
Cilacap tingkatkan indeks tanam untuk capai target produksi padi

Cilacap (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, meningkatkan indeks pertanaman dari 2,1 menjadi 2,6 sebagai upaya mencapai target produksi padi sebanyak 834.712 ton pada tahun 2026 dalam rangka mendukung swasembada pangan nasional.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Cilacap Sigit Widayanto di Cilacap, Rabu, mengatakan peningkatan indeks pertanaman tersebut dilakukan melalui optimalisasi luas tambah tanam (LTT) yang ditargetkan mencapai 174.000 hektare.
“Target luas tambah tanam kita sesuai yang ditetapkan Kementerian Pertanian sebesar 174.000 hektare. Dari lahan baku sawah 66.000 hektare, indeks pertanamannya diharapkan meningkat dari 2,1 menjadi 2,6,” katanya.
Menurut dia, pencapaian target produksi padi sangat bergantung pada keberhasilan peningkatan luas tanam dan frekuensi tanam dalam setahun di lahan sawah yang tersedia.
Ia mengatakan sebagian besar petani di Cilacap telah menyelesaikan penanaman pada musim tanam ketiga.
Kendati demikian, masih terdapat sekitar 5.000-7.000 hektare lahan yang sedang maupun akan memasuki masa tanam pada Juni 2026.
Selain itu, sejumlah areal persawahan di beberapa wilayah juga bersiap memasuki masa panen, salah satunya berada di Desa Bulupayung, Kecamatan Kesugihan, dan selanjutnya dapat kembali ditanami apabila ketersediaan air mencukupi.
“Kalau sumber airnya cukup untuk tanam tiga kali, akan ditanami padi lagi. Kalau tidak cukup, ya ditanami palawija,” katanya.
Ia mengakui target LTT padi bulan Juni yang ditetapkan Kementerian Pertanian sekitar 23.000 hektare diperkirakan tidak dapat tercapai karena sebagian besar wilayah telah memasuki akhir masa tanam.
“Sebagian besar sudah tutup tanam. Yang belum tanam dan masih terinventarisasi paling sekitar 7.000 sampai 8.000 hektare,” katanya.
Bagi lahan yang tidak memiliki kecukupan air bagi budidaya padi, kata dia, petani diarahkan menanam komoditas palawija seperti jagung dan kacang hijau dengan dukungan bantuan benih dari pemerintah.
Meskipun demikian, padi tetap menjadi prioritas utama apabila kondisi sumber air memungkinkan untuk mendukung pertanaman.
Selain mendorong peningkatan luas tanam, Dispertan Cilacap juga melakukan koordinasi dengan petani terkait rencana penutupan sementara sejumlah jaringan irigasi untuk pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan.
Ia menjelaskan Daerah Irigasi Serayu dijadwalkan menjalani penutupan mulai 16 Juli 2026, sedangkan Daerah Irigasi Manganti khususnya Saluran Induk Cihaur akan ditutup pada September 2026.
“Sementara untuk Saluran Induk Sidareja tidak dilakukan penutupan,” katanya.
Menurut dia, jadwal tersebut telah disusun dengan mempertimbangkan fase pertumbuhan tanaman sehingga dampaknya terhadap kebutuhan air tanaman dapat diminimalkan.
Dengan demikian, kata dia, pada saat jadwal pengeringan itu tanaman sudah tidak begitu banyak membutuhkan air.
“Kami optimistis target produksi padi Kabupaten Cilacap tahun 2026 dapat tercapai melalui peningkatan indeks pertanaman, optimalisasi lahan sawah, dukungan infrastruktur irigasi, serta keberlanjutan pola tanam setelah panen di sejumlah wilayah,” kata Sigit.
Baca juga: Bupati Demak : Hasil panen padi rata-rata 6,7 ton per hektare
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
