Logo Header Antaranews Jateng

Selat Hormuz dan kedaulatan energi Indonesia

Rabu, 25 Maret 2026 13:29 WIB
Image Print
Dr. Akida Mulyaningtyas, Dosen Teknik Kimia UMS. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Ada sebuah selat sempit di belahan dunia lain, berjarak 7.000 kilometer dari Indonesia, yang jika ditutup mampu menghentikan denyut nadi perekonomian di Indonesia.

Selat itu saat ini sedang menjadi perhatian besar di dunia, namanya Selat Hormuz. Setiap kali ketegangan pecah di Selat Hormuz seperti yang sedang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat, kedaulatan energi Indonesia seolah sedang dipertaruhkan di atas meja judi geopolitik global.

Secara geografis, Selat Hormuz adalah jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya.Selat ini merupakan jalur minyak dunia karena 20-30 persen dari total konsumsi minyak dunia melewati jalur ini setiap harinya.

Negara-negara eksportir besar seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar juga sangat bergantung pada selat ini untuk mengirimkan produksi minyak buminya ke pasar internasional, termasuk ke Asia dan Indonesia.

Kondisi saat ini seharusnya bisa membuka mata kita untuk urusan energi dalam negeri. Betapa ketergantungan pada impor minyak mentah dari kawasan yang sedang bergejolak ini adalah kerentanan besar. Kedaulatan energi sejatinya berbeda dari ketahanan energi yang hanya pada tataran memastikan stok ada. Kedaulatan berarti kita tidak perlu peduli siapa yang sedang berperang di Timur Tengah untuk memastikan lampu di rumah-rumah tetap menyala dan kehidupan berjalan seperti biasa.

Untuk menjadi negara yang benar-benar berdaulat, ada dua pilar utama yang saat ini masih asing dalam penyediaan energi di Indonesia, yaitu diversifikasi energi dan desentralisasi produksi.

Diversifikasi energi adalah don't put all your eggs in one basket. Konteks peribahasa ini berarti tidak bergantung pada satu jenis energi saja atau monokultur energi. Bergantung hanya pada satu jenis energi adalah risiko keamanan nasional yang fatal. Kebutuhan energi di Indonesia sangat besar, sehingga diversifikasi energi harus menjadi prioritas.

Diversifikasi adalah perpaduan berbagai sumber energi yang disesuaikan dengan karakteristik geografis, mulai dari stabilitas panas bumi (geothermal) sebagai beban dasar, hingga bioenergi yang mengolah limbah pertanian menjadi bahan bakar cair atau gas. Dengan keberagaman sumber ini, sistem energi nasional menjadi lebih fleksibel, jika satu pasokan terganggu oleh faktor alam atau teknis, sumber energi lain siap menjaga stabilitas.

Alam Indonesia menawarkan spektrum energi alternatif yang luar biasa luas. Contohnya adalah panas bumi atau geothermal. Panas bumi adalah energi “beban dasar” (baseload) yang stabil dan kabar baiknya adalah Indonesia memiliki 40 persen cadangan dunia untuk panas bumi. Energi ini tidak bisa diembargo oleh negara lain karena sumbernya ada di bawah tanah milik kita sendiri dan bisa menjadi pengganti utama pembangkit listrik tenaga uap (batubara) dan minyak bumi untuk industri skala besar.

Sumber lain yang dapat diandalkan adalah bioenergi yang berbasis bioteknologi. Bioenergi didapat dari mengubah material alam menjadi bahan bakar produktif melalui jalur bioteknologi. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang bersifat ekstraktif dan terbatas, siklus karbon pada produksi bioenergi lebih tertutup dan berkelanjutan.

Contoh bioenergi adalah pengolahan limbah cair sawit (POME: palm oil mill effluent) menjadi biogas, produksi minyak nabati menjadi biodiesel, hingga konversi selulosa limbah pertanian menjadi bioetanol generasi kedua. Intinya, bioenergi adalah energi yang dihasilkan melalui konversi bioteknologi, yaitu menggunakan bahan baku natural dan sering juga melibatkan mikroorganisme.

Keunggulan utamanya terletak pada fleksibilitas sumber daya lokal yang melimpah di setiap daerah, yaitu setiap wilayah mampu memproduksi energinya sendiri dari potensi hayati sekitarnya, sekaligus mengolah limbah pertanian secara terstruktur dan masif. Ini model two-in-one yang menyelesaikan dua masalah yaitu menyediakan energi dan mengolah limbah. Sumber energi berdaulat lainnya yang terkenal adalah energi panas matahari, energi angin dan energi air (mikrohidro).

