
Belanja militer global tahun 2025 capai Rp49,79 kuadriliun

Tokyo (ANTARA) - Belanja militer global mencapai rekor 2,89 triliun dolar AS (sekitar Rp49,79 kuadriliun) pada 2025, naik 2,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, di tengah konflik yang terus berlangsung dan meningkatnya ketidakpastian keamanan, demikian laporan sebuah lembaga pemikir keamanan internasional, Senin.
Stockholm International Peace Research Institute menyebut kenaikan di Eropa dipicu oleh upaya negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) meningkatkan kemandirian, seiring meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat (AS) agar pembagian beban dalam aliansi diperkuat.
Belanja militer Eropa tercatat sebesar 864 miliar dolar AS (sekitar Rp14,88 kuadriliun), sementara Asia dan Oseania mencapai 681 miliar dolar AS (sekitar Rp11,73 kuadriliun). Beban militer global, yakni belanja militer sebagai persentase dari produk domestik bruto, naik menjadi 2,5 persen, level tertinggi sejak 2009.
Sementara itu, belanja militer AS turun 7,5 persen dari tahun sebelumnya menjadi 954 miliar dolar AS (sekitar Rp16,43 kuadriliun) pada 2025, terutama karena tidak adanya persetujuan bantuan finansial militer baru untuk Ukraina sepanjang tahun tersebut, menurut analisis lembaga itu.
China, sebagai negara dengan belanja militer terbesar kedua di dunia, meningkatkan pengeluarannya sebesar 7,4 persen menjadi sekitar 336 miliar dolar AS (sekitar Rp5,78 kuadriliun).
Rusia yang berada di peringkat ketiga menaikkan belanjanya sebesar 5,9 persen menjadi sekitar 190 miliar dolar AS (sekitar Rp3,2 kuadriliun). Belanja militer Israel turun 4,9 persen menjadi 48,3 miliar dolar AS (Rp832,2 triliun).
Sumber: Kyodo-OANA
Pewarta: Primayanti
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
