Penyandang disabilitas tak inginkan diekslusifkan

id disabilitas, ganjar,semarang

Penyandang disabilitas tak inginkan diekslusifkan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berbincang dengan penyandang disabilitas tunanetra yang sebelumnya tampil sebagai vokalis pada peringatan Hari Disabilitas Internasional di Semarang, Rabu. (Foto: Nur Istibsaroh)

Semarang (ANTARA) - Para penyandang disabilitas mengaku tidak ingin menjadi diekslusifkan, karena mereka ingin berbaur seperti masyarakat yang lain serta mendapatkan kesetaraan dalam banyak hal.

"Stigma yang ada selama ini adalah ekslusif dan kami ingin mengubah stigma itu. Kami ingin berbaur dengan yang lain dalam banyak hal baik itu kesehatan, pendidikan, kesempatan kerja, sosialisasi, hak, bahkan kewajiban," kata Didik Sugiyanto (36) pengurus Komunitas Sahabat Difabel Semarang.

Hal tersebut disampaikan Didik di sela acara peringatan Hari Disabilitas Internasional ke 27 tingkat Provinsi Jateng di Gedung Wanita, Kota Semarang, Rabu.

Ayah satu anak ini menegaskan bahwa tidak hanya kesamaan hak, tetapi juga kewajiban karena mereka ingin ikut berpartisipasi dalam pembangunan untuk negara.

Baca juga: Fasilitas publik ramah difabel perlu diperbanyak

Untuk terus menggaungkan keinginan adanya kesetaraan tersebut, lanjut Didik, setiap peringatan Hari Disabilitas Internasional selalu dibacakan Ikrar Penyandang Disabilitas.

Ada lima poin pada Ikrar Penyandang Disabilitas tersebut yakni yang pertama; penyandang disabilitas bertekad bulat untuk ikut aktif menghayati, mengamalkan, dan mengamankan Pancasila dan UUD 1945 dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kedua; penyandang disabilitas bertekad bulat memupuk, memantapkan persatuan, dan kesatuan bangsa dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila.

Ketiga; penyandang disabilitas bertekad dan berkeyakinan bahwa kedisabilitasan bukan untuk dikasihani, tetapi diberi kesempatan dan peluang yang sama untuk berkarya dan berprestasi.

Keempat; penyandang disabilitas tidak ingin dan tidak menghendaki ditempatkan sebagai kelompok sosial tersendiri dan menjadi beban pemerintah dan masyarakat.

Kelima; penyandang disabilitas dengan bimbingan Tuhan yang Maha Esa serta bantuan pemerintah dan masyarakat bertekad untuk tetap berusaha menjadi manusia yang berkarya produktif berdiri sendiri dan ikut aktif berpartisipasi dalam pembangunan bangsa dan negara.

"Kenapa kami selalu membacakan ikrar tersebut, karena kami ingin terus mengingatkan kepada pemerintah dan masyarakat luas bahwa kami pun ingin hidup mandiri," demikian Didik Sugiyanto.

Peringatan Hari Disabilitas Internasional tersebut dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dimeriahkan penampilan para penyandang disabilitas mulai dari mc, tarian, menyanyi, serta pameran buah karya para penyandang disabilitas dari berbagai daerah di Jateng.(Kom)

Baca juga: Peringati HDI, warga disabilitas Solo bagikan ratusan paket makanan
Baca juga: Hasilkan karya, pelukis Sabar Subadri menolak disebut penyandang disabilitas
Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar