Logo Header Antaranews Jateng

Kompetisi Sepak Bola Liga Desa, calon kompetisi dengan tim terbanyak di dunia

Jumat, 21 November 2025 07:42 WIB
Image Print
Ilustrasi - kantor federasi sepak bola dunia (FIFA). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa/aa.

Semarang (ANTARA) - Sepak bola adalah olahraga paling banyak penggemar di dunia, termasuklah di Indonesia. Banyak harapan dari 165,48 juta penggemar olahraga kulit bundar ini di Indonesia agar berprestasi di kancah regional maupun internasional.

Salah satu yang sempat memunculkan asa adalah ketika timnas mengikuti seleksi menuju Piala Dunia Tahun 2026. Sebuah ajang tertinggi kasta olahraga sepak bola sejagad raya.

Namun semua sudah tahu hasilnya. Mimpi yang tinggal selangkah lagi itu harus dikubur dalam-dalam. Dengan harapan pada edisi Piala Dunia berikutnya, Indonesia bisa menjadi salah satu kontestan.

Sementara itu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi membuat Kompetisi Liga Desa. Kick off-nya dimulai di Lapangan Desa Banyubiru, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Kamis (20/11). Pesertanya tidak tanggung-tanggung, 7.810 desa se-Jateng.

Tahun depan malah bakal lebih banyak lagi. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Yandri Susanto menyebut Kompetisi Sepak Bola Liga Desa bakal menjadi kompetisi dengan jumlah peserta terbanyak di dunia.

Ia optimistis tahun depan 75 ribu desa akan ikut serta. Anggaplah satu desa menyiapkan 20 pemain. Artinya, setidaknya ada 1,5 juta pemain sepak bola di tingkat desa yang akan terlibat. Belum lagi tenaga pendamping setiap tim. Wasit, asisten wasit serta pengawas lapangan di tiap pertandingan.

Desa pun berbenah. Membangun lapangan sepak bola berkualitas standar. Menyiapkan talenta-talenta muda untuk kompetisi tahun-tahun berikutnya. Bukan tidak mungkin, dari kompetisi ini menjadi salah satu cara desa menyalurkan talenta muda berbakat ke ajang yang lebih profesional serta menguntungkan secara ekonomis.

Setiap kompetisi sepak bola di desa, sudah dipastikan bakal padat penonton. Ini juga menjadi salah satu peluang menambah pendapatan para pelaku UMKM. Selain ikut membantu menggerakkan ekonomi lokal.

Selain padat penonton, yang perlu diperhatikan tentu saja potensi keriuhan antar pendukung desa. Bukan rahasia umum, ketidakpuasan di pinggir maupun tengah lapangan, bisa berakibat ricuh. Sepak bola yang niatnya untuk menyajikan sportifitas dan hiburan, dapat berujung dengan ketidaknyamanan dan ketidakamanan.

Menyikapi hal ini, tentu saja pemerintah dan aparat keamanan harus mempersiapkan dengan matang. Keinginan untuk menghasilkan bibit unggul sepak bola dari tingkat desa, dapat terwujud. Bukan malah sebaliknya.



Oleh
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026