Logo Header Antaranews Jateng

Produksi kopi Temanggung alami penurunan 40--60 persen akibat cuaca ekstrem

Jumat, 5 Juni 2026 15:34 WIB
Image Print
Sesepuh adat setempat bersama warga memetik kopi saat tradisi Nublek Kopi atau mengawali panen kopi di Desa Gunung Gempol, Jumo, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (20/5/2026). Masyarakat petani kopi robusta di desa wisata konservasi lingkungan Gunung Gempol menggelar tradisi turun-temurun tersebut sebagai wujud syukur dan permohonan kepada Tuhan agar diberi kelancaran dan keberhasilan dalam berbagai aktivitas mereka. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/tom.

Temanggung (ANTARA) - Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kabupaten Temanggung, Sumarno menyampaikan panen kopi tahun ini mengalami penurunan 40–60 persen, baik untuk kopi robusta maupun arabika karena pengaruh cuaca ekstrem pada saat pembungaan kopi.

"Penurunan tersebut disebabkan cuaca ekstrem pada saat fase pembungaan kopi, sehingga banyak bunga gagal berkembang menjadi buah karena curah hujan yang tinggi," katanya di Temanggung, Jawa Tengah, Jumat.

Ia mengatakan, meskipun produksi turun namun harga kopi arabika mengalami kenaikan. Harga cherry arabika saat ini berada di kisaran Rp20.000–Rp22.000 per kilogram, naik dibanding tahun lalu yang hanya Rp15.000 per kilogram.

"Kondisi ini diperkirakan akan berdampak pada kenaikan harga produk kopi arabika olahan," katanya.

Ia menyebutkan, luas panen kopi arabika di bulan Juni ini mencapai 1.700 hektare yang tersebar di wilayah dataran tinggi atau ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, terutama di lereng Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Prahu.

"Wilayah pengembangannya meliputi Kecamatan Selopampang, Tembarak, Tlogomulyo, Bulu, Parakan, Kledung, Bansari, Ngadirejo, Candiroto, Wonoboyo, Tretep, dan Kaloran," katanya.

Ia menuturkan, untuk meningkatkan produktifitas tanaman kopi, baik arabika maupun robusta tahun 2026 ini Temanggung mendapat bantuan bibit kopi sebanyak 600 ribu batang untuk kemudian ditanam di lahan 600 hektare.

"Dari kegiatan APBN itu kita dapat bantuan ada 100 hektare untuk peremajaan tanaman kopi robusta, karena banyak tanaman yang sudah tua. Kemudian yang arabika kita diangkat 1.600 , walaupun ini ada juga penanaman baru tahun ini kami mendapat kegiatan dari APBN, kami terima bibit ada 500 hektare. Kami berharap nanti bisa membantu para petani, karena sekarang animo untuk menanam kopi di Temanggung laur biasa," katanya.

Baca juga: Tradisi nublek kopi Temanggung warnai awal panen kopi 2026



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026