Studi: Kapitalisme lebih mendatangkan mudarat daripada manfaat

id edelman,fukuyama,kapitalisme

Studi: Kapitalisme lebih mendatangkan mudarat daripada manfaat

Aktivis terlihat berada di balik tenda mereka setelah menginap di Lapangan Finsbury, London, Inggris, Minggu (23/10). Pengunjuk rasa anti-kapitalis membangun tempat perkemahan kedua di distrik keuangan London Sabtu kemarin, setelah perkemahan pertama yang mereka bangun minggu lalu telah memaksa tutupnya Katedral St. Paul. ANTARA/REUTERS/Chris Helg

London (ANTARA) - Mayoritas masyarakat seluruh dunia yakin kapitalisme dalam bentuk kekiniannya mendatangkan lebih banyak mudarat ketimbang manfaat, demikian sebuah survei yang dikeluarkan menjelang pertemuan para pemimpin politik dan ekonomi di Davos pekan ini.

Tahun ini adalah yang pertama kali "Edelman Trust Barometer", yang selama 2 dekade menanyai puluhan ribu orang tentang kepercayaan mereka pada lembaga-lembaga inti, berusaha memahami bagaimana kapitalisme itu sendiri dipahami.

Para peneliti itu mengatakan bahwa survei-survei sebelumnya menunjukkan perasaan ketimpangan yang meningkat yang menyebabkan mereka bertanya apakah warga negara sekarang mulai memiliki keraguan yang lebih mendasar terhadap negara-negara demokrasi Barat yang berlandaskan kapitalisme.

"Jawabnya, ya," David Bersoff, kepala peneliti pada studi yang dihasilkan oleh perusahaan komunikasi AS Edelman.

"Orang-orang sedang mempertanyakan pada tingkat apakah apa yang kita miliki saat ini, dan dunia yang kita tempati saat ini, memberi harapan bagi masa depan mereka yang baik."

Baca juga: Basarah: Indonesia Dijajah Kapitalisme Global

Jajak pendapat itu melibatkan lebih dari 34.000 orang di 28 negara, dari negara demokrasi liberal seperti AS dan Prancis hingga negara yang didasarkan pada model yang berbeda seperti China dan Rusia, dengan 56 persen setuju bahwa "kapitalisme sebagaimana adanya saat ini lebih mendatangkan mudarat ketimbang manfaatnya di dunia".

Survei itu diluncurkn pada 2000 untuk menggali teori-teori ilmuwan politik Francis Fukuyama, yang setelah tumbangnya komunisme menyatakan bahwa demokrasi kapitalis liberal tak lagi memiliki pesaing ideologi dan dengan demikian memunculkan "akhir sejarah".

Kesimpulan itu ditentang oleh kritikus yang merujuk pada segala hal mulai dari pengaruh China yang meningkat hingga merebaknya para pemimpin otoktarik, proteksionisme perdagangan, dan ketimpangan yang memburuk dalam krisis keuangan global pada 2007/2008.

Pada tataran nasional, kurangnya kepercayaan pada kapitalisme di Thailand dan India masing-masing mencapai 75 persen dan 74 persen, dengan Prancis di belakangnya mencapai 69 persen. Sebagian besar orang yang tak percaya kepada kapitalisme itu berlaku di negara-negara Asia lain, Eropa, Teluk, Afrika, dan Amerika Latin.

Hanya di Australia, Kanada, AS Korsel, Hong Kong, dan Jepang yang mayoritas warganya tak setuju dengan pendapat bahwa kapitalisme saat ini lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.

Baca juga: Surya Paloh: Indonesia negara kapitalis liberal

Sumber : Reuters

 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar