Kalapas Nusakambangan minta warga Jangan percayai hoaks terkait pembebasan napi

id informasi hoaks,pembebasan napi

Kalapas Nusakambangan minta warga Jangan percayai hoaks terkait pembebasan napi

Informasi hoaks terkait dengan pembebasan napi dari Lapas Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, yang beredar melalui WhatsApp. ANTARA/Sumarwoto

Purwokerto (ANTARA) - Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Batu Nusakambangan Erwedi Supriyatno meminta masyarakat Kabupaten Cilacap untuk tidak mempercayai informasi hoaks terkait dengan pembebasan napi melalui usulan asimilasi dan hak integrasi terkait dengan pencegahan dan penanggulangan penyebaran COVID-19.

"Informasi yang beredar melalui WhatsApp itu tidak benar. Kami berharap masyarakat tidak perlu cemas, waspada boleh tapi jangan fobia," katanya saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu siang.

Erwedi mengatakan hal itu kepada ANTARA saat dikonfirmasi terkait dengan informasi yang beredar melalui berbagai grup WhatsApp yang isinya meminta masyarakat Cilacap berhati-hati terhadap ratusan napi yang baru dibebaskan dari berbagai lapas di Pulau Nusakambangan dan Lapas Cilacap.

Baca juga: Presiden Jokowi: Napi korupsi tidak dibebaskan karena COVID-19

Menurut dia, napi tersebut dikeluarkan dalam rangka asimilasi di rumah masing-masing dan mereka masih punya kewajiban untuk wajib lapor tiap minggunya.

"Bagi napi yang rumahnya dekat, lapor langsung ke Bapas Nusakambangan, sedangkan rumahnya jauh bisa video call dan telepon. Mereka sebelum bebas diwajibkan memberi nomor telepon keluarga yang bisa dihubungi," kata dia yang juga Koordinator Lapas Se-Nusakambangan dan Cilacap.

Ia mengatakan apabila ada napi yang diberikan asimilasi di rumah ternyata berkeliaran, masyarakat dipersilakan melapor dan pihaknya akan tarik kembali napi tersebut dan mencabut asimilasinya.

Menurut dia, pembebasan atau pengeluaran napi tersebut sudah dilakukan sejak tanggal 1 April 2020 dan hingga saat ini belum ada kejadian seperti yang diinformasikan melalui grup WhatsApp tersebut.

"Mudah-mudahan tidak sampai terjadi. Berita tersebut sengaja ada yang menyebarkan agar masyarakat resah. Tapi kalau ada kejadian juga, jangan langsung menuduh itu perbuatan bekas napi, karena bisa saja ada masyarakat yang sengaja mengkambinghitamkan napi," ujarnya menegaskan.

Baca juga: Pakar sebut perlu mekanisme pengawasan terhadap napi yang dibebaskan
Baca juga: 2.002 napi di Jateng dikeluarkan dari lapas
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar