Logo Header Antaranews Jateng

Pedagang Pasar Parakan meriahkan Hari Kartini dengan peragaan busana

Selasa, 21 April 2026 20:22 WIB
Image Print
Para pedagang berlenggak lenggok peragakan busana dalam rangka Hari Kartini 2026 di Pasar Parakan, Kabupaten Temanggung, Selasa (21/4/2026) ANTARA/Heru Suyitno

Temanggung (ANTARA) - Para pedagang Pasar Legi Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, memeriahkan peringatan Hari Kartini 2026 dengan menggelar peragaan busana.

Kepala Pengelolaan Pasar Daerah Wilayah Parakan Hebi Tatak Purwantoro di Temanggung, Selasa, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pedagang yang tetap meluangkan waktu memperingati hari besar nasional di tengah kesibukan pasar.

Pada kesempatan tersebut, usai menggelar upacara Hari Kartini, para pedagang melakukan peragaan busana dari dengan berbagai gaya mereka sambil membawa barang dagangannya .

"Inilah bentuk nyata emansipasi. Di era digitalisasi dan tantangan global, perempuan tidak lagi hanya menjadi tulang rusuk, tapi banyak yang telah menjadi tulang punggung keluarga," kata Tatak.

Ia mencatat fenomena menarik di Pasar Parakan, di mana komposisi pedagang didominasi oleh kaum perempuan.

"Hampir 80 persen pejuang ekonomi di pasar ini adalah perempuan, sedangkan bapak-bapak hanya 20 persen. Ini membuktikan kekuatan perempuan dalam menopang kehidupan," katanya.

Ia juga mendorong para pedagang untuk beradaptasi dengan teknologi dalam berdagang. Salah satu bentuk perjuangan ekonomi masa kini adalah kemampuan memanfaatkan teknologi agar barang dagangan bisa menjangkau pembeli hingga ke rumah tanpa harus bertatap muka langsung.

Ketua Panitia Hari Kartini Pasar Legi Parakan Iwan Susanti menekankan bahwa makna Hari Kartini adalah bentuk penghormatan atas perjuangan R.A. Kartini dalam menyetarakan hak antara pria dan wanita.

Ia menuturkan, meskipun dilakukan secara spontan tanpa konsep yang rumit, kegiatan ini berhasil memberikan ruang bagi para perempuan pasar untuk mengekspresikan diri sekaligus merayakan semangat perjuangan R.A. Kartini.

Menurut dia, acara yang diisi dengan aksi peragaan busana para pedagang ini menjadi momentum refleksi kesetaraan gender di era digital.

Ia menuturkan, emansipasi saat ini telah memungkinkan perempuan melakukan hal-hal yang dahulu hanya didominasi laki-laki.

"Di era globalisasi ini, kita mewujudkan kesetaraan gender melalui emansipasi. Dengan teknologi yang semakin maju, Kartini masa kini harus lebih berdaya, cerdas, dan berpendidikan. Kita harus menggunakan teknologi untuk memberdayakan diri," katanya.

Ia menjelaskan, terkait filosofi kebaya yang dikenakan para pedagang, kebaya bukan sekadar pakaian, melainkan simbol keanggunan dan perlawanan terhadap kebodohan.

"Kebaya adalah simbol budaya luhur Indonesia yang mengandung nilai sopan santun. Momentum ini menjadi refleksi bagi perempuan untuk terus berkarya dan memanfaatkan peluang digitalisasi tanpa meninggalkan akar budaya bangsa," katanya.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026