Belum layak dikonsumsi, pengembangan bawang putih di Jateng sebatas pembenihan

id Pemprov Jateng, pengembangan bawang putih

Belum layak dikonsumsi, pengembangan bawang putih di Jateng sebatas pembenihan

Masyarakat antre membeli bawang putih pada kegiatan operasi pasar di Pasar Gede Solo. ANTARA/Aris Wasita

Solo (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan pengembangan pertanian komoditas bawang putih di beberapa daerah baru sebatas untuk program pembenihan sehingga belum layak untuk dikonsumsi.

"Kalau mengenai pengembangan bawang putih ini memang sebetulnya sejak beberapa tahun terakhir sudah dilakukan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah Suryo Banendro di sela operasi pasar bawang putih di Pasar Gede Solo, Kamis.

Bahkan, dikatakannya, secara nasional Jawa Tengah menjadi salah satu sentra pertanian bawang putih. Beberapa daerah yang saat ini tengah mengembangkan pertanian komoditas tersebut di antaranya Temanggung, Karanganyar, Magelang, Wonosobo, Batang, dan Tegal.

Baca juga: Stok aman, harga bawang putih di Jateng berangsur normal

"Namun perlu diingat bahwa Jateng masih dominan untuk perbenihan untuk kemudian ditanam di Sulawesi Utara, Jawa Barat, NTB, Jawa Timur, dan Sumatera Barat. Daerah-daerah ini memang harus dibantu," katanya.

Ia mengatakan produksi yang sengaja digunakan untuk benih sudah dilindungi dari hama penyakit sehingga tidak layak dikonsumsi.

"Untuk panen sendiri akan dilakukan sekitar bulan Maret-April dengan luas lahan 2.384 hektar. Bahkan saat ini di Banjarnegara ada stok sekitar 20 ton tetapi juga kualitas benih," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jateng M Arif Sambodo mengakui pada bulan Januari-Februari distribusi bawang putih yang sebagian besar impor mengalami perlambatan distribusi.

"Impor kan dari China. Ada dua kejadian yang menyebabkan bongkar muat tidak optimal, yaitu Imlek dan isu corona. Katanya sempat terhenti ternyata kan tidak masalah. Ini yang menyebabkan jumlah distribusi bawang putih menurun," katanya.

Baca juga: Kurangi impor, pemerintah perlu optimalkan budi daya bawang putih

Bahkan, dikatakannya, rekomendasi impor sudah terbit untuk pengiriman awal bulan Maret. Selain itu, menurut dia, stok yang dipesan sudah mulai beredar di pasaran.

"Ditambah dengan stok baru nanti insya Allah kembali normal. Terbukti harga yang awalnya menyentuh Rp60.000/kg, di Solo sudah sekitar Rp45.000/kg. Ditambah dengan kegiatan operasi pasar ini harapannya dalam waktu dekat kembali ke angka normal, yaitu Rp30.000-35.000/kg," katanya.

Mengenai kebutuhan bawang putih di Jawa Tengah sendiri, dikatakannya, saat ini mencapai sekitar 8.000-10.000 ton/bulan. Sedangkan secara nasional di kisaran 47.000 ton/bulan.

Baca juga: Operasi pasar bawang putih siap digelar di Batang
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar