Sukoharjo (ANTARA) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) Solo Raya menyebut sampai dengan saat ini sektor teknologi masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pelaku usaha khususnya skala menengah ke bawah.
Pada Musda Himki di Hotel Grand Mercure Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa, Haryanta yang kembali terpilih sebagai Ketua DPD Himki Solo Raya untuk periode 2025-2028 secara aklamasi mengatakan akan segera menyelesaikan kendala tersebut.
Ia mengatakan salah satu yang dilakukan adalah mendorong para pelaku usaha mebel untuk mengenal teknologi.
“Jadi harus meningkatkan produktivitas. Teknologi kami pakai pelan-pelan, dari tahun ke tahun mestinya produktivitas teman-teman Himki Solo Raya akan meningkat,” katanya.
Ia mengatakan penggunaan teknologi ini penting, apalagi sekitar 90 persen pelaku usaha mebel di Solo Raya sudah melakukan ekspor.
“Itu baik dari skala besar, menengah, maupun kecil. Kalau teman-teman yang skala besar sudah pakai teknologi. Jadi menengah ke bawah juga harus mulai berteknologi,” katanya.
Dengan menggunakan teknologi dalam memproduksi barang, diharapkan tidak lagi terjadi waktu penyelesaian pesanan yang mundur karena produksi dilakukan secara manual.
“Selama ini kan kadang gembor-gembor pameran, pulang dapat order tapi lama jadinya. Terus kena komplain karena pengiriman jadi terlambat. Kalau pakai teknologi bisa tepat waktu kirimnya,” katanya.
Oleh karena itu, ia akan fokus pada peningkatan produktivitas dan efektivitas kerja anggota melalui adopsi teknologi ke depan. Ia mengakui, baru sekitar 20 persen anggota Himki yang menggunakan teknologi dalam usahanya.
"Saat ini banyak tantangan, termasuk tarif dari Amerika. Kita harus selalu mengedepankan potensi, termasuk harus masuk ke teknologi,” katanya.

