
Pemkab Batang mengoptimalkan bantuan susu PMK balita cegah gizi buruk

Batang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mengoptimalkan pemberian bantuan susu pangan medik khusus (PMK) kepada balita sebagai upaya mencegah gizi buruk serta kasus stunting.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Ida Susilaksmi di Batang, Sabtu, mengatakan pihaknya terus mendampingi anak-anak binaannya agar keluar dari kondisi stunting dan gizi buruk.
"Pada program pendampingan ini, kami telah mengintervensi 11 anak," katanya.
Dari jumlah tersebut, katanya, tiga anak dinyatakan lulus karena kondisi gizi membaik hingga kategori normal, tiga anak lainnya terpaksa drop out, dan delapan anak yang masih dalam pendampingan intensif.
"Yang sudah lulus tetap kami lanjutkan pemberian susu sampai jatahnya habis. Satu anak bisa mendapatkan hingga 50 dus susu," katanya.
Ia yang didampingi Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Batang Tan Evi Susanti itu, mengatakan hasil pendampingan menunjukkan perkembangan signifikan.
Anak-anak yang sebelumnya mengalami gizi buruk maupun gizi kurang, kata dia, kini berangsur membaik menjadi gizi baik, bahkan mereka yang sebelumnya mengalami stunting mulai menunjukkan pertumbuhan tinggi badan yang kembali normal.
"Salah satu contoh terdapat anak yang awalnya memiliki berat badan hanya 6,8 kilogram kini meningkat menjadi 10 kilogram," katanya.
Menurut dia, kategori gizi baik mengacu pada standar kurva pertumbuhan yakni berada di rentang minus dua hingga plus dua berdasarkan acuan Badan Kesehatan Dunia (WHO sehingga penilaian dilakukan secara objektif.
Pada proses penanganan, kata dia, tidak semua anak harus menggunakan selang makan. Jika asupan nutrisi melalui mulut sudah adekuat maka pemasangan selang tidak diperlukan.
"Kalau per mulut sudah cukup, tidak perlu pasang selang. Nanti dilihat saat kontrol. Namun, perjuangan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan seperti kurangnya konsistensi orang tua dalam menjalankan program intervensi meski mereka sudah diberikan edukasi," katanya.
Ia mengakui adanya mereka yang "drop out" dalam program intervensi itu, meskipun sudah dilakukan proses edukasi berulang-ulang.
“Sudah dilakukan edukasi berkali-kali, tapi tetap drop out. Ada yang merasa malu karena anaknya harus menggunakan selang makan, apalagi saat Lebaran,” ungkapnya.
Ia mengatakan program ini diperkirakan berlangsung minimal enam bulan sehingga orang tua harus benar-benar siap dan konsisten.
"Pemberian susu tinggi kalori ini menjadi harapan baru bagi orang tua, terutama yang selama ini terkendala biaya lanjutan terapi nutrisi," katanya.
Baca juga: Pemkab Batang gencarkan Satu Minggu Satu Buku untuk menunjang minat baca anak
Pewarta: Kutnadi
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
