat dan bahan untuk membatik kain ukuran 2x1 meter di rumah. Hasilnya luar biasa, ada 100 ragam corak berbeda yang mereka hasilkan," tambah dia.

Namun, upaya mengikis mentalitas "zero" menjadi "hero" bukanlah perkara mudah.

Sri mengakui kendala terbesar di awal masa mereka menjalani pendidikan di sekolah tersebut, berupa motivasi.

"Banyak yang masuk karena orang tuanya bilang, 'Ya sudah sekolah di sana karena kita tidak punya biaya'. Tapi dengan kesabaran guru dan wali asuh, sekarang mereka sudah bisa membuat 'roadmap' (peta jalan) masa depan mereka sendiri. Ada yang kami siapkan ke perguruan tinggi, ada yang ke ikatan dinas," kata dia.

Di sudut pameran, salah satu siswa, Usman Ardiansyah, terlihat berdiri memandangi kain batik karyanya. Remaja berasal dari Salaman, Kabupaten Magelang ini, menjadi potret nyata tentang peranan berarti SRMA 43 itu.

Sebelum diterima di sekolah ini, ia putus sekolah selama satu bulan. Ia harus bekerja serabutan untuk membantu menyambung hidup keluarganya. Ibunya seorang buruh, sedangkan sang ayah sudah dua bulan lebih tidak bisa bekerja karena menderita sakit di kaki.

"Sebelum ke sini, niatnya saya mau mondok lagi. Tapi karena ekonomi, ya saya berhenti. Saya satu bulan di rumah bekerja, lalu dipanggil ke sini," ucap Usman dengan suara lirih.

Bagi dia, tinggal di asrama selama 24 jam bersama teman-teman sebagai penyelamat hidup. Ia tidak lagi harus memikirkan beban biaya sekolah yang mustahil dipenuhi orang tuanya.

Di SRMA 43, ia justru menemukan bakat baru. Pengalaman paling berkesan baginya, yakni saat belajar membatik dan mengikuti pelatihan kesamaptaan di Batalyon Armed 3 bermarkas di Kota Magelang, relatif tak jauh dari sekolah tersebut.

"Menurut saya, sekolah rakyat itu emang, sekolah paling enak. Sangat membantu banget, karena orang tua jadi enggak perlu memikirkan biaya untuk sekolah saya," kata Usman dengan mata nampak berbinar, mengungkap gestur syukur.

Keberhasilan angkatan pertama SRMA 43 ini memperkuat langkah pemerintah daerah untuk bergerak lebih progresif. Kapasitas yang saat ini dipandang masih kurang jika dibandingkan dengan jumlah anak miskin dalam data desil 1 yang membutuhkan bantuan.

Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang David Rudianto menyatakan pemerintah kabupaten berkomitmen mendukung keberlanjutan dan perluasan sekolah ini.

Saat ini, pembangunan kampus utama di Kaliangkrik, Kabupaten Magelang dalam proses pengurusan lahan bersama Kementerian Kehutanan.

Sembari menunggu proses tersebut rampung, Pemkab Magelang bergerak cepat menyiapkan fasilitas penampungan untuk gelombang murid baru yang akan datang.

"Kita baru menyiapkan tempat untuk murid yang baru di Pusdik (Pusat Pendidikan) Tegalrejo. Kita melakukan rehabilitasi bangunan yang tidak layak pakai, nanti biar menjadi layak untuk sekolah dan asrama," ujar dia.

David menegaskan bahwa Bupati Magelang Grengseng Pamudji memberikan perhatian secara saksama terhadap isu pendidikan ini.

"Harapannya ke depan, daya tampungnya bisa lebih banyak lagi. Kita lihat sendiri prestasinya bagus, baru dari seni dan lainnya. Untuk prestasi pendidikan dan pengetahuannya, kami yakin ke depan akan jauh lebih meningkat," ujar dia.

Di Kompleks Sentra "Antasena" Kabupaten Magelang, harapan itu bukan lagi sekadar retorika politik atau teks di undang-undang dasar.

Lewat goresan malam di atas kain batik Usman dan ketegasan langkah baris-berbaris kawannya, rantai kemiskinan itu sedang diempaskan secara perlahan. Namun pasti!

Baca juga: Gubernur Jateng sebut Sekolah Rakyat solutif atasi kemiskinan
Baca juga: Mensos: Siswa Sekolah Rakyat dapat pemenuhan gizi



Oleh
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026