Pemerintah diminta evaluasi alokasi tenaga medis hadapi lonjakan COVID-19

id tenaga medis, lonjakan kasus positif covid 19

Pemerintah diminta evaluasi alokasi tenaga medis hadapi lonjakan COVID-19

Tower 6 dan 7 Wisma Atlet untuk merawat pasien positif COVID-1.

Semarang (ANTARA) - Pemerintah diminta menerapkan strategi yang tepat dalam pengalokasian tenaga medis yang terbatas pada penanganan COVID-19 di Tanah Air.

Permintaan tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis yang diterima di Semarang, Senin (21/9) menanggapi terus bertambahnya kasus baru positif COVID-19.

Selain itu evaluasi segera langkah-langkah yang sudah dilakukan, agar kebijakan pembatasan sosial di sejumlah daerah bisa menekan lonjakan positif COVID-19 secara signifikan.

"Yang terjadi sekarang adalah meski kebijakan pembatasan sosial diterapkan di sejumlah daerah, pertambahan positif COVID-19 tetap meningkat," katanya.

Terus bertambahnya jumlah orang yang terpapar COVID-19, menurut Lestari, juga memengaruhi kondisi pertahanan terakhir pengendalian COVID-19, yaitu para tenaga kesehatan seperti dokter dan paramedis.

Contoh terkini, ungkap Rerie, sapaan akrab Lestari, saat ini relawan tenaga medis pada Rumah Sakit Khusus COVID-19 Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta sudah mulai kelelahan menangani lonjakan kasus positif COVID-19 di Ibu Kota.

Data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 mencatat tower 5 Wisma Atlet Kemayoran, yang sudah digunakan sebelumnya telah terisi sebanyak 1.497 pasien OTG atau 95,35 persen dari total kapasitas 1.570 tempat tidur.

Berdasarkan laporan hingga Senin (21/9) pukul 10.00 WIB, kapasitas yang tersisa di tower 5 tercatat 73 tempat tidur. Sehingga Satgas Penanganan COVID-19 harus membuka tower 4 dengan kapasitas 1.546 tempat tidur. 

Pada Senin (21/9) Pemerintah melaporkan 4.176 kasus baru COVID-19, sehingga total kasus terkonfirmasi saat ini mencapai 248.952 kasus semenjak virus korona mewabah di Indonesia.

Ketimpangan jumlah tenaga medis di Indonesia, ujar Rerie, menambah kendala yang dihadapi Pemerintah dalam pengendalian COVID-19 di Tanah Air.

Mengutip laman katadata.co.id, ujar Rerie, mayoritas tenaga medis, sekitar 98,9 persen ada di Pulau Jawa. Dokter dan perawat yang bertugas di luar Jawa hanya 1,1 persen atau 1.787 orang.

Tidak meratanya  jumlah tenaga kesehatan di Tanah Air, menurut Legislator Partai NasDem itu, harus diatasi dengan kebijakan yang segera agar penanganan pengendalian COVID-19 di Tanah Air yang baik bisa segera direalisasikan.

"Sejumlah daerah memang ada yang sudah berupaya merekrut tenaga kesehatan tambahan, namun bila melihat tren peningkatan jumlah positif COVID-19 yang semakin tinggi, strategi baru dalam ketersediaan tenaga kesehatan secara nasional harus segera diterapkan," ujar Rerie.

Langkah antisipatif menghadapi lonjakan kasus positif COVID-19 di Tanah Air harus segera direalisasikan, tegas Rerie, agar masyarakat tetap merasa aman di masa pandemi ini.

"Di masa krisis seperti saat ini, sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa Pemerintah saat ini mampu mengendalikan penyebaran COVID-19, tentunya dengan langkah yang tepat dan upaya yang nyata," tegas Rerie.***
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar