Logo Header Antaranews Jateng

Mangkunegaran Surakarta ajak masyarakat Mulih Pulih pada malam 1 Sura

Kamis, 11 Juni 2026 18:21 WIB
Image Print
Ketua penyelenggara kirab pusaka malam 1 Sura Pura Mangkunegaran GRaj Ancillasura Marina Sudjiwo atau akrab disapa Gusti Sura (tiga dari kanan) memberikan keterangan kepada wartawan di Solo, Jawa Tengah, Kamis (11/6/2026). ANTARA/Aris Wasita

Solo (ANTARA) - Pura Mangkunegaran Surakarta, Jawa Tengah mengajak masyarakat Mulih Pulih pada peringatan malam 1 Surakarta BE 1960, Selasa (16/6).

“Kami mengundang masyarakat untuk pulang, untuk mulih. Pulang ke rumah, pulang kembali ke diri sendiri, pulang ke semesta, menemukan jati diri, memulihkan diri sendiri,” kata Ketua penyelenggara kirab pusaka malam 1 Sura Pura Mangkunegaran GRaj Ancillasura Marina Sudjiwo atau akrab disapa Gusti Sura, Kamis.

Ia mengatakan Mulih Pulih bukan sekadar tema, melainkan juga sebuah laku. Mulih disimbolisasikan dalam tiga lapisan yang saling melapisi. Pertama, perjalanan geografis, yaitu kembali ke Solo dan ke Pura Mangkunegaran.

Kedua adalah perjalanan identitas, yaitu kembali ke akar kebudayaan yang mengandung nilai tirakat dan laku, sedangkan yang ketiga adalah perjalanan paling dalam, yaitu kembali ke dalam diri sendiri menuju manunggal dan suwung, keheningan yang memulihkan.

“Dari mulih itulah pulih tumbuh,” katanya.

Ia mengatakan malam 1 Sura ini tidak hanya berlangsung saat malam hari tetapi rangkaian kegiatannya juga akan berlangsung selama 24 jam atau satu hari penuh.

“Acara Sura ini bukan acara tontonan atau festival, tapi ini acara sakral atau adat, perjalanan kirab yang kita jalani bersama-sama. 1 Sura selalu identik dengan ruang hening untuk mengosongkan diri, mempersiapkan diri menyambung tahun yang baru, ritual adat untuk kembali ke diri,” katanya.

Ia mengatakan untuk rangkaian kegiatannya dibagi menjadi tiga fase, yakni Atika, Atiki, dan Anagata. Untuk Atika, dikatakannya, merupakan fase melepaskan yang sudah lewat.

“Ini kita wujudkan dalam kirab pusaka,” katanya.

Sedangkan untuk Atiki yakni kesadaran diri menciptakan ruang kosong untuk kemudian diisi lagi dengan sesuatu yang akan datang. Ia mengatakan hal ini diwujudkan dengan semedi di tengah malam.

Untuk Anagata, dikatakannya, merupakan fase menyambut yang akan datang di tahun yang baru.

“Ini diwujudkan dalam laku catur sembah. Ini yang menjadi pembeda dari tahun-tahun lalu,” katanya.

Ia mengatakan tiga fase tersebut dilakukan secara berkesinambungan. Pada 16 Juni 2026, rangkaian Atita dibuka dengan doa bersama dan santap sore (mutih) sebagai ungkapan syukur sekaligus pembuka laku tirakat, di Pracima Tuin. Tamu undangan kemudian memasuki pameran instalasi Surakusuma di Bale Sisworini, sebuah pameran yang dipersembahkan oleh Sanasuka bagian dari Abdi Muda Mangkunegaran.

Pameran ini merupakan representasi pengalaman menelusuri tiga dimensi waktu: Atita (yang telah lewat), Atiki (saat ini), dan Anagata (yang akan datang).

“Pameran ini terbuka untuk masyakarat sepanjang bulan Juni 2026. Setelah itu akan dilanjutkan dengan prosesi Kirab Pusaka Dalem, arak-arakan pusaka keraton yang dilangsungkan setiap tahun dalam momentum 1 Sura. Arak-arakan ini akan berjalan dalam tapa bisu mengelilingi tembok luar Pura Mangkunegaran,” katanya.

Selanjutnya, pada tengah malam tepat pada pergantian tahun, dilanjutkan dengan Atiki, yaitu fase untuk hadir di ruang antara atau ruang kosong melalui sebuah ritual semedi di Pendhapa Ageng dan Dalem Ageng.

“Semedi merupakan puncak laku tirakat malam 1 Sura. Keesokan harinya, pada 17 Juni 2026 Mangkunegaran menggelar kegiatan Anagata, yaitu fase menyambut yang akan datang,” katanya.

Ia mengatakan untuk fase meditasi ini memberikan pengalaman sensori yang berakar pada tradisi.

“Dimulai dengan Laku Catur Sembah sebagai ritual penyambutan fajar, dilanjutkan dengan menulis kartu harapan, dan ditutup dengan sesi Larasati, meditasi napas dan harmoni yang berkolaborasi dengan Terigu Studio dan Bottlesmoker,” katanya.

Ia mengatakan rangkaian kegiatan ini memberikan pengalaman yang berakar pada tradisi Jawa sebagai cara tubuh, jiwa, dan kesadaran menyambut yang akan datang.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026