Solo (ANTARA) - Rektor ISI Surakarta Dr. Bondet Wrahatnala, S. Sos., M. Sn. komitmen mengusung tagline kolabodatif pada kepemimpinannya untuk tahun 2025-2029.
“Ada satu tagline yang nanti saya jadikan pegangan atau acuan untuk melangkah lebih jauh yaitu aksi kolabodatif, merupakan kependekan dari akselerasi, transformasi, dan hilirisasi melalui kolaborasi yang berdampak dan adaptif,” katanya di Solo, Jawa Tengah, Selasa.
Ia mengatakan sesuai dengan pesan dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, perguruan tinggi di Indonesia harus bertransformasi.
“Harus lebih adaptif merespon kemajuan teknologi, karena ISI Surakarta juga masuk di lingkup Kemendiktisaintek maka kita juga harus melakukan transformasi tersebut,” katanya.
Ia mengatakan kata kunci dari implikasi tersebut adalah transformasi, hilirisasi, berdampak, dan adaptif.
“Strategi kepemimpinan ini yang coba saya tawarkan dalam bentuk transformasi yang lebih akseleratif karena memang ISI Surakarta sudah banyak melakukan transformasi termasuk bagaimana penyesuaian kurikulum, pengembangan di wilayah riset, pengabdian, dan kegiatan lain,” katanya.
Meski demikian, ia berkomitmen untuk mempercepat akselerasi transformasi tersebut.
“Kami akan lebih lari, tidak serta merta lari tanpa pegangan. Yang awal kami lakukan adalah identifikasi terkait isu atau permasalahan yang ada secara internal. Apa saja yang harus dibenahi termasuk regulasi yang akan jadi pegangan dalam melakukan akselerasi transformasi, termasuk hilirisasi akan kami benahi semua,” katanya.
Ia juga menargetkan ISI Surakarta ke depan tidak hanya dikenal di Solo dan sekitarnya tetapi akan lebih luas.
“Kami ingin lebih terbuka, lebih inklusif. Harus go nasional dan internasional. Ini tekad saya. Hal positif terus kami pompa agar karya tidak hanya berhenti di laporan penelitian saja. Laporan penelitian yang disimpan di perpustakaan tidak ada gunanya jika tidak memberikan dampak signifikan kepada masyarakat,” katanya.
Ke depan, ia akan melakukan coba melakukan rekognisi agar penelitian-penelitian yang sudah dilakukan oleh civitas akademika ISI Surakarta bisa berdampak langsung bagi masyarakat.
“Perlu kolaborasi di sini, baik dari dunia akademisi, pemerintah, komunitas, industri, dan media,” katanya.

