Demak (ANTARA) - Anggota Perhimpunan Pemangku Makam Auliya (PPMA) se-Indonesia menghadiri tradisi buka luwur atau penggantian kain penutup makam Sultan Raden Fattah di kompleks Masjid Agung Demak, sebagai dukungan merawat warisan para wali dan menjaga tradisi keagamaan turun-temurun, Rabu.
Kegiatan tersebut diawali silaturahmi nasional PPMA di Pendopo Kabupaten Demak dan dilanjutkan kirab prosesi buka luwur bersama jajaran pemerintah daerah serta takmir Masjid Agung Demak dari Pendopo Kabupaten Demak menuju makam di kompleks Masjid Agung Demak, Jawa Tengah.
Ketua PPMA Indonesia M. Zaenuri di Demak, menegaskan pentingnya pelestarian warisan dari para wali, baik yang bersifat fisik (tangible heritage) maupun nonfisik (intangible heritage). Sedangkan peninggalan kasat mata seperti Masjid Agung Demak dan makam Sultan Raden Fattah harus dirawat sesuai regulasi cagar budaya.
"PPMA mendorong seluruh pemangku makam untuk selalu berkonsultasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Tengah agar warisan kasat mata ini tetap terjaga dan lestari. Pelestarian tidak hanya berhenti pada bangunan dan situs sejarah, tetapi juga pada nilai budaya, pranata sosial, serta khazanah manuskrip keilmuan para ulama masa lalu," ujarnya.
Zaenuri menyampaikan saat ini telah terdata sekitar 330 makam aulia yang menjadi bagian penting perjalanan dakwah Islam di Nusantara.
"Para aulia dahulu menyebarkan Islam dengan hikmah dan menjadikan Islam yang toleran. Nilai-nilai itulah yang harus terus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat masa kini," ujarnya.
Dalam rangkaian acara juga digelar pameran pusaka dan manuskrip (turos) para ulama terdahulu. Misal, di Kudus telah dihimpun sekitar 80 manuskrip kiai zaman dahulu yang menjadi jejak perkembangan ilmu dan dakwah. Sehingga Demak dapat mengembangkan hal serupa sebagai pijakan penguatan literasi sejarah.
Sementara itu, Bupati Demak Eisti'anah menyampaikan apresiasi atas kehadiran anggota PPMA dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan tradisi buka luwur sekaligus haul ke-523 Sultan Raden Fattah.
"Ini bentuk kolaborasi dan tanggung jawab kita sebagai generasi penerus untuk menjaga perjuangan beliau, pendiri kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa," ujarnya.
Menurut dia tradisi buka luwur bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi momentum merawat sejarah dan budaya yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
"Sinergi pemerintah daerah, takmir masjid, PPMA, dan seluruh elemen masyarakat harus terus diperkuat untuk menjaga kelestarian budaya Islam dan memberikan kenyamanan bagi para peziarah. Pelestarian warisan Sultan Raden Fattah harapannya juga dapat memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat serta meningkatkan kunjungan wisata religi di Demak," ujarnya.
Nadzir Masjid Agung Demak Ali Musthofa menambahkan prosesi buka luwur atau pergantian kelambu penutup makam Sultan Raden Fattah yang digelar di kompleks Masjid Agung Demak menjadi momentum untuk meneladani perjuangan pendiri Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa tersebut.
Ia mengatakan tradisi pergantian kelambu makam dilakukan secara rutin setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan pengingat perjuangan besar Sultan Fattah dalam menyebarkan Islam dan mempertahankan kedaulatan dari ancaman Portugis.
"Sebagai penerus, kita hadir untuk menghormati para leluhur. Ini pengingat perjuangan menyebarkan agama Islam dan mengusir penjajah Portugis. Kita punya fungsi dan peran masing-masing," ujarnya.
Menurut dia terdapat beberapa amanah penting yang harus dirawat generasi penerus dari nilai-nilai kepemimpinan Sultan Fattah, di antaranya merawat dan menjaga makam para aulia, termasuk makam Sultan Fattah dan keluarganya. Meneladani perjuangan dan keteladanan masa lalu, menjunjung tinggi nilai kebenaran, keadilan, dan persaudaraan dalam setiap keputusan kepemimpinan.
Selain itu, kata dia, mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan umat, membangun kepekaan sosial dengan memperhatikan kesejahteraan masyarakat, menjalankan prinsip amar makruf nahi munkar, dan menegakkan kebenaran serta meningkatkan ketakwaan.
Baca juga: Kudus wisuda sekolah lansia komitmen bangun masyarakat berdaya

