Logo Header Antaranews Jateng

Pengoperasian Pabrik Gula GMM Blora menunggu perbaikan mesin boiler

Selasa, 31 Maret 2026 16:03 WIB
Image Print
Truk pengangkut tebu sedang melakukan proses bongkar muat di PT Gendhis Multi Manis (GMM) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (ANTARA/Gunawan.)

Blora (ANTARA) - PT Gendhis Multi Manis (GMM) yang mengoperasikan Pabrik Gula GMM Blora, Jawa Tengah, memastikan setelah perbaikan boiler selesai, segera dioperasikan untuk menggiling tebu para petani karena kerusakan mesin boiler salah satu penyebab terganggunya operasional sepanjang 2025.

"Kami menghormati rencana aksi yang akan dilakukan para petani. Karena menyampaikan aspirasi merupakan hak setiap pihak, termasuk para petani tebu," kata Direktur Operasional Pabrik Gula PT Gendhis Multi Manis (GMM) Krisna Murtiyanto di Blora, Selasa.

Pada prinsipnya, kata dia, hak petani untuk menyuarakan pendapat dan keinginannya, yakni terkait tuntutan kepastian operasional pabrik pada musim giling 2026.

Hingga saat ini, kata dia, perbaikan dua unit boiler yang sebelumnya mengalami kerusakan masih berjalan.

"Mesin berbahan bakar batu bara dan bagasse tersebut mulai mengalami gangguan sejak Mei hingga Juni 2025," ujarnya.

Meski sempat dilakukan penggilingan, kata dia, mesin kembali mengalami gangguan pada September 2025 sehingga operasional pabrik harus dihentikan lebih awal dari rencana.

Saat ini, kata dia, perusahaan juga masih menunggu hasil kajian dari konsultan independen untuk mengetahui tingkat kerusakan mesin secara menyeluruh sekaligus menghitung kebutuhan biaya perbaikan.

"Estimasi sementara, perbaikan boiler dan sejumlah mesin lain diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp51 miliar," ujarnya.

Perusahaan berharap hasil kajian tersebut dapat menjadi dasar bagi Perum Bulog untuk memberikan dukungan pendanaan guna memulihkan operasional pabrik.

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora sendiri mulai menggalang donasi untuk mendukung aksi damai bertajuk "#NagihJanjiBulog" terkait operasional Pabrik Gula (PG) GMM di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Blora.

Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung pada Kamis (2/4) pukul 09.30 WIB di Alun-alun Blora.

Koordinator aksi Wahyuningsih mengatakan penggalangan donasi telah dibuka sejak Minggu (29/3) dan akan ditutup pada hari pelaksanaan aksi.

"Kami sudah mendapatkan bantuan 200 dus air mineral dan beberapa biskuit. Donasi hanya berupa minuman dan makanan kering. Kami tidak menerima uang," ujarnya.

Ia menjelaskan bantuan tersebut berasal dari berbagai elemen masyarakat, terutama para petani tebu. Dukungan juga datang dari daerah di luar Kabupaten Blora.

Dalam waktu dekat, APTRI juga akan menggelar konsolidasi lanjutan untuk mematangkan rencana aksi. Hingga saat ini sekitar 1.500 petani dari wilayah Kunduran dan Todanan telah menyatakan siap mengikuti aksi.

Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah setelah pendataan dari wilayah lain rampung.

Ketua APTRI Blora Sunoto mengatakan aksi damai tersebut diperkirakan akan diikuti sekitar 5.000 massa dari berbagai elemen masyarakat.

Selain itu, sekitar 200 truk direncanakan turut bergerak dari kawasan PT GMM di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, menuju Alun-alun Blora sebagai bagian dari rangkaian aksi.

Aksi tersebut, kata dia, merupakan bentuk penyampaian aspirasi petani kepada pemerintah sekaligus menagih komitmen Direktur Utama Bulog yang sebelumnya menjanjikan operasional kembali PG GMM pada musim giling 2026.

Komitmen tersebut, kata dia, mencakup penggantian dua unit boiler yang mengalami kerusakan berat serta pembenahan manajemen internal perusahaan agar operasional pabrik berjalan lebih baik.

"Petani ingin ada kepastian. Jangan sampai kejadian tahun lalu terulang lagi," ujarnya.

Ia menjelaskan para petani masih trauma dengan kerugian yang dialami pada musim giling 2025. Saat itu proses penggilingan tebu dihentikan lebih awal akibat kerusakan mesin boiler yang menjadi komponen utama operasional pabrik.

Akibat penghentian tersebut, banyak tebu petani tidak tergiling secara optimal sehingga menyebabkan kerugian yang diperkirakan mencapai Rp75 miliar.


Baca juga: 155 desa di Blora mengajukan pencairan Dana Desa Tahun 2026



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026