Logo Header Antaranews Jateng

Komnas PA Temanggung mengimbau masyarakat tingkatkan perlindungan anak

Sabtu, 13 Juni 2026 17:17 WIB
Image Print
Ketua Komnas PA Kabupaten Temanggung Totok Cahyo Nugroho memberi keterangan pada wartawan. ANTARA/Heru Suyitno

Temanggung (ANTARA) - Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap perlindungan anak melalui pengawasan, pendampingan, serta edukasi yang berkelanjutan guna mencegah berbagai bentuk kekerasan maupun perilaku yang berpotensi merugikan masa depan anak.

Ketua Komnas PA Kabupaten Temanggung Totok Cahyo Nugroho, di Temanggung, Sabtu, mengatakan menjamur kasus pelecehan seksual terhadap anak serta fenomena LGBT perlu menjadi perhatian bersama karena diduga mulai menyasar kalangan anak dan pelajar, termasuk di lingkungan pendidikan.

Ia menuturkan berdasarkan sejumlah aduan masyarakat dan hasil monitoring terhadap berbagai persoalan anak, pihaknya masih menemukan banyak laporan terkait kekerasan maupun pelecehan seksual yang melibatkan anak.

Menurut dia, kondisi tersebut harus menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat, mengingat anak tidak hanya berpotensi menjadi korban, tetapi dalam beberapa kasus juga dapat terlibat sebagai pelaku.

"Dalam berbagai aduan dan pemantauan yang kami lakukan, masih banyak ditemukan kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak, termasuk yang melibatkan kalangan pelajar," katanya.

Selain persoalan kekerasan seksual, Komnas PA Temanggung juga menyoroti fenomena LGBT yang dinilai semakin terlihat di berbagai platform media sosial. Totok mengungkapkan, pihaknya menemukan sejumlah komunitas yang terindikasi mengarah pada aktivitas LGBT dan melibatkan anggota dari kalangan anak maupun pelajar.

"Kita semua bisa merasakan, belakangan ini di berbagai platform media sosial muncul fenomena yang mengarah ke LGBT. Mirisnya, tidak sedikit yang berasal dari kalangan anak dan pelajar. Bahkan kami memantau di salah satu platform terdapat grup-grup komunitas yang terindikasi menyimpang, termasuk di Kabupaten Temanggung," katanya.

Ia menduga kemudahan akses media sosial menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya fenomena tersebut. Selain itu, lemahnya pengawasan dari lingkungan terdekat anak juga dinilai turut berkontribusi.

Menurut dia, pengawasan yang dimaksud mencakup peran orang tua, keluarga, lingkungan sosial, pergaulan sehari-hari, hingga lingkungan pendidikan tempat anak menempuh pendidikan.

"Tidak hanya LGBT, tetapi jangan mengesampingkan juga predator kekerasan dan pelecehan seksual yang menyasar anak. Kita bisa melihat berbagai kasus yang muncul akhir-akhir ini. Karena itu, kami meminta seluruh pihak lebih peka terhadap perkembangan dan perilaku anak masing-masing. Ini sangat berbahaya dan dapat menimbulkan efek berantai," katanya.

Baca juga: BPBD Temanggung imbau pendaki tidak membuat api unggun



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026