
Program MAPAN Pertamina dorong kemandirian pangan di Kalijaran

Program MAPAN yang merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Kilang Cilacap
Cilacap (ANTARA) - Program Kalijaran Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan (MAPAN) binaan Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap terus mendorong kemandirian pangan masyarakat di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion/FGD) yang digelar di Aula Balai Desa Kalijaran, Kamis (2/4), dengan melibatkan warga, perangkat desa, akademisi, hingga manajemen Pertamina.
Area Manager Communication, Relations and CSR RU IV Cilacap Agustiawan mengatakan FGD menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan program berbasis masyarakat tersebut.
“Kami ingin mendengar langsung aspirasi masyarakat dan pemangku kepentingan agar program ini terus berkembang dan benar-benar mendorong kemandirian masyarakat,” katanya.
Program MAPAN yang merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Kilang Cilacap itu telah berjalan sejak 2023 dan terus berkembang hingga 2025, tidak hanya di sektor pertanian, tetapi juga menjangkau kawasan permukiman melalui optimalisasi lahan sebagai sumber pangan.
Ke depan, program tersebut ditargetkan semakin kuat melalui integrasi sektor pertanian dan peternakan berkelanjutan guna mendukung swasembada pangan serta pemenuhan gizi masyarakat, khususnya di Kecamatan Maos.
Agustiawan menambahkan manfaat program diharapkan dapat dirasakan secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dari sisi implementasi, masyarakat mulai merasakan dampak nyata, salah satunya melalui pengolahan padi berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) yang meningkatkan efisiensi produksi.
Unit penggilingan padi yang tersedia mampu melayani sekitar 20 konsumen per bulan dengan kapasitas penggilingan mencapai 1 ton.
Dari aktivitas tersebut, masyarakat memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp720 ribu per bulan, termasuk dari pemanfaatan hasil samping berupa dedak.
Selain itu, efisiensi energi juga menjadi nilai tambah. Untuk setiap 50 kilogram gabah, hanya dibutuhkan daya 1,25 kWh dengan biaya sekitar Rp2.000, sehingga dengan kapasitas 1 ton, penghematan dapat mencapai sekitar Rp40 ribu per bulan, ditambah efisiensi dari pengolahan dedak dengan nilai serupa.
Ketua Gapoktan "Margo Sugih" Priyatno mengatakan program MAPAN membantu petani meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.
“Sekarang kami bisa mengolah sendiri menjadi beras dan memanfaatkan dedaknya, sehingga hasilnya lebih terasa dan pendapatan meningkat,” katanya.
Ia menilai program tersebut tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri petani untuk mandiri.
Kepala Desa Kalijaran Sudarsono mengapresiasi program MAPAN yang dinilai membawa perubahan positif bagi masyarakat desa.
“Program ini sangat bermanfaat, terutama dalam menghidupkan lahan persawahan yang sebelumnya hanya mengandalkan tadah hujan. Dengan dukungan energi surya dan angin, pemanfaatan lahan menjadi lebih optimal,” katanya.
Ia berharap sinergi antara Pertamina, masyarakat, dan pemerintah desa dapat terus terjaga agar manfaat program semakin luas dirasakan.
Melalui forum diskusi tersebut, berbagai gagasan pengembangan program terus dirumuskan sebagai langkah menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan di Desa Kalijaran.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
