Permintaan naik, produksi bata di Kudus terhalang bahan baku

id Produksi bata merah, di Kabupaten Kudus, terkendala bahan baku

Permintaan naik, produksi bata di Kudus terhalang bahan baku

Seorang pengrajin bata merah tengah membuat bata merah di Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Kamis (16/4). ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif

Kudus (ANTARA) - Sejumlah pengusaha bata merah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan baku tanah untuk pembuatan bata merah, padahal permintaan saat ini sedang meningkat.

"Selain permintaan bata merah tengah meningkat, harga jualnya juga cukup tinggi," kata Soleh, salah seorang pengusaha bata merah di Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Kamis.

Untuk harga jual bata merah per seribu biji mencapai Rp720.000 atau meningkat dibandingkan sebelumnya hanya berkisar Rp650.000.

Hanya saja, kata dia, untuk mendapatkan bahan baku, terdapat kendala karena daerah penyuplai tanah untuk bahan baku pembuatan bata merah mulai langka.

Berdasarkan informasi, daerah penyuplai seperti dari Wilayah Mayong, Kabupaten Jepara, tengah musim tanam tanaman padi sehingga tanahnya tidak bisa diambil untuk diperjualbelikan.

Akibatnya, harga jual tanah untuk bahan pembuatan bata merah juga melonjak menjadi Rp300.000 per truk dam, sedangkan sebelumnya hanya berkisar Rp220.000 per truk dam.

Harga sekam juga naik menjadi Rp1,1 juta per truk, dari sebelumnya tidak sampai Rp1 jutaan.

Meskipun demikian, lanjut dia, pengusaha bata merah tengah bersemangat memproduksi, karena stok selalu habis dibeli, bahkan banyak yang memesan.

Hal senada juga diungkapkan Arif, pembuat bata merah di Desa Pasuruan Lor, yang mengaku bata merah yang belum dibakar sudah ada yang memesan.

"Berapapun stok bata merah yang tersedia, langsung habis karena permintaan memang sedang tinggi," ujarnya.

Ia menduga karena musim saat ini memang musim pembangunan sehingga banyak pesanan yang berdatangan dari berbagai daerah.

Meski terkendala dengan ketersediaan bahan baku, cuaca saat ini justru mendukung untuk penjemuran bata yang baru dicetak, meski sempat beberapa kali turun hujan.

Jika sebelumnya proses pengeringan batu merah membutuhkan waktu hingga sepekan, kata dia, saat ini cukup tiga hari bisa kering, sehingga proses cetak bata merah bisa berlangsung secara kontinu.

Dalam sehari para pembuat bata merah mampu membuat 800 bata merah, sedangkan jumlah pekerja di setiap pemilik usaha bata merah bisa mencapai tiga hingga empat orang. 

Baca juga: Musim hujan, produksi batu bata Boyolali turun 40 persen

 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar