
OJK: keuangan digital tanpa literasi munculkan risiko

Solo (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut penggunaan keuangan digital tanpa dibekali oleh literasi bisa memunculkan risiko besar bagi penggunanya.
“Industri keuangan yang menerapkan keuangan digital sangat pesat, yang paling penting dari penggunaan keuangan digital selain inklusinya yang bisa menjangkau seluruh pelosok adalah literasi juga harus diseimbangkan,” kata Kepala Eksekutif OJK Dicky Kartikoyono pada Seminar Nasional UMKM Tangguh di Era Ekonomi Digital: Membangun Kesadaran Keamanan Siber di Kampus UNS Solo, Jawa Tengah, Kamis.
Ia mengatakan ketika menggunakan digital tanpa pemahaman dikhawatirkan justru risiko yang muncul lebih merugikan daripada manfaatnya.
“Mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya, ini harus kita dorong pemahaman yang baik, karena begitu bicara mengenai digitalisasi, industri keuangan bisa dikatakan menjadi instan, realtime, tanpa pemahaman, risiko besar, baru kemudian kita menangani masalahnya,” katanya.
Berbeda ketika antisipasi dilakukan sejak awal diharapkan permasalahan yang muncul dapat lebih diminalisasi.
“Dalam hal ini industri keuangan harus terlibat, bagaimana melindungi kepentingan konsumen. Ke depan harus bisa melindungi secara proaktif, masyarakat harus bisa membedakan mana yang legal dan ilegal sejak awal, masyarakat bisa mengecek yang mereka terima itu apakah scam, phishing, sprout, tentunya itu memberikan kekuatan berupa database bagi industri keuangan kita,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya terus aktif memberikan literasi ke berbagai kalangan masyarakat sambil terus melakukan kekuatan di awal.
“Ini sangat strategis, dimulai dari kampus. Beberapa waktu lalu kami juga sudah melakukan sosialisasi ke sekitar 6 juta ibu-ibu PKK, karena memang pemahaman terkait produk keuangan sangat penting,” katanya.
Termasuk kepada mahasiswa, dikatakannya, jika mereka terliterasi dengan baik maka mereka akan punya pemahaman terkait produk keuangan.
“Seyogyanya mereka memanfaatkannya kembali secara optimal dan menerima manfaatnya tanpa terekspos dengan risiko yang tinggi. Risikonya bisa mereka manage, karena mereka orang-orang yang knowledgeable. Gen Z itu dari lahir udah pegang handphone, apalagi Gen Alpha sekarang. Nah, itu yang kemudian harusnya kita asumsikan bahwa mereka mempunyai pemahaman yang baik terkait dengan digital,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Ekonom dan Guru Besar UNS Prof Wimboh Santoso, Ph.D. mengatakan pemahaman tentang produk dan bagaimana masyarakat melindungi data pribadi menjadi penting.
“Karena risikonya itu apabila data kita dipakai oleh orang lain, orang lain itu bisa melakukan transaksi atas nama kita. Itu yang harus diproteksi,” katanya.
Oleh karena itu, dikatakannya, masyarakat harus tahu bagaimana melindungi data pribadi.
“Kuncinya kan itu, supaya tidak disalahgunakan atau untuk penipuan dan sebagainya. Itulah yang pada hari ini kita melakukan edukasi literasi kepada masyarakat dan pelaku UMKM yang notabene biasanya masyarakat dan UMKM,” katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
