
Bupati Banyumas: Jemparingan melatih ketenangan batin dan karakter

Banyumas (ANTARA) - Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan olahraga panahan tradisional atau jemparingan tidak hanya melatih keterampilan memanah, tetapi juga membentuk karakter dan ketenangan batin sehingga perlu terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.
"Olahraga ini merupakan bentuk pelatihan untuk membentuk karakter karena selain teknik yang harus dikuasai, juga diperlukan ketenangan dan kedamaian batin," katanya saat membuka Gladen Ageng Jemparingan lan Jegulan "Sadewo Cup V" di Alun-Alun Kecamatan Banyumas, Jawa Tengah, Minggu.
Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Banyumas mendukung penuh penyelenggaraan kegiatan tersebut sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus bagian dari cita-cita menjadikan Kota Lama Banyumas sebagai pusat kegiatan budaya di daerah itu.
Menurut dia, jemparingan dan jegulan memiliki nilai filosofis yang penting untuk dijaga agar tidak hilang akibat minimnya regenerasi.
Di tengah arus globalisasi, kata dia, budaya lokal harus terus diperkenalkan kepada generasi muda agar Indonesia tidak kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang kaya akan keragaman budaya.
"Kita harus menjaga agar budaya asli Nusantara tetap lestari dan dicintai generasi muda. Jangan sampai Indonesia yang terkenal dengan keragaman budayanya kehilangan jati dirinya," katanya.
Ia mengharapkan kegiatan yang mengusung semangat uri-uri budaya tersebut dapat terus digelar setiap tahun dan tetap berpusat di Kota Lama Banyumas.
Ditemui usai membuka kegiatan, Sadewo mengatakan Gladen Ageng Jemparingan lan Jegulan yang rutin digelar sejak 2022 atau saat dia masih menjabat Wakil Bupati Banyumas itu terus menunjukkan perkembangan positif dan kini telah menjadi agenda berskala nasional.
"Yang pertama animonya makin meningkat, terus saya ingin Banyumas menjadi destinasi wisata budaya. Jadi saya pertahankan setiap tahun agenda ini tetap ada di Banyumas," katanya.
Menurut dia, peserta kegiatan tidak hanya berasal dari Banyumas, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Solo, Jawa Barat hingga luar Pulau Jawa.
"Mudah-mudahan kegiatan ini bisa berlanjut terus setiap tahun secara kontinu dan menjadi daya tarik wisata untuk Kota Banyumas ini," kata Bupati.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Panahan Tradisional Indonesia (Perpatri) Kabupaten Banyumas Yugo Triyono mengatakan Gladen Ageng Jemparingan lan Jegulan tahun 2026 diikuti 302 peserta dari 99 paguyuban yang tersebar di wilayah Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta, dan Banten.
Menurut dia, jumlah peserta meningkat dibandingkan tahun sebelumnya setelah panitia memperluas koordinasi dengan jaringan Perpatri, terutama di Jawa Barat.
Pihaknya juga mulai mengenalkan jemparingan kepada pelajar SD, SMP, dan SMA untuk mendorong regenerasi atlet dan pegiat panahan tradisional.
Selain jemparingan, kegiatan tersebut juga mempertandingkan kategori jegulan yang tahun ini diikuti 46 peserta, meningkat dibandingkan sekitar 28 peserta pada tahun sebelumnya.
Ia menjelaskan jegulan memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi karena pemanah menarik busur hingga dada dan tidak dapat melihat sasaran secara langsung.
"Kalau jegulan paling sulit karena benar-benar mengandalkan rasa dan konsentrasi. Sasaran tidak bisa dilihat secara langsung, sehingga memanah dilakukan dari hati," katanya.

Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
