Logo Header Antaranews Jateng

BI perkuat literasi keuangan digital generasi muda lewat Gerai Cerdas PeKA

Jumat, 10 April 2026 18:52 WIB
Image Print
Kerja sama terkait Gerai Cerdas PeKa hasil kolaborasi BI, Sekolah Vokasi UNS, dan DANA Indonesia di Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/4/2026). ANTARA/Aris Wasita

Solo (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) memperkuat literasi keuangan digital generasi muda lewat Gerai

Cakrawala Edukasi dan Ruang Diskusi Aman untuk Semua Konsumen Indonesia Peduli, Kenali, Adukan atau Gerai Cerdas PeKA di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Kepala Departemen Surveilans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen BI
Anton Daryono di sela peresmian di Sekolah Vokasi UNS Solo, Jawa Tengah, Jumat mengatakan gerai ini hadir sebagai ruang edukasi bagi mahasiswa untuk memahami pelindungan konsumen mulai dari peduli dan menjaga keamanan data pribadi, mengenali berbagai modus penipuan, hingga mengatasi risiko dengan tindakan cepat dan tepat saat bertransaksi digital.

Ia mengatakan program ini merupakan upaya kolektif untuk melindungi hak masyarakat sebagai konsumen di sektor keuangan, sekaligus menciptakan generasi muda yang lebih cerdas, kritis, dan terlindungi dalam ekosistem keuangan digital.

Peresmian gerai tersebut merupakan bagian dari kampanye nasional Gerakan Bersama Edukasi Pelindungan Konsumen (GEBER PK), sebuah langkah konkret hasil kolaborasi regulator, pelaku industri, asosiasi, dan institusi pendidikan untuk memperkuat edukasi dan pelindungan konsumen secara berkelanjutan.

“Kami melihat generasi muda, khususnya mahasiswa memiliki peran strategis sebagai digital native yang tidak hanya aktif menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menjadi agen edukasi di lingkungannya. Dengan pendekatan kolaboratif ini, kami ingin mendorong terbentuknya perilaku transaksi digital yang aman, bijak, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Sementara itu, keberadaan gerai tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BI, DANA Indonesia, dan Sekolah Vokasi UNS.

Chief of Legal and Compliance DANA Dina Artarini mengatakan penguatan literasi
harus berjalan beriringan dengan peningkatan adopsi teknologi.

“Pertumbuhan transaksi digital yang pesat perlu diimbangi dengan pemahaman yang kuat dari pengguna, terutama terkait keamanan dan perlindungan diri. Data SNLIK 2025 yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa literasi keuangan nasional masih berada di angka 66,46 persen, lebih rendah dibanding inklusi keuangan yang telah mencapai 80,51 persen,” katanya.

Ia mengatakan artinya perluasan akses harus terus diiringi dengan penguatan
pemahaman masyarakat, termasuk risiko dalam bertransaksi di ruang digital.

“Melalui inisiatif ini, kami ingin mendorong terbentuknya kebiasaan bertransaksi yang lebih waspada, sehingga kepercayaan terhadap ekosistem digital dapat terjaga,” ujar Dina.

Adapun Gerai CERDAS PeKA dirancang sebagai platform edukasi hybrid (offline dan
online) yang memungkinkan mahasiswa mengakses materi pelindungan konsumen,
mengikuti kampanye digital, hingga berpartisipasi dalam berbagai aktivitas seperti seminar terkait keamanan transaksi digital, social media challenge untuk menyebarkan edukasi, kompetisi inovasi terkait pelindungan konsumen hingga diskusi interaktif bersama industri.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatangan perjanjian kerja sama antara Sekolah Vokasi UNS dan Asosiasi Fintech Indonesia mengenai Peningkatan Literasi Keuangan Digital serta Pengembangan Sumber Daya Manusia Digital dan Program Kampus Berdampak. Rektor UNS Prof Hartono mengatakan transformasi digital di sektor keuangan berkembang sangat cepat, namun perkembangan ini tidak selalu diikuti oleh kesiapan literasi masyarakat.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2024, tingkat literasi keuangan Indonesia baru mencapai sekitar 65,43 persen yang berarti dari 100 orang, hanya sekitar 65 orang yang benar-benar memahami produk dan layanan keuangan dengan baik.

Di sisi lain, tingkat inklusi keuangan telah mencapai sekitar 75 persen yang menunjukkan akses terhadap layanan keuangan jauh lebih cepat meningkat dibandingkan dengan pemahaman masyarakat terhadapnya.

“Artinya, terdapat kesenjangan yang cukup besar masyarakat sudah menggunakan layanan keuangan digital, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko dan cara penggunaannya secara bijak,” katanya.

Ia mengatakan di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial, masyarakat justru dihadapkan pada meningkatnya kasus penipuan keuangan digital.

Data terbaru menunjukkan sejak akhir tahun 2024-2025 telah terdapat lebih dari 225.000 laporan kasus penipuan keuangan dengan total kerugian mencapai sekitar Rp4,6 triliun.

“Selain itu, ribuan pengaduan masyarakat terkait pinjaman online ilegal juga terus terjadi, menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang terjebak pada layanan keuangan yang tidak resmi dan berisiko tinggi. Kondisi ini menegaskan bahwa literasi keuangan digital adalah hal yang wajib menjadi perhatian kita bersama,” katanya.

Dalam konteks inilah, kehadiran Gerai Cerdas PeKa hasil kolaborasi DANA Indonesia dan Sekolah Vokasi UNS menjadi salah satu inisiatif yang patut diapresiasi.

“Kami berharap dengan adanya Gerai Cerdas PeKa ini akan berkontribusi dalam membangun generasi muda yang cerdas dalam bertransaksi digital, yang mampu mengenali risiko keuangan, dan yang bijak dalam memanfaatkan teknologi finansial,” katanya.



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026