Dengan diversifikasi energi, kita bisa menciptakan sistem yang adaptif. Jika satu sumber mengalami gangguan, misalnya debit air di waduk PLTA menyurut akibat kemarau panjang, kita masih memiliki pasokan dari panas bumi dan bioenergi. Namun perlu diingat, sebersih apa pun produksi energi, ketika diadakan dalam jumlah besar, maka akan berpotensi menjadi tidak bersih.

Misalnya biodiesel yang dihasilkan dari minyak nabati. Butuh perkebunan yang luas untuk pasokan bahan baku biodiesel sehingga memenuhi kebutuhan nasional. Ketika kebutuhan semakin meningkat, perlu membuka lahan baru perkebunan yang nantinya akan berujung pada pembalakan hutan. Sehingga, mengalihkan produksi energi pada sumber-sumber lain akan mengurangi beban lingkungan juga.

Selain itu, kebutuhan energi juga tidak boleh bersaing dengan kebutuhan pangan karena jika itu terjadi maka akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar. Artinya, dalam diversifikasi energi, kebutuhan bahan baku bukan dari tanaman pangan primer dan mencakup kebutuhan banyak orang. Idealnya menggunakan sumber nabati yang telah menjadi limbah.

Desentralisasi energi adalah pilar yang kedua. Desentralisasi energi adalah don't keep all your baskets in one warehouse. Dalam sistem terpusat (sentralisasi), meskipun ada berbagai jenis telur (dalam hal ini sumber energi), jika gudang utamanya terbakar atau jalurnya diblokir (seperti konflik di Selat Hormuz) atau ada gangguan pada jaringan transmisi, maka telur atau energi tetap tidak bisa sampai ke rumah-rumah yang membutuhkan.

Jika ada proses produksi energi di wilayah tertentu mengalami masalah, maka wilayah lain tidak ikut gelap gulita karena ada sumber pasokan sendiri di daerah masing-masing yang lebih terakses. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau berpenghuni juga akan sesuai dengan prinsip desentralisasi energi.

Lebih terjangkau, baik dalam akses maupun biaya. Di dunia, ada contoh negara-negara yang sudah menerapkan transisi tersebut untuk kebutuhan energi dalam negeri. Dua contoh tersebut adalah Brasil dan Jerman. Brasil memandang diversifikasi energi sebagai alat diplomatik agar tidak tergantung pada gejolak geopolitik global.

Mereka telah lama mengembangkan etanol berbasis tebu sebagai bahan bakar utama sehingga Brasil menjadi sangat adaptif terhadap fluktuasi harga minyak global. Brazil memiliki target untukmencapai 45-50 persen energi terbarukan dalam bauran energi total pada 2030, dan meningkat menjadi setidaknya 75 persen pada 2050 yang tertuang dalam PNE 2050 atau Plano Nacional de Energia 2050.

Sementara itu, Jerman menerapkan prinsip desentralisasi energi melalui kebijakan Energiewende. Mereka memberdayakan komunitas warga dan petani untuk membangun pembangkit listrik lokal sehingga pasokan energi tersebar merata di seluruh negeri.

Menurut data dari Renewable Energies Agency (AEE) Jerman, sekitar 30-40 persen dari seluruh kapasitas energi terbarukan di Jerman dimiliki oleh kelompok individu, petani dan koperasi warga, bukan oleh perusahaan listrik raksasa dan ini menjadikan mereka tangguh menghadapi guncangan luar.

Sistem ini sangat memungkinkan untuk diadopsi di Indonesia. Sebenarnya sudah banyak contoh-contoh desa mandiri energi (DME) di Indonesia. Namun, proyek-proyek ini sering kali bersifat sporadic atau terpencar-pencar, bergantung pada inisiatif para tokoh lokal, atau sekadar proyek percontohan yang tidak berkelanjutan. Perlu untuk menjadikan ini sebagai kebijakan nasional yang mengikat, seperti Energiewende di Jerman atau Renova Bio di Brasil.

Relevansi penggabungan kedua pilar tersebut ada pada konsepresiliensi berlapis. Dalam model desentralisasi yang terdiversifikasi, energi tidak lagi menjadi komoditas impor yang mahal, melainkan menjadi aset lokal yang diolah di tempat dan digunakan di tempat. Memang benar ini butuh pekerjaan yang sangat besar dan tidak bisa dilakukan secara instan.

Dibutuhkan investasi awal yang masif, kerja keras dalam pengembangan sumber daya manusia lokal, serta kemauan politik untuk mengalihkan subsidi fosil keinfrastruktur hijau. Namun, ini adalah satu-satunya jalan keluar untuk memastikan kedaulatan energi Indonesia di masa depan.

*Dosen Teknik Kimia UMS



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026