Solo (ANTARA) - Dosen Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Sudrajah Warajati Kisnawaty, M.Gz., Dietisien., mengajak masyarakat mewaspadai kebiasaan sehari-hari yang memicu diabetes.
Sudrajah di Solo, Jawa Tengah, Jumat mengajak masyarakat lebih waspada terhadap pola hidup sehari-hari. Ia memaparkan fakta-fakta mencengangkan mengenai kondisi global dan nasional penyakit diabetes melitus.
Sudrajah menjelaskan berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) tahun 2024, terdapat sekitar 540 juta jiwa di dunia menyandang diabetes melitus. Sebagian besar dari jumlah tersebut, yaitu 90-95 persen merupakan diabetes melitus tipe 2. Ia juga menuturkan diabetes terdiri dari beberapa kategori, yakni tipe 1, tipe 2, dan gestasional.
Melihat kondisi dalam negeri, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 8,5 persen.
“Kalau dilihat angkanya mungkin nampaknya sedikit, ya, tapi ini suatu penyakit yang kalaupun ada tetap menjadi masalah,” katanya.
Angka ini pun naik signifikan dibandingkan Riskesdas 2013 yang mencatat prevalensi 6,9 persen. Menurut Sudrajah, peningkatan tersebut tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup masyarakat yang cenderung tidak sehat. Pola makan tidak sehat dengan tinggi energi, tinggi lemak, dan berpemanis menjadi penyebab terbesar diabetes melitus tipe 2.
"Makanan-makanan tersebut berkalori tinggi dan bisa meningkatkan berat badan, bahkan status gizinya bisa meningkat hingga obesitas jika tidak terkendali,” ujarnya.
Obesitas dan tingginya konsumsi makanan berkalori, berpemanis, serta berlemak dapat menurunkan sekresi hormon insulin, hormon yang berfungsi mengatur kadar glukosa darah. Ketika organ pankreas tidak dapat optimal mensekresikan hormon insulin, kadar glukosa darah meningkat dan memicu hiperglikemia.
"Jika hormon insulin tidak terproduksi secara optimal, maka glukosa dalam darah bisa meningkat. Jika kadar glukosa darah melebihi angka normal, maka sudah masuk kategori diabetes,” jelasnya.
Kebiasaan makan rendah serat, seperti jarang mengonsumsi sayur dan buah, serta gaya hidup sedentari, mulai dari aktivitas rendah hingga terlalu banyak waktu di depan layar, turut memperbesar risiko. Kebiasaan begadang dan stres, terutama pada mahasiswa, juga berkontribusi meningkatkan kadar hormon kortisol yang bersifat antagonis terhadap insulin.
Tak berhenti di situ, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol disebut menjadi penyebab utama lain yang berpengaruh terhadap produksi insulin. Salah satu pertanyaan yang sering muncul terkait kebiasaan mahasiswa adalah soal tren ngopi.
Ngopi kopi hitam tanpa tambahan, dikatakannya, justru bermanfaat karena mengandung antioksidan polifenol. Namun, kopi dapat menjadi sumber gula dan karbohidrat tinggi ketika dicampur krim, gula, sirup, atau topping manis lain. Konsumsi kopi pahit satu hingga dua cangkir per hari dinilai masih aman dan menyehatkan.
Untuk mencegah meningkatnya kasus diabetes melitus tipe 2, ia memaparkan langkah-langkah preventif berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang (PGS) Kemenkes 2014, di antaranya membatasi konsumsi gula maksimal empat sendok makan per hari, membatasi konsumsi lemak/minyak hingga lima sendok makan/hari, rutin makan minimal tiga porsi sayur dan dua porsi buah, berolahraga setidaknya 30 menit setiap hari, serta memantau berat badan sebulan sekali.
Ia mengakui peran pemerintah dalam menekan angka penderita diabetes telah dilakukan secara baik melalui sarana Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer). Di Posyandu ILP, semua kelompok usia dari balita, ibu hamil, remaja, dewasa, hingga lansia bisa memantau kesehatan, menimbang berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan atas secara gratis. Namun ia menilai, promosi kesehatan mengenai Posyandu ILP perlu ditingkatkan.
“Karena tidak semua masyarakat mengetahui manfaat Posyandu ILP. Padahal, layanan ini sangat luar biasa karena masyarakat di berbagai daerah bisa dilayani secara gratis dan memantau kesehatannya,” ujar Sudrajah.
Di akhir penjelasannya, ia menegaskan pemantauan kesehatan secara rutin memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini. Dengan demikian, ketika ditemukan penyakit tidak menular, rujukan dan penanganan dapat segera dilakukan.

