Jateng batasi lalu lintas ternak antisipasi zoonosis

id ternak,lalu lintas ternak,zoonosis,jateng

Jateng batasi lalu lintas ternak antisipasi zoonosis

Petugas sedang melakukan penyemprotan disinfektan terhadap ternak asal Jawa Tengah di Kecamatan Poncol yang merupakan perbatasan Jawa Timur dengan Wonogiri, Jawa Tengah. Penyemprotan itu guna mewaspadai penyakit antraks. ANTARA/Louis Rika

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan membatasi lalu lintas hewan ternak guna mengantisipasi penularan dari daerah endemik yang dapat membahayakan kesehatan manusia atau zoonosis.

"Penyakit hewan ternak menjadi prioritas pencegahan dan pemberantasannya di Jateng sehingga kita batasi keluar masuknya hewan di Jateng, bahkan di pos lalu lintas ternak yang ada di perbatasan Jateng, kita tingkatkan biosekuriti," kata Kepala Disnak Keswan Provinsi Jateng Lalu Muhammad Syafriadi di Semarang, Rabu.

Baca juga: Pemkab Kebumen Sosialisasikan Pencegahan Zoonosis

Ia menyebutkan Kementerian Pertanian telah menetapkan 25 penyakit prioritas yang terasuk dalam penyakit hewan menular strategis (PHMS) dan dari daftar prioritas itu, terdapat lima jenis penyakit yang menjadi perhatian khusus yakni rabies, antraks, flu burung, brucellosis, dan hog cholera.

Menurut dia, penyakit itu menyebar dengan sangat cepat, bahkan menyebabkan kematian yang juga cepat pada hewan dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi.

Penolakan terhadap masuknya hewan, produk hewan (daging segar maupun olahan, red), kata dia, juga dilakukan secara masif dengan memaksimalkan deteksi dini, pelaporan dini, dan tindakan dini.

Selain itu, dilakukan pemantauan dan pemberian tambahan vaksinasi secara intensif secara internal maupun di rumah-rumah pemotongan hewan dan peternakan.

Lalu mengungkapkan, baru-baru ini juga sedang mewabah di dunia beberapa penyakit yang bersumber dari hewan seperti penyakit demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF).

Penyakit demam babi Afrika bahkan sudah masuk pada beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara.

Baca juga: Kenali cacar monyet, beda dengan cacar air

Walaupun penyakit ASF tidak menular ke manusia namun menyebabkan kematian pada ternak sampai 100 persen dan sampai saat ini belum ada vaksin ataupun obat khusus sehingga hal tersebut dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi.
 
"Mewabahnya zoonosis ini ditengarai sebagai dampak adanya degradasi ekosistem, pemanasan global dan urbanisasi penduduk yang progresif. Pemicu utama wabah zoonosis lainnya adalah munculnya pertumbuhan yang cepat dari populasi manusia dan satwa, serta semakin mendekatnya kontak hewan domestik dengan satwa liar dan produk-produknya yang menyebabkan insiden zoonosis meningkat," katanya.

Selain itu, dengan adanya pola hidup yang tidak ramah lingkungan akan mempercepat terjadinya wabah zoonosis di daerah.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wabah zoonosis dapat berpotensi menyebar dan meluas antar negara dan antarkawasan regional yang disebut pandemi.



 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar