
Ketua Komjak RI Pujiyono Suwadi ajak anak muda jadi bagian dari solusi

Solo (ANTARA) - Ketua Komisi Kejaksaan RI Prof. Dr. Pujiono Suwadi mengajak anak muda menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa.
Pujiono saat berbicara di hadapan mahasiswa, pelajar, dan pemuda dalam kegiatan Ngobrol Inspiratif: Anak Muda Bagian dari Solusi Negeri di Pendopo Pemkab Klaten, Jawa Tengah, Senin menyoroti fenomena media sosial yang lebih menonjolkan kritik dibanding gagasan untuk memecahkan masalah.
Menurut Pujiono, ruang digital saat ini cenderung memberikan panggung lebih besar kepada pihak-pihak yang mengkritik pemerintah dibanding mereka yang menawarkan solusi konkret bagi persoalan masyarakat.
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat melahirkan budaya pesimisme dan ketidakpercayaan yang berlebihan terhadap berbagai institusi publik.
”Kita lebih senang membaca soal ketidakpercayaan daripada prestasi. Orang yang mengkritik pemerintah seringkali lebih populer dibanding orang yang memberikan solusi,” katanya.
Meski demikian, Guru Besar Universitas Negeri Sembelas Maret (UNS) itu menegaskan kritik tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi.
Menurut dia, generasi muda tidak boleh kehilangan keberanian untuk mengkritik karena kritik lahir dari kepedulian dan kegelisahan terhadap keadaan.
Meski demikian, menurut dia kritik tidak boleh berhenti pada hujatan atau kemarahan semata.
”Jiwa mengkritik tidak boleh hilang. Tetapi kritik tidak boleh berubah menjadi hujatan yang berlebihan. Setelah kritik harus ada tindak lanjut berupa solusi,” ujarnya.
Pujiono mengatakan bangsa yang maju dibangun oleh masyarakat yang mampu mengubah kegelisahan menjadi tindakan nyata. Oleh karena itu, anak muda didorong tidak hanya menjadi pengamat persoalan, tetapi juga hadir sebagai bagian dari penyelesaiannya.
Ia mengatakan salah satu syarat utama agar negara dapat berjalan baik adalah menempatkan hukum sebagai panglima.
Menurutnya, berbagai penyimpangan, termasuk korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, muncul ketika kewenangan tidak dibatasi oleh hukum yang kuat.
”Kalau hukum tidak dijadikan panglima, maka kesewenang-wenangan akan muncul. Kewenangan yang tidak dibatasi hukum akan melahirkan penyalahgunaan kekuasaan,” katanya.
Ia melihat adanya optimisme dalam penegakan hukum saat ini, ditandai dengan sejumlah penindakan terhadap kasus-kasus yang menjadi perhatian publik. Namun ia menekankan bahwa aparat penegak hukum tetap harus terbuka terhadap kritik dan pengawasan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Klaten M. Aria Rosyid mengajak generasi muda membangun budaya sadar hukum sejak dini melalui prinsip Kenali Hukum, Jauhi Hukuman.
Menurut dia, pemahaman hukum menjadi bekal penting agar anak muda tidak terjerumus dalam berbagai pelanggaran yang dapat merusak masa depan mereka.
Ia juga menyoroti masih adanya ancaman penyalahgunaan narkotika di Klaten dan meminta para pemuda menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing.
Selain itu, menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa di sejumlah wilayah, ia mengajak generasi muda ikut mengawasi jalannya demokrasi agar terhindar dari praktik-praktik negatif.
”Anak muda harus menjadi bagian dari solusi, baik dalam menjaga lingkungan sosial maupun mendukung pembangunan daerah,” katanya.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menilai tantangan lain yang dihadapi generasi muda saat ini adalah derasnya arus informasi yang kerap membuat mereka terjebak dalam hoaks dan pandangan sepihak.
Menurut Hamenang, banyak anak muda akhirnya memiliki persepsi negatif terhadap pemerintah hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial tanpa memahami persoalan secara utuh.
Ia mengingatkan semakin lebar jarak antara pemerintah dan generasi muda, semakin sulit pula suatu daerah berkembang.
Oleh karena itu, Pemkab Klaten berupaya membuka ruang partisipasi melalui berbagai program, mulai dari Sistem Informasi Ketenagakerjaan dan Industri (Sikendali), beasiswa pendidikan, creative hub, hingga layanan pengaduan masyarakat.
”Jangan hanya menjadi objek. Anak muda harus menjadi subjek pembangunan dan ikut menentukan masa depan daerahnya,” katanya.
Ia mengatakan pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. Menurutnya, fondasi pembangunan yang dikerjakan saat ini pada akhirnya akan dilanjutkan oleh generasi muda yang kelak memimpin Klaten dan Indonesia.
”Mulailah mengganti pesimisme dengan optimisme. Kalau anak muda dan pemerintah bisa berjalan bersama, maka masa depan daerah akan jauh lebih baik;” katanya.
Acara digelar oleh Solusi Indonesia bersama Kejaksaan Negeri Klaten, Pemkab Klaten dan Bank Jateng. Dalam acara yang dihadiri 100 orang itu juga menghadirkan pembicara Pemerhati Pembangunan Jateng, Zulkifli Gayo, Local Hero Klaten, Fikky Arif Ardianta dan pembicara Bank Jateng Cabang Kalten, Anggar Priambodo.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
