Logo Header Antaranews Jateng

DKPPP Temanggung: Luas tanam tembakau turun 5.000 ha sejak 2021

Rabu, 17 Juni 2026 16:30 WIB
Image Print
Kepala Bidang Holtikulturan dan Perkebunan, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung Sumarno memberikan penjelasan tentang alih fungsi lahan tembakau di Temanggung, Rabu (17/6/2026). ANTARA/Heru Suyitno

Magelang (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung mengungkapkan terjadi penurunan luas tanam tembakau sampai 5.000 hektare sejak tahun 2021.

"Pada tahun 2021, luas tanaman tembakau di Kabupaten Temanggung masih mencapai sekitar 18.600 hektare. Pada tahun 2025 luasannya tercatat sekitar 13.133 hektare atau berkurang hampir 5.000 hektare, kata Kepala Bidang Holtikultur dan Perkebunan, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung Sumarno di Magelang, Rabu.

Pada kegiatan "Membangun Dialog tentang Masa Depan PetaniTembakau, Kesehatan Masyarakat, dan Kebijakan Pengendalian Tembakau" yang diselenggarakan Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCCC), Sumarno menyampaikan bahwa pendekatan terhadap petani tembakau harus dilakukan secara hati-hati untuk alih fungsi lahan karena tanaman tembakau telah menjadi bagian dari budaya pertanian masyarakat Temanggung.

"Kami di bidang pertanian harus hati-hati. Pendekatannya memang berbeda karena di Temanggung budaya petani itu adalah tembakau," katanya.

Menurut dia, penurunan tersebut bukan karena adanya kebijakan yang memaksa petani meninggalkan tembakau, melainkan karena pergeseran sebagian lahan ke sektor hortikultura yang dinilai lebih menguntungkan.

Ia menyebutkan, salah satu komoditas yang mengalami peningkatan signifikan adalah cabai. Jika pada periode 2021 luas tanam cabai sekitar 4.000 hektare, maka pada tahun 2025 telah meningkat menjadi sekitar 12.000 hektare.

"Harga cabai kemarin relatif tinggi dan mampu bertahan cukup lama. Jadi tanpa disuruh pun petani mulai beralih ke komoditas yang dianggap lebih menguntungkan," katanya.

Meskipun demikian, katanya, tanaman tembakau tetap dipertahankan melalui pola tanam tumpangsari, pada bulan November petani biasanya menanam bawang putih, bawang merah, cabai, maupun komoditas hortikultura lainnya. Selanjutnya pada Maret hingga Mei lahan kembali ditanami tembakau.

"Di sejumlah lahan, pola tanam kini semakin beragam dengan kombinasi tembakau, cabai, kacang merah, dan berbagai jenis sayuran lainnya. Model ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani," kayanya.

Ketua MTCC Universitas Muhammadiyah Magelang Retno Rusdjijati menegaskan kesejahteraan petani tembakau dan perlindungan kesehatan masyarakat bukanlah dua kepentingan yang harus dipertentangkan.

"Petani perlu menjadi bagian dari solusi pembangunan yang berkelanjutan. Penguatan kesehatan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan petani bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila didukung oleh kebijakan yang tepat, berbasis bukti, dan dilaksanakan secara kolaboratif," katanya.

Ia menuturkan petani tembakau saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain ketidakpastian harga hasil panen, meningkatnya biaya produksi, perubahan iklim, keterbatasan akses pasar, serta ketergantungan pada komoditas tunggal yang rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan lingkungan.

Karena itu menurut dia, diperlukan berbagai upaya untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga petani melalui diversifikasi usaha dan pengembangan komoditas alternatif yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.


Baca juga: Disbudpar Temanggung ingatkan pengelola wisata mengutamakan keselamatan



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026