Logo Header Antaranews Jateng

Dinas Pertanian Cilacap menjaga produksi pangan hadapi ancaman El Nino

Selasa, 31 Maret 2026 13:56 WIB
Image Print
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap Sigit Widayanto. ANTARA/HO-Dinpertan CIlacap

Cilacap (ANTARA) - Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, terus mengintensifkan berbagai langkah strategis untuk menjaga produksi pangan dalam menghadapi ancaman fenomena El Nino pada musim kemarau 2026 dengan mendorong percepatan tanam serta optimalisasi sumber daya air.

"Upaya tersebut dilakukan seiring prakiraan musim kemarau yang mulai berlangsung di Cilacap pada Mei 2026, sehingga diperlukan langkah strategis sejak dini," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap Sigit Widayanto di Cilacap, Selasa.

Ia mengatakan Kabupaten Cilacap memiliki luas baku sawah mencapai 67.031 hektare dengan realisasi luas panen padi pada 2025 sebesar 132.681 hektare.

Dari capaian tersebut, kata dia, produktivitas padi rata-rata mencapai 64,44 kuintal per hektare dengan estimasi produksi sebesar 855.042 ton Gabah Kering Giling (GKG).

"Jika dikonversikan menjadi beras konsumsi, produksi tersebut setara dengan 507.438 ton beras, sementara kebutuhan beras masyarakat Cilacap sekitar 185.583 ton, sehingga masih terdapat surplus sekitar 321.854 ton," katanya.

Menurut dia, sejumlah kecamatan menjadi sentra produksi padi tertinggi, antara lain Kedungreja, Gandrungmangu, Kawunganten, Majenang, dan Wanareja, yang didukung luas lahan serta intensitas tanam yang optimal.

Pada tahun 2026 pihaknya menargetkan luas panen padi mencapai 136.335 hektare dengan estimasi produksi 834.712 ton. Sementara itu target Luas Tambah Tanam (LTT) padi pada Maret 2026 ditetapkan sebesar 9.342 hektare.

"Hingga 30 Maret 2026 realisasi tanam baru mencapai 6.465 hektare atau sekitar 69,20 persen. Ini menjadi dasar untuk terus mendorong percepatan tanam di seluruh wilayah," katanya.

Ia mengatakan percepatan tanam dilakukan dengan mengoptimalkan peran penyuluh pertanian, memastikan ketersediaan sarana produksi, serta memperkuat koordinasi lintas sektor.

Selain itu pihaknya juga mengidentifikasi berbagai sumber air yang masih dapat dimanfaatkan saat musim kemarau, seperti embung, dam parit, sumur dalam, sumur resapan, hingga sistem irigasi perpompaan dan perpipaan.

"Pengelolaan jaringan irigasi, baik primer, sekunder, tersier, maupun kuarter juga terus kami optimalkan untuk mendukung kebutuhan air pertanian," katanya.

Ia mengatakan hingga saat ini belum ada informasi terkait rencana pengeringan saluran irigasi dalam rangka perbaikan di Daerah Irigasi (DI) Serayu maupun DI Menganti, sehingga distribusi air untuk pertanian diharapkan masih dapat berjalan normal dalam waktu dekat.

Dalam menghadapi potensi kekeringan, kata dia, petani juga didorong untuk menyesuaikan pola tanam sesuai kondisi iklim dan ketersediaan air di masing-masing wilayah.

Pihaknya juga mensosialisasikan penggunaan varietas padi tahan kekeringan seperti Inpari 11, 18, 19, 20, hingga Inpari 46, serta varietas berumur genjah seperti Inpari 6, 12, dan Cakrabuana guna meminimalkan risiko gagal panen.

"Percepatan tanam dilakukan untuk mengejar sisa curah hujan, sekaligus memastikan kesiapan alat dan mesin pertanian serta sarana pengendalian organisme pengganggu tumbuhan," katanya.

Sigit mengatakan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat dalam mendukung gerakan percepatan tanam menuju swasembada pangan berkelanjutan di Kabupaten Cilacap.


Baca juga: El Nino di antara kemarau dan krisis air



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026