Baru 18 persen anak berkebutuhan khusus nikmati pendidikan inklusif

id Anak berkebutuhan khusus, pendidikan inklusif, lestari Moerdijat

Baru 18 persen anak berkebutuhan khusus nikmati pendidikan inklusif

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Dok. Pribadi

Semarang (ANTARA) - Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengingatkan pemerintah untuk berkomitmen menjalankan peta jalan (road map) pendidikan inklusif. 

Peta jalan tersebut, menurut Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis yang diterima di Semarang, Minggu, sangat penting untuk tujuan pendidikan jangka pendek, menengah, dan panjang. Selain itu agar terjadi akselerasi pada sistem pendidikan yang telah ada.

“Ada peta jalan tetapi saat ini belum ada satu payung aturan yang membuat realisasi program menjadi sebuah kewajiban. Ada empowerment, namun apabila tidak terealisasi hendaknya ada langkah-langkah yang memaksa agar pemerintah daerah dan sekolah merealisasikannya. Karena kita lihat antara program dan realisasi simpangannya cukup tinggi,"  ungkap Rerie, sapaan Lestari Moerdijat.

Saat ini dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, tambah Legislator Partai NasDem itu, baru 80 kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah yang mengatur pendidikan inklusif.

Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, mengutip data Badan Pusat Statistik pada 2017 yang mencatat 70 persen dari 1,6 juta anak berkebutuhan khusus  tidak memperoleh pendidikan yang layak.

Artinya, hanya sekitar 480.000 anak berkebutuhan khusus yang mengakses pendidikan. Dan ternyata hanya 18 persen yang menikmati pendidikan inklusif.

Secara umum pendidikan inklusif, menurut dia, adalah sistem layanan pendidikan yang mengatur agar anak berkebutuhan khusus dapat dilayani di sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya.

Selain pendidikan inklusif, Rerie juga menyoroti peta jalan sebaran guru yang berkualitas di setiap sekolah di Tanah Air.

Dia mengungkapkan bahwa pemerintah perlu menaruh perhatian yang serius terhadap langkah-langkah meningkatkan kualitas guru dan persebarannya. Upaya tersebut diyakini Rerie mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Air.

Dalam hal ini, Rerie menilai telah terjadi jurang yang cukup lebar antara sekolah favorit karena ditunjang dengan tenaga pendidik yang berkualitas, dengan sekolah pada umumnya.

“Bagaimana agar peta jalan pendidikan ini bisa terealisasi, harus ada langkah-langkah yang secara konseptual bisa menyelesaikan persoalan ini. Misalnya dengan pertukaran guru yang bagus ditempatkan di sekolah-sekolah yang biasa atau di sekolah yang memang masih membutuhkan," kata Rerie. ***
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar