Solo (ANTARA) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk diberikan kepada pemerintah terkait industri mebel.
Ketua Umum Himki Abdul Sobur pada Rakernas Himki 2025 di Solo, Jawa Tengah, Kamis mengatakan tiga rekomendasi strategis Himki untuk pemerintah tersebut salah satunya kebijakan pro-industri dan pro-ekspor.
Selain itu juga peningkatan daya saing, seperti teknologi, talenta, dan desain. Rekomendasi lain adalah ekspansi pasar global dan konsolidasi distribusi.
Dengan dukungan itu, ia berpendapat target ekspor 6 miliar dolar AS pada 2030 dan 10 miliar dolar AS pada 2045 adalah sangat realistis.
"Jika pemerintah memberi kami karpet merah, kami siap mengibarkan karpet merah putih di pasar dunia," katanya.
Ia mengatakan Himki juga berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah untuk menegakkan kedaulatan industri, memperluas lapangan kerja, dan memenangkan pertempuran ekonomi global dari Indonesia menuju dunia.
Sementara itu, ia mengatakan industri mebel dan kerajinan tetap menjadi tulang punggung ekonomi kreatif Indonesia, menyerap lebih dari 2,1 juta tenaga kerja dan menopang UMKM di seluruh daerah.
Namun, menurut dia tanpa keberpihakan pemerintah yang kuat, Indonesia terancam makin tertinggal dalam persaingan global yang semakin agresif.
"Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Kami meminta kesempatan yang sama untuk bersaing di pasar global yang tidak lagi fair," katanya.
Pada kesempatan itu, ia juga merasa optimistis dengan ekonomi kreatif Indonesia. Ia mengatakan Indonesia unggul dalam kreativitas berbasis budaya.
"Diferensiasi yang tidak bisa ditiru negara lain. Desain dan craft adalah DNA bangsa ini. Kita punya cerita, identitas, dan jiwa yang diakui dunia," katanya.
Oleh katena itu, pihaknya mendorong Center of Design Excellence untuk ekspor kreatif, branding kuat Made in Indonesia, dan kolaborasi desain industri di setiap daerah," katanya.

