
Dosen UMS soroti seringnya frekuensi banjir di Joglo

Solo (ANTARA) - Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Assoc. Prof. Zilhardi Idris, Ir., MT., DR., menyoroti seringnya frekuensi banjir yang terjadi di kawasan lintas bawah Joglo Solo, Jawa Tengah.
Zilhardi di Solo, Selasa mengatakan banjir yang seringkali terjadi di kawasan tersebut bukan semata karena cuaca ekstrem tapi juga tentang perencanaan dan pelaksanaan yang buruk.
Ia mengatakan Underpass Joglo pada mulanya ditujukan untuk mengurai kemacetan di kawasan wisata Solo. Namun pembangunan underpass Joglo menuai kritik masyarakat terlebih warga sekitar yang menderita akibat banjir setiap kali turun hujan.
“Air itu netral, ia hanya mengikuti gravitasi. Jadi jangan salahkan airnya, salahkan manusianya,” katanya.
Bahkan, dikatakannya, jalan lintas bawah tersebut juga sempat ditutup pada 3 April 2025 akibat genangan air dan lumpur. Zilhardi menilai pembangunan underpass yang rentan terhadap genangan menunjukkan lemahnya studi teknis, termasuk perhitungan debit air maksimum saat musim hujan ekstrem, sistem drainase, dan kolam retensi.
Menurut dia, ini bukan sekadar kesalahan teknis tapi juga kegagalan sistemik dalam perencanaan kota.
Zilhardi menyebut bahwa overpass (flyover) jauh lebih aman dibanding underpass, terutama dari sisi banjir dan keselamatan pengguna jalan.
“Estetika underpass memang lebih bersih dari pandangan mata, tapi risikonya lebih tinggi. Kalau sudah gelap, banjir, lalu mati lampu, siapa yang bertanggung jawab?” tanya Zilhardi.
Ia juga mengkritik kurangnya pelibatan akademisi lokal dalam proses perencanaan dan implementasi proyek infrastruktur.
“Di Solo ada UMS, ada pakar-pakar yang bisa dilibatkan, tapi kampus seperti kami jarang diminta masukannya. Padahal kami punya sumber daya manusia teknis dan komitmen moral,” katanya.
Terkait hal itu, ia berharap adanya mekanisme monitoring and evaluation (monev) yang serius dan melibatkan masyarakat serta akademisi.
“Kalau terus begini, kita akan mewariskan infrastruktur yang bobrok pada generasi muda. Ijazah tekniknya resmi, tapi fondasinya busuk,” katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
