Solo (ANTARA) - Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkomitmen membangun etos kerja dan spirit kaderisasi lewat sarasehan kader yang diikuti mahasantri di Masjid Syarif Makamhaji, Kabupaten Sukoharjo, Minggu.
Kepala Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Yayuli, S.Ag., M.P.I., mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai upaya menjaga nyala etos belajar dan semangat kaderisasi di lingkungan pondok.
Sarasehan Kader kali ini menghadirkan Dr. Azaki Khoirudin, S.Pd.I., M.Pd., yang merupakan Sekretaris Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan juga merupakan alumni Pondok Shabran angkatan 2009.
Dalam sambutannya, Yayuli menyampaikan rasa bangganya atas kehadiran Azaki sebagai salah satu alumni berprestasi Pondok Shabran. Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan inspirasi dan memperkuat motivasi mahasantri dalam menapaki jalan keilmuan dan kaderisasi.
“Kami menyambut hangat kehadiran Dr. Azaki Khoirudin, S.Pd.I., M.Pd., semoga melalui sarasehan ini para mahasantri dapat memperoleh banyak manfaat dan semangat baru dalam mengembangkan etos profetik di bidang keilmuan,” katanya.
Mengawali materinya, Dr. Azaki Khoirudin, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan pesan inspiratif kepada para mahasantri.
“Masa depan anda tergantung pada apa yang anda lakukan hari ini. Kalau anda bingung masa depan anda akan seperti apa, lihatlah apa yang sedang anda kerjakan sekarang, karena kehidupan itu memiliki pola replikasi yang berulang. Maka, jadilah pribadi yang all out dalam menekuni bidang apa pun,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengenang masa-masa ketika masih menempuh pendidikan di Pondok Shabran. Menurutnya, salah satu ciri khas kader Pondok Shabran adalah semangat berorganisasi dan kecintaan terhadap literasi, terutama terhadap buku-buku terbitan Muhammadiyah.
Selain berbagi pengalaman, Azaki juga mengajak para mahasantri untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai isu kontemporer yang akan menjadi tantangan Muhammadiyah di masa depan, seperti isu lingkungan, kesehatan mental, ekonomi, hingga meningkatnya fenomena agnostisisme dan ateisme.
“Kelak, para mahasantri inilah yang akan menjadi penerus estafet kepemimpinan Muhammadiyah, baik di tingkat ranting, cabang, daerah, wilayah, maupun pusat. Muhammadiyah membutuhkan generasi penerus yang siap menjadi the next Haedar Nashir, Zakiyyudin Baidhowi, dan Abdul Mu’ti,” katanya.
Kegiatan Sarasehan Kader ini diharapkan dapat menumbuhkan kembali semangat belajar, membaca, dan berorganisasi di kalangan mahasantri Pondok Shabran UMS, serta memperkuat komitmen mereka sebagai kader unggul persyarikatan di masa mendatang.

