Logo Header Antaranews Jateng

Anggota DPR mengajak semua pihak cari solusi kelangkaan plastik

Sabtu, 18 April 2026 05:34 WIB
Image Print
Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (17/4/2026) sore, mengajak semua pihak mencari solusi untuk mengatasi kelangkaan plastik. (ANTARA/Sumarwoto)

Purwokerto (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mencari solusi atas kelangkaan serta lonjakan harga plastik yang berdampak pada masyarakat luas, termasuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Ini membutuhkan kearifan kebijakan dari seluruh pihak bagaimana menghadapi dan menyiasati persoalan ini agar bisa kita carikan jalan keluar tanpa menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat sore.

Dia mengatakan plastik selama ini menjadi salah satu bahan penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama sebagai kemasan berbagai produk kebutuhan masyarakat maupun hasil produksi UMKM.

Namun dalam kondisi saat ini, kata dia, kelangkaan plastik yang terjadi disertai kenaikan harga telah menimbulkan tantangan baru yang perlu direspons secara bijak.

Menurut dia, situasi tersebut tidak dapat dihadapi dengan pendekatan tunggal, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mencari jalan keluar yang realistis dan berkelanjutan.

Kebijakan yang diambil juga diharapkan tidak menimbulkan dampak sosial yang lebih luas.

Siti menilai salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah penggunaan bahan alternatif pengganti plastik untuk kemasan, seperti daun, kertas, atau material lain yang lebih ramah lingkungan, selama masih memenuhi fungsi dasar sebagai pelindung produk.

Selain itu, dia mendorong adanya perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan kemasan sekali pakai.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah membiasakan membawa wadah sendiri dari rumah, terutama saat membeli makanan atau barang yang dapat dibawa pulang.

“Kalau membeli makanan untuk dibawa, bisa disiasati dengan membawa wadah dari rumah atau menggunakan tempat yang bisa dipakai berulang,” kata Siti.

Meskipun demikian, dia mengakui tidak semua jenis produk dapat dengan mudah beralih dari plastik, terutama untuk kemasan yang membutuhkan sifat kedap air, tahan bocor, atau higienis dalam jangka waktu tertentu.

Oleh karena itu, kata dia, solusi yang ditawarkan harus tetap mempertimbangkan aspek teknis dan kebutuhan di lapangan.

Lebih lanjut, dia menyoroti dampak langsung kelangkaan plastik terhadap pelaku UMKM yang selama ini sangat bergantung pada kemasan untuk mendistribusikan dan memasarkan produk mereka.

Dalam hal ini, kata dia, kenaikan harga dan keterbatasan pasokan dinilai dapat menambah beban operasional pelaku usaha kecil.

Menurut dia, UMKM saat ini masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar dapat terus bertahan dan berkembang, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.

“Karena itu, persoalan kemasan tidak boleh diabaikan karena memiliki dampak langsung terhadap keberlangsungan usaha,” katanya.

Dia juga mendorong pelaku UMKM untuk mulai beradaptasi dengan mencari alternatif kemasan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan sesuai kemampuan masing-masing, tanpa mengurangi kualitas produk yang dihasilkan.

Dia mengharapkan pemerintah bersama pemangku kepentingan lainnya dapat segera merumuskan kebijakan yang lebih jelas dan komprehensif untuk mengatasi persoalan kelangkaan plastik ini, sehingga tidak berkepanjangan dan tidak menimbulkan tekanan tambahan bagi masyarakat maupun pelaku usaha.

“Harapannya, persoalan ini bisa segera menemukan titik penyelesaian yang terbaik dan tidak menjadi beban berkepanjangan bagi masyarakat maupun pelaku usaha,” kata Siti.

Baca juga: Temanggung pantau dampak kenaikan plastik pada industri lokal



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026